m-MAIL KKP

Info Media

Rp1 Triliun untuk Perikanan Perdesaan
27/09/2010 - Kategori : Info Media
Rp1 Triliun untuk Perikanan Perdesaan

Kelompok petani ikan yang tergabung dalam Perkumpulan Masyarakat Perikanan Nusantara (Permina) berharap pemerintah lebih memberikan fasilitasi pendampingan untuk pengembangan perikanan pedesaan. Permasalahannya, banyak petani yang kesulitan mendapatkan akses pengetahuan dan penyuluhan secara benar terutama aspek bisnis perikanan. "Petani ikan merasakan banyak penyuluh perikanan tidak paham ilmu berbisnis ikan yang cocok. Bagaimana agarrpetani lebih pintar memilih komoditas ikan yang laku dijual, jangan hanya main klaim namun setelah ditekuni petani justru merugi," kata Among Kurnia Ebo, Ketua Masyarakat Perikanan Nusantara (Permina) di Yogyakarta, Minggu, (26/9).

Beberapa keluhan yang didapatkan dari 3.600 anggota di daerah yang tersebar di 64 kabupaten di Indonesia itu diharapkan bisa mendapatkan respons yang tepat dari pengambil kebijakan. Selama ini guna mendapatkan bekal sukses usaha, petani ikan hanya mengandalkan insting bisnis atau langsung ke ahli-ahli di kampus untuk mendapatkan teman berdiskusi yang cerdas. Sebagian di antaranya memilih mengikuti pelatihan singkat terkait trik dan usaha budi daya perikanan yang ditawarkan. "Saya kira sangat tepat jika sumber daya penyuluh perikanan di-upgrade," kata Ebo.

Dia mencontohkan, soal komoditas usaha perikanan darat yang potensial sepertibudi daya gurami. Permintaan cukup tinggi, untuk Jakarta saja misalnva butuh 25 ton per malam dengan -total omzet Rp500 juta. Petani ikan budi daya sering kali juga tak bisa selalu memasok kebutuhan. Kebutuhan pasokan justru lebih banyak dipenuhi dari Tulungagung Jawa Timur, Cilacap Jawa Tengah dan Parung Jawa Barat akan dianggarkan untuk bantuan dalam wujud peralatan atau teknologi guna melakukan penangkapan maupun pengolahan tangkapan perikanan (kolam ikan) serta peningakatan tangkapan ikan di laut. Sebagian dana juga akan dipergunakan untuk mengembangkan usaha mina pedesaan dan budi daya ikan. "Seharusnya lebih budi daya berkembang di Indramayu, Karawang dan Subang, pembudidaya gurami masih sedikit, sementara permintaan tinggi," katanya.

Melihat potensi itu, dia berharap pemerintah mau melirik-dan memberikan fasilitasi petani ikan. Terutama memberikan informasi yang tepat untuk pengembangan usaha budi daya perikanan darat. Terkait biaya dan modal usaha dengan skala usaha kecil misalnya untuk petani ikan yang fokus bisnis penetasan telur dengan modal Rp500 ribu dalam sebulan bibit bisa dijual hingga Rp 1,2 juta. Bisnis pembesaran gurami dengan modal Rp9 juta dalam waktu 8-9 bulan bisa memperoleh omzet Rp40 juta hingga Rp50 juta. "Masalah lain yangdihadapi memang soal lokasi budi il.i\ .i Kini sumber air tidak mudah didapatkan, kalau hariya mengandalkan sumber air dengan pompa tentu butuh biaya. Itu bisa difasilitasi pemerintah saya kira," kata Ebo.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad dalam kunjungan ke Bantul, Sabtu (25/9) mengatakan guna memberikan stimulus perikanan pihaknya menyediakan dana Rpl triliun. "Banyak yang masih gunakan pola tradisional, penerapan teknologi penting untuk mengolah hasil perikanan baik darat atau laut," kata Fadel.

Pengembangan budi daya perikanan perdesaan, dimaksudkan untuk meningkatkan hasil produksi ikan serta konsumsi ikan di masyarakat. Pasalnya, dibandingkan daerah lain, konsumsi ikan di Jawa lebih rendah yaitu sekitar 20 kg per tahun per kepala. Jauh lebih kecil dibanding masyarakat di Sulawesi yang mengonsumsi ikan rata-rata 40 kg per tahun per kepala. Soal potensi perikanan hasil laut dengan alat teknologi sederhana, nelayan tak bisa mendapatkan hasil maksimal. "Kalau warga perdesaan, mereka bisa kembangkan dana stimulus untuk usaha budi daya ikan darat. Secara ekonomis, budi daya ikan hasilnya lebih menjanjikan dibanding" dengan menanam jagung atau bercocok tanam. Jika ada lahan tidak terlalu subur, bisa untuk budi daya ikan lele atau patin. Hasilnya saya pastikan bisa enam kali lipat jika petani memilih bercocok tanam," kata Fadel. Much Fatchurochman
 
 
Sumber : Jurnal Nasional 27 September 2010,hal. 11

Tulisan Terkait