Artikel - Website Resmi KKP http://www.kkp.go.id/?category_id=30 Kementerian Kelautan dan Perikakan en-ind pusdatin@kkp.go.id Copyright 2013 Blue carbon: A new hope for Indonesia http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/8150/Blue-carbon-A-new-hope-for-Indonesia/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/8150/Blue-carbon-A-new-hope-for-Indonesia/?category_id=30 Blue carbon: A new hope for Indonesia
Andreas A. Hutahaean, Jakarta | Opinion | Tue, August 28 2012, 4:17 AM
Paper Edition | Page: 6

While carbon dioxide emissions reductions are currently at the center of global climate change discussions, the critical role of coastal-marine ecosystems for carbon sequestration or as sinks has been overlooked or even neglected. The reasons are mainly due to the lag of scientific data because of the complexity of coastal-marine ecosystems.

In Indonesia, these ecosystems have not received sufficient attention considering their importance for climate change strategy, as most of the attention has gone to terrestrial ecosystems, such as the forest and agricultural sectors.

Moreover, the Indonesian program on REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) is running slow and its forest moratorium has not worked well, making it unlikely that the Indonesian government will meet its pledge to reduce carbon emissions by 26 percent by 2020.

Tropical coastal-marine ecosystems such as mangroves and seagrass meadows are known as hot spots for biodiversity and for their valuable ecosystem services. Recently, scientists found out about the important functions of the ecosystems as carbon sequestration or sinks. This carbon, captured by coastal-marine organisms through photosynthesis, has been called blue carbon. 

In this process, mangrove and seagrass binds carbon dioxide and water, and, with the assistance of sunlight, is converted into sugars and oxygen to support their growth. The remaining excess production of the plant is buried in the sediment, where it can remain stored.

Indonesia, an archipelagic country, is located along the equator at the heart of the so-called Coral Triangle. The nation’s geography causes warm climate over the country and has made the Indonesian coastal-marine environment become a suitable habitat for the growing of mangroves and seagrass. 

Recently, researchers found that seagrass meadows could store up to 83,000 tons of carbon/m3/km2, mostly in the sediments beneath them. In comparison, terrestrial forests store about 30,000 tons of carbon/m3/km2, most of which is in the form of wood. This study was the first global analysis of carbon stored in seagrass and the finding was published in Nature Geoscience in May.

The study also estimates that, although seagrass meadows take up small percentage of global coastal area (about less than 0.2 percent of world’s oceans), they are responsible for more than 10 percent of all carbon buried annually in the sea.

Similar to seagrass, mangrove ecosystems have been known for their high productivity in the carbon cycle. The ecosystem can store a large amount of carbon in the deep organic sediment in which it thrives. It has the ability to store five times as much carbon as has been observed in temperate, boreal and tropical rainforests. This high amount carbon storage suggests mangroves could play an important role in climate change mitigation.

However, Indonesia’s blue-carbon ecosystems are among the world’s most threatened. About 3 to 7 percent of the ecosystems are disappearing every year, with the worst conditions found on the north coast of Java. The main reasons is mostly dredging, the degradation of water quality, deforestation and aquaculture activities. 

A pilot project on Indonesian Blue Carbon in Banten Bay found at least 70 percent of the mangrove ecosystem was lost to aquaculture farms or land reclamation, while only 20 to 30 percent was used effectively by fisherman. To overcome these problems, strong attention from local communities and the government are needed.

Healthy natural coastal-marine ecosystems, such as mangrove and seagrass, provide a vast array of important co-benefits to coastal communities, particularly fishermen. These benefits include ecosystem services such as the protection of shorelines from storms, erosion or sea-level rise; the provision food from fisheries; the maintenance of water quality and landscapes for ecotourism.

In a blue carbon context these ecosystems also store and sequester a vast amount of carbon in sediments and biomass. Also from a global perspective, blue carbon mostly covers the tropical coastal-marine environment and is among the most effective carbon sinks known today.

Having the largest mangrove and seagrass ecosystems in the world makes blue carbon important for Indonesia’s climate change strategy, not only in international forums, but also to fulfill the government’s pledge to reduce carbon emissions by up to 26 percent by 2020.

The writer is principal investigator of the Indonesia Blue Carbon Project and a researcher at the Coastal and Marine Resources Research Center at the Maritime Affairs and Fisheries Ministry.
 
]]>
2012-08-31 10:25:38
BUDIDAYA IKAN DI DANAU MANINJAU PERLU SINERGI DENGAN PARIWISATA http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7730/BUDIDAYA-IKAN-DI-DANAU-MANINJAU-PERLU-SINERGI-DENGAN-PARIWISATA/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7730/BUDIDAYA-IKAN-DI-DANAU-MANINJAU-PERLU-SINERGI-DENGAN-PARIWISATA/?category_id=30 BUDIDAYA IKAN DI DANAU MANINJAU PERLU SINERGI DENGAN PARIWISATA
Oleh : M. Rahmat Ibrahim

Kegiatan budidaya ikan di danau Maninjau dengan menggunakan  keramba jaring apung ( KJA ) dimulai dengan uji coba pada tahun 1992. Ternyata uji coba tersebut berhasil, sehingga menarik minat masyarakat dan pengusaha untuk berusaha budidaya ikan dengan KJA. Dari tahun ke tahun peminat usaha budidaya ikan semakin banyak, sehingga unit KJA  yang ditempatkan di danau Maninjau semakin banyak. Setelah usaha budidaya ikan itu dilaksanakan selama 5 tahun, maka pada tahun 1997 pertama kali bencana kematian ikan massal terjadi sampai ratusan ton.

Semula pembudiday menduga kematian ikan itu disebabkan oleh racun belerang, hal ini mengingat danau Maninjau adalah danau yang berasal dari letusan  gunung berapi. Kalau racun itu berasal dari belerang harus terjadi setiap tahun, oleh sebab itu seperti terjadi di tempat lain yaitu seperti di danau buatan ( dam ) Cirata terjadi kematian ikan yang terutama disebabkan oleh penumpukan kotoran ikan yang berlangsung bertahun tahun. Di danau Maninjau dengan kekuatan angin darek ( darat ), kotoran ikan ( racun ) dari dasar danau terangkat ke permukaan sehingga mematikan ikan

Walaupun kematian ikan yang dibudidayakan terjadi setiap tahun, tidak menyebabkan  .para pembudidaya ikan kapok dan berhenti berusaha. Hal ini menunjukkan mungkin setelah dihitung masih menguntungkan atau pembudidaya masih punya modal kerja untuk tetap melaksanakan usaha. Setelah  cuaca tenang, para pembudidaya ikan yang biasanya dimulai oleh kelompok perempuan melaksanakan usaha budidaya ikan kembali. Keputusan untuk melaksanakan usaha kembali adalah perempuan sebagai istri dan pengelola keuangan keluarga, sedangkan bapak bapaknya masih stress karena kegagalan usaha.  

Apabila kematian ikan yang dibudidayakan di danau Maninjau tidak dihindarkan atau dicegah maka kematiab ikan akan terus terjadi setiap tahun. Kejadian ini merupakan suatu pemborosan modal usaha dan lama kelamaan simpanan modal usaha akan habis, sehingga pembudidaya dan keluarganya akan jatuh miskin. Akibat lain dari kematian ikan di danau yang tidak ditangani secara tuntas membuat lingkungan tidak nyaman, karena bau busuk   menyebar ke sekeliling danau. Sedangkan di pinggir danau terdapat hotel dan restoran tempat menginap dan makan para wisatwan. Bau busuk ikan ini berdampak terhadap berkurangnya minat wisatawan untuk berkunjung ke danau Maninjau. .

Kematian ikan terjadi secara beraturan yaitu pada akhir tahun ( sekitar Desember ) dan awal tahun ( sekitar januari ) yaitu pada saat datang angin kecang seperti badai, kalau di laut disebut angin barat. Oleh sebab itu kematian ikan di danau dapat dihindari dengan tidak membudidayakan pada bulan bulan datang angin kencang. Jadwal usaha budidaya ikan di danau maninjau dalam setahun cukup 8 bulan saja, sedangkan 4 bulan untuk istirahat atau usaha lain. Dengan mengistirahatkan danau dari usaha budidaya ikan, maka lingkungan air danau kembali bersih dan udara sekitar danau kembali segar dan sejuk, sehingga tidak menggangu kegiatan pariwisata.

Kematian ikan juga bisa dicegah dengan cara pembuangan kotoran ikan secara terus menerus dengan penggelontoran air deras. Pada waktu sebelum ada Pembangkit Listrik Tenaga Air ( PLTA ) Maninjau yang diresmikan tahun 1983, penggelontoran lewat muara danau Batang Antokan. Dengan adanya PLTA Maninjau kekuatan penggelontoran berkurang, oleh sebab itu tanpa mengganggu kinerja PLTA Maninjau, penggelontoran yang ada harus dapat membuang kotoran ikan yang mengendap di dasar danau. Teknik yang dapat diterapkan yaitu teknik siphon dimana air yang keluar dari danau membawa kotoran ikan secara terus menerus.. 

Untuk dapat melaksanakan menghindar dan mencegah kematian ikan di danau Maninjau, perlu temu usaha para pemangku kepentingan ( stake holder ) yaitu duduk bersama untuk bermusyawarah. Hasil dari musyawarah berupa kesepakatan yang akan dijadikan dasar untuk membuat peraturan daerah ( PERDA ). Para pemangku kepentingan itu : 1) kelompok pembudidaya, 2) para pedagang sarana produksi, 3) para pedagang ikan grosir, 4) kelompok pengusaha hotel dan restoran ( PHRI ), 5) otoritas PLTA Maninjau, 6) Pemda Kabupaten Agam. Musyawar ini penting untuk mencegah komplik social yang akan merugikan semua pihak.  
                                                                                   
Penulis adalah Pensiunan : DJPB -KKP
 
]]>
2012-05-08 09:01:08
Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7451/Klasifikasi-Baku-Lapangan-Usaha-Indonesia-Bidang-Kelautan-dan-Perikanan/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/7451/Klasifikasi-Baku-Lapangan-Usaha-Indonesia-Bidang-Kelautan-dan-Perikanan/?category_id=30 Dalam rangka penyempurnaan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia bidang Kelautan dan Perikanan, terdapat penyempurnaan KBLI 2009 bidang Kelautan dan Perikanan seperti yang termuat dalam KBLI 2009 tahun 2011.

KBLI tahun 2009 cetakan tahun 2011 

]]>
2012-03-06 16:59:45
CINTAKU NUN JAUH DI PULAU TERDEPAN http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/6922/CINTAKU-NUN-JAUH-DI-PULAU-TERDEPAN/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/6922/CINTAKU-NUN-JAUH-DI-PULAU-TERDEPAN/?category_id=30 CINTAKU NUN JAUH DI PULAU TERDEPAN
Oleh : Fivien Ocktaviani
 
Kapalku  menderu mengergaji ombak diantar buih-buih laut Teluk Jakarta. Angin laut menampar-nampar mukaku yang pasi karena semalaman kurang tidur disuntuki obrolan menarik tentang negeri khatulistiwa yang maha karya dengan sumberdaya alam lautannya. Kami berlima menikmati ikan bakar pada dingin malam yang menusuk. Satu orang kawanku telah mendengkur dialunkan ombak karena kelelahan dihajar waktu dan tugas. Ah, negeri ini terus membangunkan khayalku menuju masa lalu yang gilang gemilang.
 
Aku jadi ingat anakku yang kutinggal di rumah, asyik masyuk bermain perahu-perahuan yang terbuat dari kertas. Negeri bahari yang minim sarana transportasi. Betapa tidak, angkutan barang di dalam negeri masih mengandalkan kapal-kapal asing yang secara de fakto devisa digondol "bule" ke luar negeri. Tapi biarlah, hari ini aku hanya ingin menikmati perjalanan menuju pulau kecil. jangan rewel, anakku, ibumu akan menyaksikan negeri jamrud khatulistiwa yang berkibar sejak ratusan tahun lalu, sejak Raden Wijaya dengan taktik liciknya mampu menandaskan pasukan Mongol di tanah Jawa Dwipa.
 
Satudua pulau kulewati di tengah kuah belantara samudera. Kapalku terus melaju ke tengah kuah belantara samudera. Kapalku terus melaju ke tangahgelora. Anakku, sepertinya aku tengah berada melaju ke tengah samudera antah berantah, jauh di ujung dunia. Tapi bukan, Anakku! Ini bukan Atlantik yang telah menelan meremas bulat-bulat Titanic, ini bukan Masalembo yang telah meremas kandas Tampomas. Di sini cuma Teluk Jakarta, Anakk. ya, Teluk Jakarta, bibir pantai Laut Jawa.
 
Aku jadi ingat Jan Pieterszoon Coen, kepala gerombolan yang mengatasnamakan Kompeni, yang telah mengeruk kekayaan nusantara selama ratusan tahun untuk membangun Nederlan atau Holand atau Amsterdam. Pala, cengkeh, timah emas dijarah tak henti-henti. duh, angin laut terus menyambari mukaku, membangkitkan rasa benciku pada yang berbau Eropa sediakala. lihat, lumba-lumba bersukaria timbul tenggelam berlari mengejar di antara buih ombak yang dibelah kapalku. Inilah pulauku dari perut laut bila dipotret dari udara.    
 
Ya, di ujung dermaga pulau Tidung itu, anakku, dengan penuh malu-malu Bahrun menyatakan cita-citanya menjadi dokter. Terinspirasi di sinetron televisi tentang peran dan jasa seorang dokter. Ia teringat kakek Mul yang meregang nyawa karena sakit dan tidak memiliki uang untuk berobat ke daratan karena tidak ada rumah sakit di pulau kecil, Bahrun kini mulai lancar bercerita. Kalimat-kalimat lain pun mengalir dari mulutnya yang mungil dan lucu; tentang kandasnya harapan anak-anak pulau kecil, tak ada pilihan selain meneruskann tapak jejak orang tuanya yang jadi nelayan. Kekuranga air bersih dan akses-akses lain yang tidak dimiliki oleh orang-orang darat dia menyebut manusia yang mendiami Pulau jawa sebagai manusia darat).
 
Secuil harapan memang selalu tertanam pada hati siapapun, termasuk mereka yang hidupnya serba keterbatasan di pulau kecil. Bagi masyarakat yang mendiami pulau kecil di negeri ini akses dan keterbatasan itu sempurna lantaran sering kebijakan pemerintah yang tidak berpihak. Ingat Sipadah-Ligitan? Seandainya pemerintah sejak awal mau sedikit berbagi hati dengan pulau itu,tentu Mahkamah Internasional tidak akan membiarkan tetangga kita untuk memilikinya. padahal soal pulau kecil, apalagi di perbatasan, sangat rentan gesekan dengan negara lain.
 
Ya, bahrun telah mengingatkanku soal harapan bagi anak-anak di pulau kecil. Ini Kepualauan Seribu, gugusan pulau di bibir Laut Jawa, Anakku! Ah, bagaimana dengan nasib saudara-saudaraku di pulau kecil dan terluar nun jauh disana? Apakah nasibnya sepadan dengan Bahrun. Aku membaca Miangas yang selalu bertransaksi perdangan menggunakan Peso. Produk barang-barang yang dipakainya pun "made in" tetangga. Apa arti "nasionalisme" tanpa kesejahteraan dan perhatian? Ia hanya omong kosong nyeruput kopi pahit.
 
Anakku, masih banyak Bahrun-bahrun lain di pulau kecil dan terpencil atau bahkan di pulau terpencil dan terluar, yang menginginkan perhatian pemerintah. Aku yakin mereka juga ingin seperti saudaranya di pulau dan kota besar yang dapat menikmati sarana dan kemajuan teknologi zaman kiwari. Namun apa daya, akses, kebijakan, bahkan tatatan politik belum mampu mencapai keinginan apa yang mereka maui. Tapi yakinlah, saudaraku, tak ada orang tua yang akan menelantarkan anaknya. kalau pun ada, itu arus yang berlawanan dengan sunatullah.     
 
