Bermula dari dapur rumahan di Kota Bogor, usaha olahan ikan bernama Miwiti tumbuh dari perjalanan panjang penuh tantangan. Usaha ini kini berkembang tidak hanya sebagai sumber penghidupan keluarga, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan dan harapan bagi masyarakat sekitar.
Kisah Miwiti bukan sekadar tentang produk olahan ikan, tetapi menjadi jejak perjalanan seorang perempuan yang berani memulai dari keterbatasan. Melalui keikutsertaannya dalam program pembinaan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ia menunjukkan bagaimana sektor kelautan dan perikanan dapat membuka peluang ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Robingah, yang akrab disapa Bu Robi, adalah sosok dibalik usaha jasaboga Miwiti yang telah ia rintis sejak tahun 2011 silam. Lulusan kampus ternama dengan pengalaman di sektor formal bergengsi ini memutuskan untuk berhenti dan fokus mengurus keluarga. Namun, keputusan tersebut tidak serta merta mendatangkan kemudahan.
Ia sempat merintis usaha konveksi cukup lama, sebelum akhirnya menghadapi masa sulit. Dalam kondisi tersebut, ia bahkan harus berhemat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari titik itulah, semangat dan keberaniannya tumbuh melalui Miwiti. Awalnya, ia mengolah tahu bakso berbahan dasar daging sapi. Seiring berjalannya waktu, ia pun membuka peluang baru dengan menggunakan ikan sebagai bahan utama berdasarkan masukan dari para pelanggan.
“Awalnya, kita dengan tahu bakso sapi pas awal. Nah, tapi semakin ke sini setelah kita jadi binaan Kementerian Kelautan dan Perikanan, kita mulai tuh dari situ punya olahan ikan,” jelas Bu Robi.
Melalui program inkubasi KKP, Bu Robi mendapatkan pendampingan mengenai teknik pengolahan, pengendalian mutu, hingga manajemen usaha. Melalui proses tersebut, lahirlah berbagai inovasi produk berbasis ikan, seperti tahu bakso ikan, dimsum, batagor, pempek, hingga bakso ikan.
Nama “Miwiti” sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang berarti “mengawali”, nama ini menjadi pengingat akan langkah awal perjalanan usaha yang dimulai dari langkah kecil penuh dengan keberanian sang pemilik usaha. Dibalik eksistensinya, Bu Robi tetap melibatkan konsumen sebagai verifikator rasa dan kualitas.
Dalam praktiknya, Bu Robi menjaga kualitas produk dengan menggunakan bahan baku ikan segar, seperti ikan tenggiri dan barakuda. Proses produksi dilakukan secara bertahap, mulai dari pengolahan bahan hingga pengemasan, dengan memperhatikan standar kebersihan dan mutu.
Selain menjaga kualitas, strategi pemasaran Miwiti juga berkembang. Kini produk Miwiti telah dipasarkan melalui berbagai platform digital dan layanan pesan antar, setelah sebelumnya mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut.
Melalui program inkubasi ini juga, pengelolaan keuangan Miwiti dapat dilakukan dengan lebih optimal, seperti pemisahan antara keuangan pribadi dan usaha, serta pencatatan yang lebih terstruktur.
Seiring berkembangnya usaha, Miwiti tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi keluarga Robingah, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Bagi para pekerja, keberadaan usaha ini memberikan kesempatan untuk memperoleh penghasilan tambahan sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Alhamdulillah, selama bekerja di sini merasa nyaman. Senang soalnya di sini itu seperti keluarga. Alhamdulillah, bisa menambah keuangan keluarga,” tutur Rara, salah satu karyawan Miwiti.
Di sisi lain, Miwiti juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda. Melalui kolaborasi dengan mahasiswa, usaha ini turut berkontribusi dalam pengembangan kewirausahaan berbasis praktik langsung di lapangan.
Upaya inovasi terus dilakukan, termasuk menyesuaikan produk dengan selera pasar yang lebih luas, seperti generasi muda. Berbagai pengembangan menu dan kemasan dilakukan agar produk olahan ikan dapat diterima oleh berbagai kalangan.
Ke depan, Bu Robi memiliki harapan untuk mengembangkan Miwiti menjadi pusat oleh-oleh khas Bogor yang berbasis olahan ikan. Harapan ini sejalan dengan upaya memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkuat identitas produk lokal.
Perjalanan Miwiti menjadi bukti bahwa usaha besar dapat tumbuh dari langkah kecil. Dari dapur sederhana di Bogor, olahan ikan rumahan ini tidak hanya menghadirkan cita rasa, tetapi juga menumbuhkan harapan bagi keluarga, lingkungan sekitar, dan masa depan ekonomi yang lebih inklusif.
Penulis: Azrin Sabrina Aulia
Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri