m-MAIL KKP

Info Daerah

GARAM DI GUNUNG?. ASAM DI LAUT?
13/04/2011 - Kategori : Info Daerah
GARAM DI GUNUNG…. ASAM DI LAUT…

Mungkin seharusnya pepatah yang benar adalah “Garam di laut asam digunung, bertemu juga di belanga”.  Hal tersebut menggambarkan betapa ironisnya negara Indonesia yang sebagian besar wilayahnya merupakan laut  belum mampu mencukupi kebutuhan garam konsumsi dan garam industri. Betapa tidak, untuk tahun 2010 saja lebih dari 70 % kebutuhan garam nasional masih di impor dari Australia dan India.  Padahal seperti kita ketahui bahwa kualitas garam di negeri sendiri bisa lebih baik daripada garam-garam impor tersebut.

Beberapa daerah di Indonesia yang mampu menghasilkan kualitas garam K1 diantaranya adalah Kabupaten Sampang, Pamekasan, Sumenep, Indramayu, Pati, Rembang, Gresik dan beberapa daerah lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Indonesia merupakan Negara maritim dengan garis pantai terpanjang keempat di dunia dengan panjang pantai lebih dari 95.181 kilometer. Negara Indonesia juga merupakan negara beriklim tropis dengan musim kemarau yang relatif panjang sehingga apabila kondisi geografis dan kondisi iklim ini dipadukan dalam rangka meningkatkan produksi garam nasional, maka tidak tertutup kemungkinan Indonesia mampu swasembada garam dalam waktu dekat.
 
Dari berbagai sisi kekurangan garam di negara Indonesia, di lereng pegunungan Ijen Kabupaten banyuwangi seorang Bapak bernama Sunantriyo berusaha memulai usaha pengolahan garam pada tahun 2002. Dengan bekal keinginan untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi beryodium untuk beberapa tetangganya di daerah Jambesari, Kecamatan Giri Banyuwangi, maka Bapak  2 orang anak ini memulai usahanya dengan modal 3 juta rupiah. Biasanya bahan baku garam  yang digunakan untuk garam konsumsi beryodium didatangkan dari Pulau Madura Jawa Timur, namun saat ini karena di dalam negeri kondisi cuara kurang memungkingkan untuk produksi garam maka Pak Sunantriyo terpaksa mengimpor 100% bahan baku garam dari Australia.  Secara perlahan dan otodidak Suami dari Susiati ini mulai merangkak mengembangkan usaha pengolahan garam konsumsi untuk memenuhi kebutuhan dibeberapa daerah seperti Kabupaten  Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Situbondo dan seluruh kabupaten di Pulau Bali.
 
Proses packing garam

Pengusaha yang akrab di panggil Pak Triyo ini saat ini telah memiliki beberapa merk untuk usaha garam beryodiumnya ini. Beberapa merk garam diantaranya yaitu Cap dua Apel, Cap Gunung, Cap Gunung Agung dan Cap Pisang.  Garam-garam konsumsi tersebut mengandung iodium (KlO3¬) sebesar 30 – 80 ppm. Usaha pengolahan garam Pak Triyo ini  telah mencapai omzet sebesar 6 juta perhari.  Bisa dibayangkan dengan modal yang kecil dari daerah pegunungan saat ini usaha tersebut mampu memenuhi kebutuhan garam dibeberapa Kabupaten di Jawa Timur dan Bali. Bahkan dengan adanya usaha tersebut Pak Triyo mampu menciptakan lapangan pekerjaan untuk 16 orang tenaga kerjanya. Selain itu Pak Triyo juga berkeinginan untuk mengembangkan diversifikasi usaha garam seperti garam asam (citrid acid) dan aneka minuman dari garam apabila Indonesia mampu memenuhi kebutuhan baku garam dalam negeri yang produktifitasnya masih rendah.

Rendahnya produktivitas garam  tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : teknologi pengolahan garam yang di terapkan masih bersifat tradisional, pemanfaatan lahan yang kurang efisien, kondisi klimatologi dan sumberdaya alam (kadar dalam air laut ) yang kurang menguntungkan, luasan rata-rata yang dimiliki petani garam kurang memadai serta sumberdaya manusia kurang memadai.

Dengan bekal usaha dan keingingan yang kuat seperti yang dilakukan oleh Pak Triyo meskipun di lereng pegunungan mampu mengolah garam konsumsi. Insya Allah Indonesia dengan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia yang memadai mampu memenuhi kebutuhan garam nasional.
 
 
 
Sumber : UPT BPPP BANYUWANGI




 

Tulisan Terkait