© Copyright 2026, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Anak Muda Tasikmalaya: Menghidupkan Tradisi, Menyalakan Harapan Budi Daya Ikan

Kamis, 5 Februari 2026
Anak Muda Tasikmalaya: Menghidupkan Tradisi, Menyalakan Harapan Budi Daya Ikan

Sejak lama, Kabupaten Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu sentra budi daya ikan air tawar di Jawa Barat. Di sini, kolam bukan sekadar genangan air. Ia adalah napas kehidupan yang berdenyut di halaman-halaman rumah, menyatu dengan ritme sawah dan udara sejuk di ketinggian 475 meter di atas permukaan laut.

Dari ikan mas, gurame, nila, hingga lele, masyarakat terbiasa menjadikannya bagian dari hidup mereka.

Namun, kenyataan yang ada masih menyisakan pekerjaan rumah. Produksi perikanan lokal hanya mampu memenuhi 40 persen dari kebutuhan masyarakat.

Angka itu memunculkan kegelisahan—bagaimana mungkin daerah yang begitu kaya air, belum bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri?

Di tengah kekhawatiran itu, lahir satu gerakan yang menyatukan para pembudidaya. Dari Desa Ciawang, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya, berdiri Koperasi Amanat Petani Indonesia (API). Di tangan Mujahid, seorang pembudidaya yang kini dipercaya menjadi ketua koperasi.

Bersama 73 anggota yang terdiri dari 80 persen milenial hingga gen Z, koperasi ini menjadi wadah untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi pembudidaya.

Awal perjalanan mereka penuh tantangan. Harga pakan ikan yang kian naik, sementara harga jual ikan tetap, yang membuat pembudidaya khawatir mereka tidak akan bertahan lama. Alih-alih menyerah, koperasi memilih untuk mencari jalan keluar dengan mendirikan unit pakan mandiri.

Dari bahan sederhana seperti ikan rucah, singkong, hingga dedak gandum, mereka mampu memproduksi pakan sendiri. Setiap hari, tak kurang dari 500 hingga 1.000 kilogram pakan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan para anggota.

 

Tak berhenti di sana, langkah berikutnya adalah memperbaiki dan mengubah pemasaran hasil panen. Jika sebelumnya ikan hasil budi daya hanya dilepas ke bandar kecil dengan harga ditekan, kini mereka membangun jaringan yang lebih luas.

Hasil panen tak lagi berhenti di Tasikmalaya, melainkan sudah dipasarkan sampai wilayah Jabodetabek dan Bandung. Perubahan ini membuat para pembudidaya lebih tenang karena harga yang diterima lebih layak dan peluang pasar semakin terbuka.

Titik balik lainnya datang saat koperasi mendapatkan akses permodalan dari Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP). Diakui, prosesnya tidak mudah, tetapi begitu lolos, pintu peluang terbuka lebar.

Modal bergulir membuka jalan bagi pertumbuhan dan mampu memperbesar skala usaha. Dari yang awalnya hanya belasan kolam, kini jumlahnya berkembang hingga ratusan. Unit pakan yang dulunya sekadar uji coba, kini benar-benar menjelma menjadi pabrik kecil yang menopang kemandirian koperasi.

Di balik semua itu, inovasi menjadi bagian inti yang terus menghidupkan koperasi. Salah satunya lahir dari ide sederhana dengan memanfaatkan oli bekas. Dengan alat rakitan sendiri, oli diolah untuk menjaga suhu air kolam budidaya lele tetap hangat.

Cara ini terbukti lebih murah dibanding menggunakan gas atau listrik, sekaligus membuat pertumbuhan ikan lebih cepat dan sehat.

Di sisi lain, Banyu, seorang pembudidaya muda lulusan Universitas Gadjah Mada memperkenalkan sistem bioflok. Teknologi ini memungkinkan air kolam digunakan berulang kali tanpa perlu sering diganti.

Dari lahan yang sama, hasil panen yang dulu hanya satu ton meningkat menjadi lima ton. Inovasi ini sekaligus menjawab tantangan ketersediaan air bersih yang semakin terbatas.

Tak hanya berhenti pada budi daya, anggota koperasi juga merambah ke sektor pengolahan produk. Ikan panen yang ukurannya tidak sesuai pasar kini diolah menjadi produk siap saji. Lahirlah lele dan nila bumbu kuning dalam kemasan, produk praktis yang menyasar keluarga muda perkotaan.

Kreativitas ini juga berkembang menjadi olahan lain, seperti bakso ikan dan dimsum, yang meningkatkan nilai jual ikan dan mencegah produk terbuang sia-sia.

Tentu saja perjalanan ini tidak selalu mulus, tetapi semangat kebersamaan membuat mereka terus mencari cara untuk berkembang. Bagi anak-anak muda ini, budi daya ikan bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan menuju kemandirian dan masa depan perikanan yang lebih baik bagi desa mereka.

Kini, koperasi telah menjangkau delapan kecamatan di Tasikmalaya. Kolam-kolam ikan yang dahulu sekadar pelengkap halaman rumah, kini menjelma menjadi simbol kebangkitan ekonomi desa.

Generasi muda pun ikut membuktikan bahwa kampung halaman mereka mampu menjadi ruang lahirnya inovasi. Kisah ini menjadi saksi bahwa tradisi tidak hanya bertahan, tetapi juga terus tumbuh dan berkembang. Dari riak air kolam yang sederhana, mengalir mimpi besar untuk memberi makan bangsa.

Penulis: Audini Maulidya

Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri

 

Sumber:

Majalah KKP Segara Edisi 12: Capaian Positif Kinerja Kelautan dan Perikanan

Logo Logo
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA

JL. Medan Merdeka Timur No.16 Jakarta Pusat

Telp. (021) 3519070 EXT. 7433 – Fax. (021) 3864293

Email: humas.kkp@kkp.go.id

Call Center KKP: 141

Media Sosial

Pengunjung

1 2
© Copyright 2026, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

POST Forms