Berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, Cilacap dikenal sebagai salah satu penghasil sidat karena kondisi geografisnya dan ketersediaan habitat alami yang cocok untuk pengembangan budi daya ikan berekonomi tinggi.
Potensi itu menjadikan Desa Kaliwungu di Kecamatan Kedungreja sebagai kampung percontohan budi daya sidat sejak 2018. Langkah ini membuka peluang pengembangan komoditas yang sebelumnya belum dibudidayakan secara intensif.
Perjalanan budi daya sidat di desa ini berawal dari inisiatif masyarakat. Pada 2015, Ruddy Sutomo, Manajer Koperasi Mina Sidat Bersatu, bersama beberapa warga memanfaatkan lahan sawah yang kurang produktif untuk dijadikan kolam budi daya di sekitar aliran Sungai Ciberem.
Dari percobaan sederhana menggali dua kolam, usaha tersebut perlahan berkembang. Ruddy bersama warga kemudian membentuk Koperasi Mina Sidat Bersatu yang kini beranggotakan sekitar 50 orang pembudidaya.
“Kalo bicara pengaruh ekonomi dari budi daya ikan sidat, itu jelas sangat membantu masyarakat ya atau mendongkrak ekonomi masyarakat karena budi daya ikan sidat ini kan nilai daripada harga jualnya tinggi dan juga profitnya juga tinggi,” ujarnya.
Di kolam berukuran sekitar 15 x 40meter yang berada di tengah hamparan sawah, sidat yang siap panen memiliki ukuran yang bervariasi, berkisar antara 250 hingga 500 gram per ekor. Dalam sekali panen, hasilnya bisa mencapai sekitar 1,2 hingga 1,5 ton.
Meski terlihat sederhana, budi daya sidat memiliki karakteristik tersendiri. Ikan darat yang bersifat nokturnal ini lebih aktif berburu pada malam hari, sehingga pemberian pakan juga dilakukan pada waktu tersebut.
Sidat juga dikenal sensitif terhadap kualitas air, sehingga pembudidaya perlu menjaga kadar amonia dan juga memantau suhu air secara rutin. Pakan yang diberikan pun memiliki kadar protein lebih dari 40 persen guna mendukung pertumbuhan ikan yang memiliki tubuh panjang nambun lambung kecil tersebut.
Untuk membantu pengelolaan budi daya, pembudidaya mulai memanfaatkan teknologi pemantauan kolam melalui aplikasi Kolam Saya. Aplikasi ini dikembangkan untuk mencatat parameter kualitas air, penggunaan pakan, hingga tingkat kematian ikan. Teknologi ini juga berfungsi sebagai pengingat berbagai tindakan perawatan kolam, seperti penambahan air, pemberian probiotik, atau penggaraman.
Penguatan budi daya sidat di Cilacap juga mendapat dukungan melalui proyek IFISH, sebuah program pengelolaan perikanan budi daya yang dijalankan pemerintah bersama Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO). Program ini memberikan pelatihan mengenai manajemen produksi hingga penguatan pemasaran yang berkelanjutan.
Melalui pendampingan dari program tersebut, tingkat kelangsungan hidup sidat meningkat menjadi 80 hingga 90 persen, yang sebelumnya berada pada kisaran 40 hingga 60 persen.
Hasil budi daya sidat di Cilacap kini tidak hanya dipasarkan di dalam negeri. Komoditas ini telah menembus pasar ekspor dengan Jepang sebagai tujuan utama, selain Korea Selatan, Hong Kong, Taiwan, Vietnam, Amerika Serikat, hingga sejumlah negara di Timur Tengah.
Di pasar domestik, sidat juga menjadi andalan di berbagai restoran dan pusat kuliner di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Bali.
Tidak hanya berhenti pada budi daya, masyarakat juga mengembangkan industri olahan sidat. Di tingkat koperasi, sidat diolah menjadi berbagai hidangan bernilai tinggi seperti kabayaki dan shirayaki.
Sementara itu, kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan yang digerakkan oleh para perempuan desa memanfaatkan bagian sidat yang tidak terpakai, seperti tulang, sirip, dan lemak, untuk diolah menjadi berbagai produk olahan dengan merek Si-Azas. Dengan mengusung konsep zero waste, produk yang dihasilkan pun beragam seperti sambal, kerupuk, hingga lumpia kering.
Di sisi lain, para pembudidaya juga menerapkan praktik berkelanjutan melalui kegiatan restocking atau pelepasliaran kembali sekitar 2,5 persen sidat ke sungai untuk menjaga siklus kehidupan sidat sekaligus mendukung kelestarian sumber daya perairan.
Bagi masyarakat Kaliwungu, sidat bukan sekedar komoditas perikanan. Dari kolam-kolam budi daya yang dulu merupakan lahan sawah, ikan bernilai tinggi ini kini menjadi harapan baru yang menggerakan ekonomi desa sekaligus membuka jalan bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.
Penulis: Azrin Sabrina Aulia
Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri