JAKARTA, 28 Juli 2026 – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengukuhkan 1.853 lulusan Pendidikan Tinggi Vokasi Tahun Akademik 2025/2026. Para lulusan disiapkan untuk menjawab kebutuhan tenaga terampil di sektor kelautan dan perikanan, sekaligus memperkuat pengembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Wisuda nasional ini tidak hanya menjadi penanda selesainya pendidikan, tetapi juga momentum untuk mengukur kesiapan lulusan memasuki dunia kerja dan mengubah kompetensi menjadi solusi nyata bagi sektor kelautan dan perikanan.
Sebanyak 432 lulusan pun telah terserap di dunia kerja maupun mengembangkan usaha mandiri. Mereka bekerja di industri kelautan dan perikanan dalam negeri, merintis usaha di bidang budi daya, pengolahan, dan pemasaran hasil perikanan, hingga memperoleh kesempatan bekerja di luar negeri sebagai tenaga teknis dan engineer.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf, menilai keberhasilan pembangunan sektor kelautan tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas manusia yang mengelolanya.
“Laut yang kaya tidak akan mampu menghadirkan kesejahteraan apabila tidak dikelola oleh insan-insan yang memiliki kompetensi, integritas, inovasi, dan kepedulian terhadap keberlanjutan,” tegas Didit.
Menurutnya, kebutuhan terhadap SDM kelautan dan perikanan akan terus meningkat seiring pengembangan berbagai program prioritas pemerintah. Karena itu, pendidikan vokasi perlu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP), I Nyoman Radiarta, mengatakan penguatan pendidikan vokasi dilakukan melalui penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja, pembelajaran berbasis praktik, sertifikasi kompetensi, serta perluasan kemitraan dengan industri.
Langkah tersebut diperkuat melalui transformasi pendidikan tinggi vokasi dengan peluncuran Institut Kelautan Indonesia atau Ocean Institute of Indonesia (OII). Transformasi ini diarahkan untuk membangun pendidikan yang lebih terintegrasi, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mampu menghasilkan lulusan yang siap bekerja maupun berwirausaha.
Pendidikan vokasi KKP juga menjadi ruang peningkatan kapasitas bagi keluarga pelaku utama sektor kelautan dan perikanan. Dari 6.269 mahasiswa aktif, sebanyak 5.398 mahasiswa atau 86,11 persen merupakan anak nelayan, pembudi daya ikan, pengolah dan pemasar hasil perikanan, serta petambak garam.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak hanya menyiapkan tenaga kerja, tetapi juga membuka peluang mobilitas sosial dan mendorong lahirnya generasi baru yang dapat membawa inovasi serta nilai tambah bagi daerah pesisir.
Dengan bekal kompetensi, pengalaman praktik, portofolio, dan sertifikasi, para lulusan diharapkan mampu memperkuat produktivitas, menciptakan peluang usaha, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat.
“Wisuda bukan akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus berkarya dan mengabdi. Kompetensi harus diwujudkan menjadi manfaat yang dapat dirasakan masyarakat,” ujar Nyoman.
Melalui 1.853 lulusan baru ini, KKP berharap semakin banyak talenta muda yang tidak hanya mengisi kebutuhan dunia kerja, tetapi juga menjadi penggerak inovasi, kewirausahaan, dan pertumbuhan ekonomi kelautan yang berkelanjutan. (ALP)
HUMAS BPPSDMKP