Ada belasan ribu pulau kecil yang kita miliki yang hanya dipajang dalam binghkai "etalase" NKRI. Ada ratusan pulau kecil berpenghuni yang nasibnya perlu sentuhan khusus pemerintah. Ada Sembilan puluh dua pulau kecil terluar, pun membutuhkan sentuhan kebijakan yang berpihak baik dari sisi ekonomi, sosia, pertahanan dan keamanan serta politik. Ada dua belas pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Jangan, jangan biarkan mereka "membelot" dengan alasan ditelantarkan. Jangan, jangan ada Sipadan-Ligitan kedua dibumi pertiwi nusantara ini. Ah, anakku, cintaku benar-benar tambat nun jauh di pulau terpencil dan terdepan.
 
 
Sumber : Majalah Maritim Indonesia Ediai 24/TH/VI/Oktober-Desember/2011
]]>
2012-01-18 09:00:35
Sambutan MKP Pada Acara Seminar Sehari Pemetaan Logistik dan Distribusi, Solusi Menuju Industrialisasi Perikanan http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/6885/Sambutan-MKP-Pada-Acara-Seminar-Sehari-Pemetaan-Logistik-dan-Distribusi-Solusi-Menuju-Industrialisasi-Perikanan/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/6885/Sambutan-MKP-Pada-Acara-Seminar-Sehari-Pemetaan-Logistik-dan-Distribusi-Solusi-Menuju-Industrialisasi-Perikanan/?category_id=30 MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

 
PADA ACARA

 

SEMINAR SEHARI

PEMETAAN LOGISTIK DAN DISTRIBUSI, SOLUSI MENUJU INDUSTRIALISASI PERIKANAN


Jakarta, 16 Januari 2012



   
 

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua

 

Yang saya hormati:

1. Anggota Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron

2. Prof.Dr.Rokhmin Dahuri, mantan Menteri KP;

3. Para Narasumber

4. Pejabat Eselon I dan II lingkup KKP;

5. Ketua Komunitas Wartawan Kelautan dan Perikanan;

6. Para stakeholders kelautan dan perikanan,

7. Teman-teman wartawan & para undangan.



            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas izinnya kita dapat berkumpul di ruangan ini pada  acara ”Seminar Pemetaan Logistik dan Distribusi, Solusi Menuju Industrialisasi Perikanan”.

Seminar ini dapat terselenggara atas prakarsa teman-teman wartawan yang  tergabung dalam Komunitas Wartawan Kelautan dan Perikanan (KOMUNIKAN). Untuk itu, saya memberikan apresiasi kepada KOMUNIKAN atas terselenggaranya seminar ini, juga atas kerja samanya selama ini sebagai mitra strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Hadirin yang saya hormati,

            Beberapa hari ini, hampir semua media massa memberitakan soal cuaca buruk dan gelombang laut tinggi di berbagai wilayah di tanah air. Kondisi ini menyebabkan para nelayan kita gagal melaut, sehingga produksi ikan hasil tangkapan nelayan menjadi menurun. Dan tentunya income para nelayan pun turun drastis.

Oleh karena itu, untuk membantu para nelayan, kami sudah mengirimkan edaran kepada para bupati/walikota yang daerahnya memiliki wilayah pesisir  agar membantu meringankan beban hidup para nelayan dengan memberi bantuan bahan pokok, seperti beras. Kami pun dari pihak KKP telah mengalokasikan dana BLM untuk membantu para nelayan tersebut.


Saudara-saudara sekalian,

Turunnya hasil tangkapan para nelayan tentunya membuat pasokan ikan di pasar menurun, dan harga ikan pun mengalami kenaikan. Kondisi ini cukup memukul para pengusaha pengolahan ikan, khususnya yang skala UMKM. Mereka mulai mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasokan bahan baku dengan harga yang stabil, sehingga berakibat pada menurunnya kapasitas produksi.

Kalau kita tidak melihat langsung ke sentra-sentra industri pengolahan, mungkin kita tidak akan percaya bahwa di negara yang memiliki potensi kelautan dan perikanan begitu besar, industri pengolahan ikan bisa kekurangan pasokan bahan baku.

Karena itu, ketika para pelaku industri pengolahan beralih kepada bahan baku ikan impor demi kelangsungan usahanya, banyak pihak yang memandang tindakan tersebut tidak berpihak kepada kaum nelayan. Padahal, para istri dan keluarga nelayan mayoritas berusaha dan bekerja  di industri pengolahan ikan, seperti pembuatan ikan asin dan pemindangan.
 

Hadirin yang berbahagia,

Terkait kebijakan impor ikan, perlu saya tegaskan pemerintah tidak mengubah kebijakan impor ikan yang selama ini sudah berjalan, jauh sebelum saya diberi amanah sebagai menteri kelautan dan perikanan.

Dengan persyaratan yang ketat, impor ikan diperbolehkan untuk beberapa jenis ikan tertentu dan untuk keperluan bahan baku industri pengolahan, seperti industri ikan pindang rakyat skala UMKM. Pilihan kebijakan impor ini adalah realistis untuk saat ini, karena kalau kita menutup impor ikan sama saja kita berbuat tidak adil kepada pelaku industri pengolahan.

Namun demikian, perlu digarisbawahi  impor ikan merupakan alternatif terakhir dan sifatnya hanya menambal kekurangan pasokan untuk keperluan bahan baku.


Hadirin yang berbahagia,

Saya menyadari dan bertekad  bahwa kita tidak bisa terus-menerus tergantung pada impor. Dengan sumberdaya kelautan dan perikanan yang melimpah sesungguhnya kita bisa memenuhi kebutuhan ikan dari produksi domestik, termasuk ikan untuk bahan baku industri.

Karena itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi perikanan, baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri juga untuk peningkatan ekspor.

Upaya peningkatan produksi perikanan nasional ini ditempuh sejalan dengan upaya industrialisasi perikanan  yang dapat memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha sektor perikanan, terutama nelayan dan pembudidaya. Industrialisasi perikanan dilakukan dengan membenahi sektor hulu hingga hilir diantaranya melalui peningkatan kualitas SDM (modernisasi) nelayan dan pembudidaya. Industrialisasi ini diharapkan mampu menciptakan mata rantai industri perikanan nasional yang kuat dan berdaya saing.

 
Hadirin yang berbahagia,

Dalam pengembangan industri kelautan dan perikanan, salah satu aspek yang kami perhatikan adalah ketersediaan bahan baku ikan untuk industri pengolahan yang tersebar di berbagai wilayah (terutama Jawa dan Sumatera), sementara penghasil ikan berada di wilayah Indonesia bagian Timur. Karena itu, KKP saat ini tengah mengembangkan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) untuk membenahi  distribusi ikan di tanah air. Upaya ini selain untuk menjamin ketersediaan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan ikan, juga untuk menekan biaya transportasi.

            Perlu saya informasikan, KKP beberapa waktu lalu telah memfasilitasi distribusi ikan dari Maluku, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan ke wilayah Jakarta. Fasilitasi distribusi ikan ini akan terus dikembangkan dari wilayah yang kelebihan produksi perikanan kepada wilayah yang kekurangan produksi perikanan.


Hadirin yang berbahagia,

            Kami menyadari, bahwa berbagai kebijakan dan program untuk memajukan sektor kelautan dan perikanan memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan wartawan, utamanya yang tergabung dalam KOMUNIKAN.

            Demikianlah beberapa hal yang kami sampaikan. Dan dengan senantiasa mengharap ridho Tuhan Yang Mahakuasa dengan mengucap bismillahirahmanirrahim ”Seminar Pemetaan Logistik dan Distribusi, Solusi Menuju Industrialisasi Perikanan” dengan resmi saya buka. Sekian dan Terima kasih.


Billahitaufik walhidayah.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

                                              

Menteri Kelautan dan Perikanan


 
Sharif C. Sutardjo

 ]]>
2012-01-16 13:16:54
Penyempurnaan KBLI 2009 bidang Kelautan dan Perikanan seperti yang termuat dalam KBLI 2009 cetakan II http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/6402/Penyempurnaan-KBLI-2009-bidang-Kelautan-dan-Perikanan-seperti-yang-termuat-dalam-KBLI-2009-cetakan-II/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/6402/Penyempurnaan-KBLI-2009-bidang-Kelautan-dan-Perikanan-seperti-yang-termuat-dalam-KBLI-2009-cetakan-II/?category_id=30 Dalam rangka penyempurnaan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia bidang Kelautan dan Perikanan, terdapat penyempurnaan KBLI 2009 bidang Kelautan dan Perikanan seperti yang termuat dalam KBLI 2009 cetakan II.

KBLI 2009 penyempurnaan cetakan II

]]>
2011-10-19 16:07:04
Ikan Asli Papua Perlu Diinventarisir & Dilestarikan Agar Tak Punah http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/4627/Ikan-Asli-Papua-Perlu-Diinventarisir-Dilestarikan-Agar-Tak-Punah/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/4627/Ikan-Asli-Papua-Perlu-Diinventarisir-Dilestarikan-Agar-Tak-Punah/?category_id=30 Ikan Asli Papua Perlu Diinventarisir & Dilestarikan Agar Tak Punah

 

Provinsi Papua memiliki Potensi sumber daya perikanan tangkap Perairan Umum Daratan (PUD) yang sangat besar, bahkan secara nominal dapat dikatakan sangat luas, katakan saja PUD yang sudah sangat familiar adalah Danau Sentani, Danau Paniai, dan Danau Tage yang merupakan danau terluas dan terbesar di Papua serta cukup untuk perkembangbiakan perikanan tangkap. Belum lagi, sungai-sungai yang dimiliki Papua, yang didalamnya menyimpan aneka ragam hayati yang beberapa diantaranya merupakan ikan asli atau populasinya hanya ada di Papua.

Kaitannya dengan hal ini, Dinas Kelautan dan Perikanan Papua menghimbau instansi terkait diwilayah kabupaten untuk kembali melakukan inventarisasi ikan asli Papua yang ada di danau maupun sungai. Disamping itu, melakukan pelestarian agar ikan-ikan tersebut tidak punah pada waktu-waktu mendatang oleh karena adanya penangkapan secara besar-besaran oleh masyarakat nelayan. Karena potensi ikan asli kalau kita tidak jaga dan lestarikan suatu saat akan punah. Contoh di Sentani, ada ikan Gabus Malas yang sangat dominan tapi sekarang sudah tidak karena sudah didominasi oleh ikan lain seperti ikan gastor. Bahkan sudah ada ikan merah yang sebelumnya belum ada di Danau Sentani. Maka itu, ini perlu di identifikasi dan dicari tahu sumbernya darimana, imbau Kepala Bidang Sumber Daya Kelautan, Dinas Kelautan Provinsi Papua, Julius Papilaya, pada pembukaan forum koordinasi pengelolaan sumber daya perikanan tangkap Perairan Umum Daratan (Fodilafeta-PUD), Kamis kemarin, di Hotel Andalucia Jayapura.

Menyinggung tentang potensi PUD di Papua, kata Julius, Papua sangat memiliki potensi yang besar bagi perekonomian seperti di Merauke, yang masyarakat sekitar daerah rawa, sudah bisa hidup dan berkembang dengan hasil penangkapan ikan arwana. Sementara di Danau Sentani, sudah berkembang pesat keramba dan kegiatan penangkapan. Oleh karena itu, Dinas Kelautan dan Perikanan harus mulai melakukan penataan. Maka itu, melalui forum ini kita harap ada kesepakatan untuk melakukan penataan lebih baik lagi.

Disamping itu, ada program yang coba dikembangkan KKP, yang disini kita melihat sejauh mana kesiapan kita didaerah menyambut program tersebut, tuturnya. Berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan forum, Julius menambahkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan mencoba memberikan perhatian yang lebih besar agar seluruh PUD di daerah dapat dikelola dengan baik dan lestari. Maka itu, sekali lagi perlu adanya data dan penginventarisiran kembali ikan asli PUD yang ada di Kabupaten masing-masing. Dilain pihak, perlu diprogramkan kegiatan selama lima tahun kedepan sehingga dapat menjadi model minapolitan PUD. Diharapkan juga melalui kegiatan ini ada rumusan untuk tindaklanjut kegiatan forum di tingkat nasional nanti, tutupnya.

Kegiatan forum koordinasi pengelolaan sumber daya perikanan tangkap Perairan Umum Daratan ini, secara resmi dibuka oleh Kepala Bidang Sumber Daya Kelautan, Dinas Kelautan Provinsi Papua, Julius Papilaya mewakili Kepala Dinas. Kegiatan selama dua hari  tersebut, dihadiri sekitar 11 peserta dari DKP Papua, Dinas Kabupaten/Kota, Kabupaten Paniai dan Jayawijaya. Tujuan kegiatan forum adalah untuk mencapai kesepakatan dalam pengelolaan dan pemanfaatan SDA perikanan tangkap PUD, dengan sasaran guna menghasilkannya suatu rumusan kesepakatan dalam pengelolaan SDA perikanan tangkap PUD di Papua.

 

Sumber : Agus Rahmawan, S.ST.Pi dan Erwin (Papua Baru)

 

NaraSumber :

Ir. Julius Papulaya

Ir. Julius Papualaya (Kabid Sumberdaya Kelautan  Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi papua)

]]>
2011-05-25 10:12:50
Memberdayakan Anak Nelayan dan Mengembangkan Ekonomi Daerah Terpencil melalui Lembaga Pendidikan Kelautan dan Perikanan http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/4181/Memberdayakan-Anak-Nelayan-dan-Mengembangkan-Ekonomi-Daerah-Terpencil-melalui-Lembaga-Pendidikan-Kelautan-dan-Perikanan/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/4181/Memberdayakan-Anak-Nelayan-dan-Mengembangkan-Ekonomi-Daerah-Terpencil-melalui-Lembaga-Pendidikan-Kelautan-dan-Perikanan/?category_id=30 Memberdayakan Anak Nelayan dan Mengembangkan Ekonomi Daerah Terpencil melalui Lembaga Pendidikan Kelautan dan Perikanan
Oleh : Nuridin, S.Pi )*

Tidak dipungkiri bahwa wilayah laut Indonesia mencapai 75,3 % dari total wilayah NKRI. Di dalam wilayah laut ini terkandung potensi sumberdaya yang sangat bervariasi baik hayati maupun nir-hayati. Potensi sumberdaya kelautan secara utuh meliputi sumberdaya perikanan, minyak bumi dan gas, jasa lingkungan (pariwisata bahari) dan transportasi laut. Jika semua potensi kelautan ini di kelola dengan baik maka diperkirakan 85 % perekonomian Indonesia sangat bergantung pada sumber daya kelautan.

Namun sangat disayangkan bahwa paradigma pembangunan ekonomi Indonesia selama ini masih berbasis daratan. Padahal  fakta sejarah telah membuktikan bahwa kejayaan Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya adalah kejayaan Negara (kerajaan) Maritim yang mengandalkan ketahanan ekonomi nasional melalui sentra pelabuhan dan jalur perdagangan laut yang implikasinya rakyat mampu mengembangkan potensi pangan secara mandiri untuk kesejahteraan mereka. Tragedi pemahaman daratan inilah yang sangat dimungkinkan menyebabkan kemiskinan, pengangguran dan krisis pangan meningkat di berbagai daerah terpencil khususnya masyarakat pesisir (nelayan).

Visi membangun ekonomi Indonesia berbasis kelautan untuk mengembalikan kejayaan negara maritim ini yang menjadi filosofi berdirinya Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 1999 dibawah mandat Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur). Dalam perkembangannya selama kurun waktu 11 tahun, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang merupakan cikal bakal lokomotif pembangunan ekonomi Indonesia tetap konsisten dan menggandeng gerbong (sektor) lain dalam sebuah gerakan “Revolusi Biru” yakni merubah pardigma pembangunan berbasis daratan menuju paradigma pembangunan berbasis kelautan.

Gerakan Revolusi Biru ini telah mengeluarkan petisi bersama yang menjadi platform gerakan perubahan yakni memperkuat kelembagaan dan SDM secara terintegrasi; mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan; meningkatkan produktifitas dan daya saing berbasis pengetahuan; dan memperluas akses pasar domestik dan internasional.
Platform gerakan revolusi Biru ini yang menjadi trade mark (visi dan misi) Kementerian Kelautan dan Perikanan periode 2010 – 2014 dibawah Nakhkoda Dr. Fadel Muhammad melalui visinya “menjadi negara penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia pada tahun 2015 dengan misi untuk “mensejahterakan Masyarakat kelautan dan perikanan”.

Merubah cara berfikir (paradigma) bangsa Indonesia dari daratan menuju laut layaknya merubah budaya atau kebiasaan masyarakat sehingga dibutuhkan sebuah sistem peradaban dan ini membutuhkan waktu dalam jangka panjang. Sangat beralasan mengapa platform pertama pada Gerakan Revolusi Biru berbunyi “memperkuat kelembagaan dan SDM secara terintegrasi”, maknanya orientasi pendidikan dan kebudayaan menjadi lokomotif pembangunan kelautan Indonesia, dengan kata lain pendidikan kelautan dan perikanan dianggap prioritas gerakan sekarang sekaligus investasi jangka panjang untuk mewujudkan “budaya bahari” yang tujuan utamanya untuk kesejateraan masyarakat kelautan dan perikanan (nelayan).

Merupakan tugas mulia jika suatu lembaga pendidikan kelautan dan perikanan ingin mewujudkan sebuah peradaban bangsa yang berbudaya bahari. Sehingga perlu diciptakan sistem pendidikan khusus yang pro-rakyat miskin, pro-fesional dan pro-usaha. Sistem ini yang sedang dikembangkan unit kerja Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yang memiliki 12 satuan pendidikan kelautan dan perikanan tersebar di seluruh wilayah kepulauan NKRI dari Ladong–Aceh sampai dengan Sorong-Papua. Salah satu sample kajian sistem pendidikan Pro dalam tulisan ini adalah Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Pariaman.

Sebuah manajemen yang baik tidak lepas dari faktor input, process dan output. Demikian halnya dengan manajemen pendidikan di SUPM Negeri Pariaman, tiga faktor tersebut menjadi titik nadir keberhasilan proses belajar-mengajar di lembaga pendidikan ini.  Faktor input merupakan penerimaan (penyeleksian) calon siswa yang diprioritaskan bagi anak pelaku utama perikanan (nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan) yang berprestasi dan sebagian besar berasal dari keluarga tidak mampu (Pro-rakyat miskin). Keluarga nelayan dapat langsung mendaftar ke sekolah atau dapat diusulkan lembaga masyarakat perikanan seperti Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) atau juga melalui Dinas Perikanan setempat sebagai putera daerah yang akan dididik dengan biaya subsidi APBN melalui SUPM Negeri Pariaman. Selama proses pendidikan siswa mendapatkan bantuan atau beasiswa pendidikan. Proses Input ini pada hakekatnya adalah setiap warga negara berhak atas pendidikan dan pengajaran yang layak, sehingga ketika mereka lulus akan tumbuh kesadaran kembali ke daerahnya untuk membangkitkan potensi ekonomi kelautan dan perikanan.

Faktor kedua adalah process. Fase ini merupakan cara bagaimana menciptakan lulusan yang terampil, siap pakai dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang berbudi pekerti luhur. SUPM Negeri Pariaman merupakan sekolah vocational (kejuruan) dengan sistem boarding school (pendidikan asrama). Sistem boarding school inilah yang membedakannya dengan sekolah kejuruan lain, dimana terdapat pendidikan kedisiplinan, pembinaan mental, dan kepemimpinan. Dari segi vocational SUPM Negeri Pariaman tidak hanya mengandalkan prinsip link and macth (pendekatan pendidikan dengan dunia industri) saja namun juga tingkat keahlian siswa distandarisasi melalui Standart Kompetensi Kinerja Nasional Indonesia (SKKNI) oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Standart Training Certification and Watchkeeping (STCW) hasil konvensi International Maritime Organisation (IMO) 1978 telah diamandemen 1995. Dengan standarisasi, siswa yang lulus tidak hanya dibekali ijazah kelulusan tetapi juga mendapatkan sertifikat keahlian seperti Sertifikat Ahli Nautika Kapal Penangkap Ikan (ANKAPIN) dan Ahli Teknika Kapal Penangkap Ikan (ATKAPIN) Tingkat II serta sertifikat keterampilan Basic Safety Training (BST) bagi calon perwira kapal ikan domestik maupun internasional. Bagi calon pembudidaya ikan para siswa dipersiapkan sertifikat Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB). Disamping itu siswa juga belajar kewirausahaan melalui kegiatan praktek swakarya dan unit produksi unggulan pada sarana dan prasarana kapal dan tambak latih  di SUPM Negeri Pariaman. Kegiatan ini bertujuan mempersiapkan siswa pada praktek kerja lapangan (PKL) di perusahaan swasta perikanan nasional. Proses inilah dinamakan pendidikan Pro-Fesional yang menjadi jawaban menyiapkan lulusan yang terampil, siap pakai dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang berbudi pekerti luhur.

Terakhir faktor output, dimana sistem pendidikan di SUPM Negeri Pariaman akan berhasil manakala tujuan lulusan yang siap pakai menjadi fokus pengembangan sekolah ini. Penekanan faktor output ini  dipertegas dengan deklarasi “Pencanangan Gerakan Nasional Masyarakat Minapolitan” pada tanggal 21 Desember 2010 di SUPM Pariaman dengan Deklarator Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Dr. Fadel Muhammad, Sekjen Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam hal ini mewakili Menteri Komunikasi dan Informatika RI dan jajaran Pemerintah Propinsi dan Kabupaten/kota se-Sumatera Barat. Deklarasi ini bukan hanya acara ceremonial belaka, melainkan momentum pengakuan bahwa pendidikan adalah investasi kader masyarakat di kawasan minapolitan, merupakan kawasan yang mempunyai potensi ekonomi kelautan (perikanan) untuk dikembangkan sebagai sentra produksi perikanan yang dalam perkembangannya dijadikan lokomotif (leading sector) pembangunan ekonomi daerah terpencil. Dari sini jelas bahwa siswa sebagai calon kader pembangunan (agent of change) dan calon masyarakat yang akan kembali ke daerah dengan kondisi sudah siap bekerja atau berwirausaha. Sebagai contoh alumni SUPM Negeri siap bekerja di Kapal Penangkap Ikan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Cermin alumni yang bekerja di kapal luar negeri sangat berbanding terbalik dengan wacana dan realita kekerasan yang terjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Alumni SUPM yang dibekali sertifikat keahlian (ANKAPIN/ATKAPIN) dan sertifikat keterampilan (BST) standart Internasional telah tersebar di Kapal berbendera Jepang, Kanada, Hawai, Spanyol dan negara-negara lain adalah sejarah sukses mereka bekerja yang menghidupi atau meningkatkan taraf hidup keluarga nelayan menjadi keluarga yang mampu. Implikasinya keluarga nelayan sekarang telah mempunyai modal yang cukup untuk mengembangkan usaha perikanan di kampung-kampung minapolitan. Contoh lain alumni yang berkiprah sebagai wirausaha budidaya perikanan, sangat banyak profile alumni yang sukses di bidang budidaya seperti ikan lele, nila, bandeng, kerapu, lobster dan udang vanamae. Kedua contoh tersebut adalah upaya menikmati hasil investasi pendidikan kelautan dan perikanan baik secara langsung ataupun tidak langsung meningkatkan produksi kelautan dan perikanan di berbagai daerah khususnya terpencil yang implikasi langsung meningkatkan kesejahteraan (pendapatan) nelayan. Output pendidikan ini yang dikenal dengan sebutan Pro-Usaha.

Jika gerakan ini dilaksanakan di seluruh pelosok nusantara, maka tentunya produksi kelautan dan perikanan dalam skala nasional akan meningkat. Sehingga cita-cita “menjadi negara penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia” bukanlah sebuah angan-angan belaka melainkan menjadi cita-cita luhur yang patut diperjuangkan bersama karena ini merupakan amanat konsitutusi yakni setiap daerah berhak atas pemerataan pembangunan yang sama guna “Mensejahterakan Masyarakatnya” khususnya masyarakat kelautan dan perikanan yang mayoritas tinggal di 75,3 % wilayah NKRI.

)* Penulis adalah guru di SUPM Negeri Pariaman

]]>
2011-03-21 07:47:49
BENCANA DI PESISIR http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/3825/BENCANA-DI-PESISIR/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/3825/BENCANA-DI-PESISIR/?category_id=30 BENCANA DI PESISIR

INDONESIA dalam kepungan beberapa  pusat gempa tektonik,sehingga dikenal sebagai untaian Ring Of Fires Barat Sumatra,Selatan Jawa,Nusa Tengggara dan Maluku, senantiasa berptensi gempa bahkan tsunami.Pemerintah tidak sendiri. Sebuah badan dibentuk khusus untuk mengangani bencana. Beberapa kementrian memiliki unit kerja yang bertugas dan berfungsi menggarap masalah bencana. Tatkala bencana mendera, begerak bersama aktifitas sosial dalam dan luar negri. dikala reda, program didata,proyek digulirkan, dana dianggarkan untuk mitigasi,semacam kesiapan di negeri yang rentan musibah.Mangrove ditanam untuk pelestarian lingkungan,sekaligus menghalangi hemasan ombak bila tsunami menghantam. Rumah ramah bencana diperkenalkan,dibuat model di berbagai wilayah.

Melihat perilaku dan sikap membuat bangunan  di pesisir ada tiga macam respon kesadaran.Saya melihat dipesisir timur benua Amerika, South Caroline, disepadan pantai dalam jarak 100 meter dari garis pasang tertinggi tidak terdapat bangunan.Daretan bangunan atau pemukiman yang mengiringi garis pantai,tetap menyisakan lorong bagi masyarakat untuk menuju atau keluar dari garis pantai. Mengikuti kaidah rumah ramah bencana,bangunan berbentuk panggung,setiap tiang berupa batangan putus yang tersambung pelat baja d kanan-kirinya,sehingga bila ada gempa dari bangunan akan bergoyang elastis,dan tatkala ada tsunami akan membuat air melewati tiang-tiang panggung,tanpa tekanan yang terhadang. Masyarakat modern ini cerdas dan bijak menghadapi bencana.

Diwilayah selatan Jawa Barat, terjadi gempa yang merobohkan gedung,bangunan,rumah yang konstruksi bangunan nya kaku terikat pondasi beton yang menghujam kedalam tanah. Bila terjadi gempa maka retak, pecah dan roboh oleh goyangan. Tapi dibagian lain,banyak rumah tradisional dari kayu berdinding bambu,tegak tanpa kerusakan yang berarti. Konstruksinya menggunakan karifan lokal.Bangunan hanya tertumpu lepas diatas beberapa titik batu kapur persegi empat. Ketika terjadi gempa, bangunan rumah elastis bebas bergoyang mengikuti irama bumi. Masyarakat tradisional ini cerdas dan bijak menghadapi bencana.

Di Sumatra Barat,ada tempat pelelangan ikan,kantor pelabuhan,gudang dan rumah pegawai retak dan roboh berantakan oleh gempa bercampur banjir.konstruksi beton modern,layaknya proyek yang lain,sekolah,puskesmas,kantor Pemda bangunannya tak jauh dari bibir pantai,berdinding utuh menghujam bumi bersama fondasi.Ttegak dan kaku,tidak berupa bangunan panggung yang bertiang elastis sebagaimana rumah ramah bencana yang dibuat model oleh  pemerintah. Padahal bangunan itu tentu dibangun dengan APBD atau APBN.rupanya masyarakat yang tergolong modern ini masih perlu bijak dalam menghadapi bencana.Turtle will be moving rorward,if the head is necking-out.

 

Sumber : Sekretaris Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN)
Jl. Tawes Dalam No. 1 Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Telp. (021) 7807668 HP. 08161933911 email : soenanhp@yahoo.com

]]>
2011-01-12 11:15:39
Sepasang Nelayan http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/3822/Sepasang-Nelayan/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/3822/Sepasang-Nelayan/?category_id=30 Sepasang Nelayan

Pada tanggal 21 November 1998 presiden Amerika Serikat Bill Clinton dalam pencanangan hari perikanan dunia World Fisheries Day menyatakan bahwa "World Fisheries Day,its not only anoccasion for celebration, it is also a time to raise awerness of the plight of so many of the world's fish resources". tampak nya di bumi belahan Barat fokus masalah tinggal ke arah pelestarian lingkungan.sedangkan di Timur,segenap pihak sampai saat ini masih berkubang dalam masalah yang kompleks,terutama kemiskinan nelayan. begitulah, rupanya di dunia ini ada berpasang-pasangan.Barat-Timur, Utara-Selatan, Kaya-Miskin dan sebagainya.

Kendati pun di Barat dan Timur keduanya ada tuntutan untuk peningkatan taraf hidup,tapi ukurannya tampak berbeda,ada subjektifitas. hal ini terbukti saat muncul dalam upaya perbaikan kondisi kerja di sektor perikanan di PBB. Organisasi Buruh Sedunia ILO,mengusulkan adanya konvensi yang mengatur kondisi kerja di kapal ikan sejak 2003. akhirnya Work in Fishing convention di sepakati dan ditetapkan pada Iternational Labour Conference pada tanggal 14 Juni 2007. konvensi tersebut terwujud setelah melalui perjalanan panjang perdebatan dan pembahasan di Afrika, Asia, Amerika Latin dan Eropa,yang di sebabkan oleh beda "kelas" kesejahteraan.

Konvensi di setujui secara mayoritas oleh utusan pemerintah.pengusaha dan nelayan. kesepakatan tersebut terwujud setelah ada pertemuan antara harapan dan kenyataan, pengakuan adanya dua wajah nelayan di dunia. di satu pihak kelomok eropa dan amerika latin mengharapkan "kenyamanan" bekerja, di lain pihak asia dan afrika mengungkapkan kenyataan kemiskinan yang harus di pertimbangkan.

Di dunia ini terdapat 4 juta kapal ikan, yang di awaki oleh 30 juta nelayan. tujuh belas juta di antaranya adalah full time nelayan, bukan sambilan. usulan dari Eropa yang di dukung Amerika Latin,meminta kenyamanan tempat tidur,tempat kerja di laut,bahkan toilet dan keberadaan air minum dan lain-lain agar di jamin secar detail. delegasi dari Asia Pasifik melihat kondisi nyata kapal ikan di negara berkembang yang jauh dari nyaman.

 Dalam sidang ILO bulan Mei-Juni 2007, delegasi dari Asia- Pasifik meminta penulis memimpin pra-sidang yang akhirnya menyampaikan  solusi,yakni harus ada pasal yang memuat penerapan konvensi tersebut supaya di laksanakan secara realistis,progresif dan luwes. yakni dapat diterapkan secara bertahap,dan atas keputusan pemerintah negara setempat.

Bahkan perbedaan wajah fisik kapal juga di berikan solusi.kapal ikan Eropa kebanyakan berbentuk panjang dan langsing,adapun di Asia kelihatan lebar dan pendek.oleh karnanya dalam konvensi juga dilakukan ketentuan konversi,yakni dari ukuran panjang 15 meter,24 meter dan 45 meter, di tetapkan kesetaraannya dengan ukuran gross ton bagi kapal Asia.

work in fishing convention 2007 dinilai sebagai konvensi yang menunjukan kedewasaan bersikap terhadap harsat untuk meningkatkan kondisi kerja para nelayan,dengan relitas yang sulit dipungkiri dalam kehidupan nyata,terutama di negara berkembang namun dengan adanya konvensi tersebut dapat dtetapkan adannya persyaratan minimun bagi manajemen kapal ikan,seperti sertifikat kesehatan,daftar anak buah kapal,perjanjian kerja di laut dan ansuransi yang menanggung adanya kesehatan, kecelakaan dan kematian.

Nelayan Nusantara

Di Indonesia,juga memilik dua wajah nelayan.sehubungan dengan kondisi sumberdaya perikanan yang ada. Indonesia kawasan timur memiliki komoditas ekspor,seperti tuna,cakalang dan udang. di kawasan tengah dan barat, hasil yang diperoleh nelayan kebanyakan ikan pelagis kecil,seperti kembung,layang,selar,tongkol, dan sebagainya, yang kebanyakan untuk pasar domestik.secar demografis daerah timur indonesia nelayan nya tidakbegitu banyak,dan sumber daya alamnya masih belum begitu terkuras,kecuali laut arafura. di kawasan tengah dan barat jumlah nelayannya sangat padat,yang mengeksploitasi daerah tangkapan laut Jawa, selat Makasar dan selat Karimata yang sudah dalam kondisi over fishing atau lebih tangkap.

Dari sisi pengelolaan atau manajemen, dikawasan timur, baik pengusaha join venture maupun pengusaha nasiona, menerep kan menejemen organisasi industri. hubunga kerja pemilik perusahaan dan nelayan atau anak buah kapal adalah sistem karyawan dengan pola penggajian bulanan disertai bonus terhadap kelebihan hasil tangkap atau kinerja lainnya. hubungan ini berdasar kontraktual yang bersifat formal.

