m-MAIL KKP

Berita

Pandu Karawang sewakan lahan budi daya ikan
15/03/2010 - Kategori : Berita
Pandu Karawang sewakan lahan budi daya ikan

Balai Layanan Umum Pandu Karawang membuka kerja sama penyewaan lahan untuk budi daya perikanan sebagai upaya meningkatkan produksi dalam negeri. Kepala BLU Pandu I Made Suitha menyatakan total lahan yang dimiliki BLU Pandu Karawang mencapai luas 450 hektare. "Dari total luas itu sebanyak 340 hektare sudah dioperasikan," ujarnya kemarin.

Menurut dia, penyertaan swasta dalam pembudidayaan ini selain membantu pemerintah juga mendorong peningkatan produksi . ikan budi daya. Dia menilai upaya ini sangat bagus karena selaras dengan target yang ditetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan bahwa produksi perikanan budi daya akan naik 353% pada 2014.

Sekretaris Jenderal Ditjen Perikanan Budidaya Syamsuddin menuturkan setiap tahunnya- luas areal lahan perikanan budi daya meningkat. "Khusus untuk budi daya tambak, pada 2008 mencapai luas 613.175 hektare, sementara pada 2009 mencapai lebih dari 673.860 hektare," ujarnya.

Menurut dia, selama periode 2010-2014, pemerintah menargetkan produksi perikanan budi daya per tahun 29% hingga tercapai peningkatan 353% pada akhir 2014. Peningkatan produksi tersebut dari 5,38 * juta ton menjadi 16,89%.

BLU Pandu Karawang ini membudidayakan produk perikanan dari jenis air tawar, air payau, dan laut. Jenis ikan yang dibudidaya-kan di tempat ini a.l. udang, kerapu, patin, sidat, bandeng, dan rumput laut. Bisnis mencatat luas sebaran potensi tambak di Kabupaten Karawang mencapai 15.567 hektare yang tersebar di sembilan kecamatan, salah satunya BLU Pandu yang dikelola langsung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan ini.

Pada zaman Orde Baru, BLU ini masih bernama tambak pandu Karawang. Tambak ini hanya memiliki satu irigasi teknis digunakan sekitar 5 tahun dengan luas areal tambak 250 hektare dan hanya dipakai untuk membudidayakan udang jenis udang windu saja. Tercatat tambak ini sangat sukses berproduksi dan ekspor produk udang ke mancanegara.

Usaha udang windu dengan sistem irigasi tambak terbuka itu berhenti total akibat serangan virus white spot yang berakhir pada gagal panen. Saat runtuhnya mantan Presiden Soeharto, tambak udang Pandu ini sempat dijarah dan dibiarkan telantar selama 10 tahun.

Pada 2004. tambak ini direvitalisasi dan diubah menjadi Balai Layanan Umum. "Kami saat ini berupaya untuk mengembalikan kejayaan seperti pada era tambak Pandu zaman dulu," ujar Made. Dia mengatakan proses revitalisasi Tambak Pandu tak sebatas perbaikan sistem irigasi, tapi juga perbaikan fasilitas bangunan penunjang dan infrastruktur balai. Made menyatakan selain meningkatkan produktivitas tambak, BLU juga memfasilitasi para pembu-di daya yang melakukan pemagangan, pelatihan, pendampingan dan transfer teknologi.
 
 
Sumber : Bisnis Indonesia hal : i7

Tulisan Terkait