m-MAIL KKP

Jurnal Kelautan dan Perikanan

PERBENIHAN IKAN BERONANG(Siganus guttanus)
12/03/2012 - Kategori : Jurnal Kelautan dan Perikanan

PERBENIHAN IKAN BERONANG(Siganus guttanus)

PENDAHULUAN

ikan beronang, siganus guttanus merupakan salah satu jenis ikan laut yang banyak diminati oleh konsumen kiarena rasa dagingnya lezat. ikan ini dapat dibudidayakan baik di keramba jaring apung(KJA) maupun di tambak, mampu hidup berjejal,respon terhadap pakan buatanserta memiliki laju pertumbuhan yang relatif tinggi. Ketersediaan benih masih menjadikendala dalam pengembangan budidaya, oleh karena itu perlu usaha pembenihan. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payautelah merintis perbenihan ikan beronang, Sigganus guttatus.

 PENYEDIAAN INDUK

Induk beronang diperoleh dari alam dan diadaptasikan terlebih dahulu terhadap pakan buatan selama 2(dua) bulan dalam lingkungan bak terkontrol agar dapat menghasilkan telur berkualitas. Transportasi induk dapat dilakukan baik dengan sistim tertutup maupun terbuka. Induk yang digunakan sebaiknya berukuran minimal 300g(induk jantan dan betina).

PEMATANGAN INDUK

Pematangan induk dilakukan di bak terkontrol dengan kepadatan 30 ekor / 2,5 tondengan rasio betina dan jantan adalah 2:1. Bak induk dilengkapi aerasi dengan pergantian air sekitar 150-200% perhari Pakan induk adalah pellet dengan kadar protein 46% sebanyak 3-5%/hari dari bobot tubuh,diberikan 3 kali sehari. Pakan tambahan berupa rumput laut segar diberikan 3 kali seminggu sebanyak 20-25%. Pemacuan kematangan gonad dapat dilakukan dengan implantasi pellet hormon LHRH-a sebanyak 10g/kg bobot ikan. Penentuan tingkat kematangan gonad (TKG) dapat dilakukan dengan cara kanulasi. Induk beronang dapat menghasilkan telur sekitar 245.000-500.000 butir tergantung ukuran bobot tubuh ikan dengan diameter telur berkisar 546-550 µm dantingkat penetasan sekitar 80-95%.

PENYEDIAAN PAKAN ALAM

Pakan alami chlorella (Nannochloropsis occulata) dikultur dalam bak untuk kebutuhan pakan rotifera (Brachionus plicatilis), dan juga sebagai green-water dalam pemeliharaan larva beronang. Rotifer yang dikultur dalam bak selanjutnya dijadikan sebagai pakan larva beronang. Rotifer terdiri dari 3 ukuranyaitu tipe super small, small dan large. selain rotifera, juga diperlukan trochopor tiram sebagai pakan tambahan awal larva. untuk meningkatkan sintasan larva dari faseendogeneous ke fase exogeneous feeding. Larva (D1-6) belum mampu mengkonsumsirotifera tipe S (140-200m), sebab ukuran bukaan mulut larva adalah 125 m. Setelah benih berumur D-25 digunakan pakan alami berupa naupli artemia.

PEMELIHARAAN LARVA

Pemeliharaan larvadapat dilakukan pada bakterkontrol volume 500 L, dengan kepadatan 10-20 ekor/L. Pemberian pakan pada larva dilakukan seperti tabel berikut:

 Jenis pakan
 Umur larva
 12
3
4
5
6
7
8
9
10
15
20
25 30
40
 Nannochloropsis  
 Trochopor          
 Rotifer  
 Naupli artemia
             
 Pakan buatan
              
 Pergantian air (%)
          10-15 15-20 20-30 30-40 

 Kepadatan rotifer dipertahankan sekitar 20sel/mL,sedangkan naupli artemia 2-3 ind/ekor larva. Juvenil hasil perbenihansetelah berumur 115 hari memiliki bobot sekitar 50g dan panjang total 12 cm

 

Sumber: BALAI RISET PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU                                                                           12 Maret 2012

 

Tulisan Terkait