Nelayan di Pantai Utara Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera, kebanyakan menjali hubungan sosial yang informal dengan pemilik kapal yang disebut ponggawa. pengupahan dilakukan dengqan sistem bagi hasil, dengan biaya operasional di ongkosi terlebih dahulu oleh pemilik kapal, namun dibeban kan bersama pada hasil tangkap. hasil bersihnya di bagi sebagian untuk pemilik kapsal, sebagian lainnya untuk nahkoda dan para nelayan yang menyertai.

Dalam strategi kedepan, hendaknya apapun wajahnya, secara bertahap harus menuju padaa pelaksanaan work in fishing convension, msebagai arah mensejaterahkan nelayan, dengan penghasilan yang layak, jaminan asuransi yang jelas dengan kondisi kerja yang memadai. dengan demikian kedua pasangan nelayan yang berada di kawasan timur dan barat indonesia atau nelayan moderen dan nelayan tradisional akan lebih baik, dan jurang antara keduanya semakin menyempit.  

Sumber : Sekretaris Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN)
Jl. Tawes Dalam No. 1 Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Telp. (021) 7807668 HP. 08161933911 email : soenanhp@yahoo.com

]]>
2011-01-11 14:44:25
GEMARIKAN, MIE INSTAN DAN GERAKAN SEHARI TANPA NASI http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/3463/GEMARIKAN-MIE-INSTAN-DAN-GERAKAN-SEHARI-TANPA-NASI/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/3463/GEMARIKAN-MIE-INSTAN-DAN-GERAKAN-SEHARI-TANPA-NASI/?category_id=30
GEMARIKAN, MIE INSTAN DAN GERAKAN SEHARI TANPA NASI
Oleh ;
Achmad Subijakto, A.Pi. MP

Seminggu yang lalu di bulan Oktober 2010 ini  pemerintah melalui Kementerian Pertanian meluncurkan gerakan sehari tanpa nasi.  Suatu kegiatan moral yang bertujuan untuk menekan konsumsi beras yang sudah demikian membumbung tinggi.  Bisa dibayangkan jika semua orang atau masyarakat Indonesia mengandalkan beras yang terlalu besar, yang terjadi adalah penurunan kualitas gizi yang berimbas pada kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.  Sebut saja dengan konsumsi beras 139 kg perkapita pertahun, artinya setiap hari mereka mengkonsumsi beras 380 gram perhari.  Bandingkan dengan Malaysia yang hanya 200 gram perhari atau Jepang yang hanya 164 gram perhari.  Jumlah konsumsi beras yang luar biasa dan jika dimasak menjadi nasi, mereka (orang Indonesia) bisa dikatakan benar-benar pemakan nasi yang bisa kenyang hanya dengan nasi.  Artinya adalah, jika tidak ada nasi, mereka tidak kenyang dan hanya menjadikan lauk pauk (protein) sebagai pelengkap karena yang mereka utamakan adalah keberadaan nasinya dan bukan lauknya.

Demikian juga halnya dengan masalah mie instan yang sering masuk dalam berita di media  bulan ini dan menjadi isu hangat dengan ditariknya peredaran beberapa produk mie instan Indonesia dari Taiwan.  Dari 93 milyar bungkus mie instan yang ada di seluruh dunia Indonesia menempati nomor urut ke 2 dalam konsumsi mie instan. Jika dilihat dari kandungan nutrisi yang ada pada mie instan, meski kaya akan karbohidrat, sebenarnya sangat miskin protein.  Masalahnya adalah, sebagian masyakat Indonesia ada yang menggunakan mie instan ini sebagai lauk ataupun sayur berkuah yang digunakan sebagai teman nasi dalam kehidupan konsumsi sehari-hari.   Sungguh suatu kondisi yang mengenaskan, sudah banyak makan nasi dengan karbohidrat tuinggi, masih juga makan mie instan yang juga mengandung karbohidrat tinggi.  Terus kapan makan proteinnya?

Lain halnya jika kita melihat sisi lain sumber bahan makanan yang kaya akan protein yaitu ikan.   Sudah hampir sewindu pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perkanan menggagas gerakan makan ikan atau lebih dikenal dengan GEMARIKAN.  Satu gerakan moral yang jika dilihat tujuannya akan terlihat betapa gerakan ini mempunyai implikasi ke depan dalam membangun masyarakat Indonesia yang lebih sehat dengan mengkonsumsi ikan dalam jumlah yang lebih banyak demi terjaminnya kualitas nutrisi bagi masyarakat Indonesia.. Hanya saja, mengubah pola konsumsi masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur dengan pemikiran agraris ini sangat sulit sehingga masih memandang ikan sebagai komoditas penunjang dan cukup memenuhinya dalam  sedikit saja.  Gimana tidak, mereka bisa makan nasi 1 piring dengan hanya sepotong ikan asin.  Cuma karena mereka sebagai orang timur yang terbiasa merendah, kenikmatan itu tidak boleh banyak-banyak karena dianggap tidak elok. Jadilah ikan asin hanya sedikit saja yang mereka makan dan nasi tetap yang menjadi andalan dalam konsumsi sehari hari.

Pemerintah sudah menyadari hal ini, hanya saja merubah pola pembangunan yang agraris
menjadi negara kepulauan ataupun bahari dengan sumberdaya kelautan dan perikanan yang melimpah sungguhlah sulit. Sejarah menunjukkan sudah sejak zaman Majapahit dan kemudian diteruskan oleh masa kerajaan Mataram, pembangunan lebih diarahkan pada sektor pertanian.  Hal ini tentu saja berpengaruh pada pola konsumsi masyarakat yang lebih mengandalkan pemenuhan kebutuhan bahan pokok yaitu beras dan bahan makanan lain yang mengandung karboidrat tinggi.  Apalagi sejak zaman orde baru dimana konsep utamanya adalah swasembada beras, maka yang terjadi adalah hampir semua masyarakat Indonesia dengan mudah mendapatkan beras.  Akibatnya, orang Madura yang dulu makan jagung sudah beralih ke beras, orang Maluku dan Papua juga sudah meninggalkan sagu.  Ini karena distriusi beras benar-benar sudah merata di tanah air karena adanya Bulog yang banyak mendirikan gudang beras dimana-mana.

Bagaimana dengan pola konsumsi ikan?   Tentu saja masih jauh dari harapan, pembangunan sektor kelautan dan perikanan juga mash jauh dari impian  Hal ini bisa dilihat dari struktur anggaran APBN kita dari tahun ke tahun.  Bahkan untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak masuk dalam 10 besar anggaran sampai tahun 2011 nanti.  Ini bukan berarti sektor Kelautan dan Perikanan termarjinalkan.  Sebab masih banyak agenda pemerintah dalam membangun negeri ini.  Meskipun demikian, masih ada program unggulan Minapolitan yang diharapkan mampu merubah pola pikir seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam memandang ikan sebagai komoditas unggulan.  Pemerintah dalam hal ini Presiden SBY bahkan sudah menyebut Minapolitan sebagai program aktual yang diharapkan mampu mendongkrak devisa negara dan menyerap banyak tenaga kerja.  Jika program ini berhasil, yang pertama adalah adalah terbentuknya kawasan indusrtri perikanan terpadu dan selanjutnya akan mempunyai multi layer effect yang mampu merubah pola pikir dan perilaku masyarakat dalam membangun wawasan negara kepulauan atapun kebaharian.  Ini akan berimbas pada peningkatan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup sehingga dapat mengubah pola konsumsi yang hanya mengandalkan pemenuhan kebutuhan makanan pokok untuk beralih pada pemenuhan kebutuhan protein yang lebih baik.

