m-MAIL KKP

Info Media

Petambak Minta Listrik Dinyalakan
16/05/2011 - Kategori : Info Media
Petambak Minta Listrik Dinyalakan

JAKARTA. KOMPAS - Petambak plasma PT Aruna Wijaya Sakti yang tergabung dalam Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu meminta pemerintah tegas mengatasi kemelut kemitraan tambak udang eks Dipasena itu. Di antaranya, menghidupkan lagi sambungan listrik yang diputus oleh perusahaan sejak 7 Mei 2011

Pemutusan aliran listrik di kawasan tambak terjadi seiring keputusan PT Aruna Wijaya Sakti (AWS). anak perusahaan PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima), untuk menghentikan seluruh operasional tambak. Penghentian dilakukan karena iklim usaha budidaya udang di Lampung itu dinilai tidak kondusif.

Menurut anggota Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu. Mulyadi Zak, Sabtu (14/5), pemutusan sambungan listrik secara sepihak oleh perusahaan telah menghentikan seluruh aktivitas tambak dan menyengsarakan kehidupan keluarga petambak.

"Kami berharap pemerintah membuat terobosan, paling tidak menghidupkan listrik yang mati agar budidaya untuk sementara bisa dilanjutkan oleh petambak secara mandiri," ujarnya.

Mulyadi mengemukakan, pihaknya mengaku sudah tidak berniat mempertahankan kemitraan dengan PT AWS. Pola kemitraan dengan perusahaan itu dinilai tidak transparan dan merugikan petambak plasma.

"Sejak dulu kami sudah kompromi dengan perusahaan, tetapi revitalisasi tambak yang dijanjikan perusahaan sangat lamban, bahkan diubah. Kini, operasional tambak dihentikan," ujar Mulyadi

Secara terpisah, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Ketut Sugama mengemukakan, pemerintah telah membentuk tim yang untuk tahap awal akan memprioritaskan penyambungan kembali aliran listrik yang dimatikan oleh perusahaan. Dihentikannya operasional dan aliran listrik itu mengganggu produksi serta menyengsarakan hidup warga petambak.

Ketut mengemukakan, meskipun tambak udang dimiliki oleh petambak plasma, petambak terjerat utang kepada perusahaan. Hal itu menyulitkan pemerintah untuk intervensi dengan mencari investor baru. (UCT/JON)
 
Sumber : Kompas 16 Mei 2011,hal. 17

Tulisan Terkait