Konsep pembangunan kelautanan perikanan sudah semakin maju.  Gerakan gemar makan  ikan harus didukung secara nyata dan bersungguh-sunguh untuk memperbaiki kualitas gizi dan selanjutnya hidup manusia Indonesia.  Jika setiap orang menyadari arti pentingnya ikan bagi pemenuhan kebutuhan konsumsi, komoditas ikan akan menjadi produk utama yang harus terpenuhi  Bahkan mie instan yang beredar akan aman dikonsumsi, bukan karena murahnya harga tetapi karena telah dimodifikasi nutrisinya dengan penambahan protein dari ikan.  Tentu bisa, ikan dan tepung ikan yang ada dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kandungan protein mie instan.  Pola ini juga akan berpengaruh pada perilau konsumsi masyarakat yang megandalkan beras untuk konsumsi.  Dengan semakin lancarnya distribusi dan rantai dingin sistem pemasaran ikan, produk ikan dan olahan ikan akan semakin mudah didapatkan.  Bahkan akan banyak orang yang memilih ikan sebagai sumber protein utama karena harga dan kemudahannya untuk mendapatkannya.  Sistem distribusi seperti beras dapat ditiru dalam memudahkan pemerataan keberadaan ikan yang dapat dengan mudah diperoleh masyarakat dimana saja.  

Akankan ini bisa terwujud?  Tergantung dari kemauan kita semua.  Pemerintah dengan kebijakan dan regulasinya, swasta dengan industri yang mendongkrak perekonomian dan masyarakat dengan tenaga kerja, sistem sosial budaya yang kesemuanya itu dapat diakomodir dan diadopsi untuk kepentingan masyarakat Indonesia itu sendiri.

Membangun suatu peradaban tidaklah mudah, merubah perilaku masyarakat juga sulit  dan tidaklah murah.  Perlu waktu dan biaya cukup besar untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang besar dan mandiri.  Suatu saat Indonesia akan dikenal sebagai negara kepulauan, negara bahari dan negara agraris dengan kondisi geogafis sebagai modal utama membangun negara.  Nantinya Indonesia tidak hanya swasembada beras, tetapi akan lebih banyak swasembada komiditas perikanan seperti rumput laut, bandeng, lemuru, udang, garam dan komoditas perikanan yang lain.  Ini akan dapat terwujud jika pola perilaku masyarakat yang telah berubah dari manusia pemakan nasi menjadi manusia pemakan ikan...karena kita negara bahari!

Sumber : Achmad Subijakto, A.Pi., MP
              Widyaiswara Kementerian Kelautan dan Perikanan di BPPP Banyuwangi
              Perum Permata Giri Blok DD 8 Banyuwangi

]]>
2010-10-18 08:20:39
GRESIK http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/3422/GRESIK/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/3422/GRESIK/?category_id=30
GRESIK


Lain bangsa, beda coraknya. Stereotype rasional melekat pada orang kulit putih. Hispanic di Amerika Latin dianggap menyukai entertainment. Jepang dan Korea, dalam berbagai kajian setiap tahun bergantian menduduki peringkat tertinggi insan paling produktif dalam kerja. Warga kulit hitam, senantiasa mendominasi fakultas physical education di Amerika Serikat. China Town senantiasa menjadi bagian yang ramai bisnisnya dalam berbagai kota besar di dunia.

Indonesia yang bhinneka memiliki aneka budaya dan corak suku bangsa yang beraneka ragam. Pelaut dari Bugis, Makasar, perantau kuliner dari Tegal dan Lamongan, pebisnis dari Padang, atau stereotype lain dari Sumatera Utara, Manado, Madura, Betawi, Ambon dan sebagainya.

Di barat laut Surabaya, terletak kota pesisir bernama Gresik. Kondisi sosial dan geologisnya membuat beda dengan masyarakat sekitamya. Berupa wilayah gunung kapur, tentu bukan tanah yang tepat untuk bertani. Maka wilayah gersang tersebut menjadi titik produksi industri Semen Gresik. Gunung batu di bagian belakang kota telah menjadi datar, digempur dan digali untuk bahan semen.

Sekeliling kota kecil itupun bukan lahan yang subur untuk bertanam padi. Maka Gresik dikelilingi oleh tambak bandeng dan garam.

Secara sosiologis, di sini terkenal sebagai tempat bermukim penyebar agama Islam di akhir era Majapahit, yakni Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim. Kota kecil ini berbeda dengan perkotaan sekitarnya dengan adanya populasi keturunan Arab yang lebih menonjol, dibanding keturunan Cina.

Oleh karena kondisi alam yang tidak agraris, ditambah lokasi pesisir yang membuatnya menjadi bandar terpandang di masa lalu, serta komunitas Arab yang dominan, maka Gresik telah menjadi kota industri dan perdagangan yang unik. Industri besar dibentuk oleh Semen Gresik, dan disusul oleh pembangunan pabrik Petro Kimia di akhir tahun 1960-an. Industri kecil penghasil tas, sandal, kopyah, pakaian, makanan kecil dan industri rakyat lainnya, telah membentuk komunitas yang berbeda dengan subkultur masyarakat sekelilingnya. Beda dengan Surabaya, Lamongan, Mojokerto ataupun Tuban.

Berbeda dengan masyarakat agraris yang dalam . pola hidupnya memerlukan kebersamaan. Baik saat musim tanam, maupun saat panen. Masyarakat industri dan pedagang, setiap sen pendapatan, tentu diperoleh dari hitungan dagang yang cermat. Oleh karenanya, serupa dengan masyarakat industri di Barat atau komunitas modern lainnya, kesan individualistis tampak lebih menonjol dibanding masyarakat agraris.

Di wilayah itu, apabila seseorang mengajak teman pergi minum atau makan, ke warung atau restoran, mereka membayar sendiri-sendiri sesuai yang dipesan masing-masing, maka yang demikian digunakan istilah "Gresikan". Kiranya kultur demikian memang hams melekat pada para wirausahawan. Harus waspada terhadap "terlalu sosial"nya kultur agraris yang terlalu boros terhadap urusan kebersamaan. Atau budaya materialistis yang boros terhadap nafsu hedonisme dan konsumerisme.*


*) Sekretaris Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara
Jl. Tawes Dalam No.1 Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Telp. 021 - 7807668, HP : 0816 193 3911 email: soenanhp@yahoo.com

]]>
2010-10-08 09:42:38
KETUPAT MINAPOLITAN DAN BERKAH MASA DEPAN NELAYAN http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/3404/KETUPAT-MINAPOLITAN-DAN-BERKAH-MASA-DEPAN-NELAYAN/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/3404/KETUPAT-MINAPOLITAN-DAN-BERKAH-MASA-DEPAN-NELAYAN/?category_id=30
KETUPAT MINAPOLITAN DAN BERKAH MASA DEPAN NELAYAN

Oleh ;
Achmad Subijakto, A.Pi., MP
BPPP Banyuwangi

Meski lebaran telah usai, gema hiruk pikuknya masih mampu memberikan nuansa  inflasi moneter  masa lebaran dan ketersediaan stock bahan makanan, tetapi juga sisa-sisa kebahagiaan setelah bertemu sanak saudara untuk menjalin silaturahmi yang sudah menjadi budaya ala Indonesia.  Makna halal bihalal dengan lambang ketupat lebaran yang tadinya sekedar bertemu dan saling memaafkanpun berlanjut dalam konteks yang lain, termasuk terbawa dalam dunia pekerjaan dan berpengaruh dalam pola pikir dalam mengambil suatu kebijakan atau keputusan dari setiap insan.  Merekapun sepakat untuk menumbuhkan makna kebersamaan dalam lingkup yang lebih besar dalam dunia pekerjaan yang berpengaruh pada tatanan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Benarkah lebaran mampu merubah sikap dan perilaku masyarakat termasuk penentu kebijakan dalam memahami dan mengerti akan kebutuhan mereka?  Tentu saja jawabannya dapat terlihat dari kebijakan pemerintah yang dapat dievaluasi apakah sudah memihak rakyat apa belum!.   Masih banyak kekurangan akan tetapi sudah banyak yang telah dilakukan.  Itulah gambaran umum kondisi kehidupan masyarakat yang terus berpacu dalam siklus kehiupan dari masa ke masa.

Program pemberdayaan dan pengembangan sumberdaya masyarakat khususnya pelaku usaha perikanan terus diupakan dan banyak memihak kepada masyarakat kecil, sayangnya kadangkala kita terbentur pada situasi dunia nyata bahwa pergerakan perilaku masyarakat juga sagat dipengaruhi oleh lingkungan dan lapangan kerja yang ada.  Sebut saja misalnya buruh industri pengalengan ikan,  kondisinya tenu sangat berbeda dengan buruh atau pekerja yang mengikuti kegiatan usaha penangkaan ikan.  Betapa tidak, seorang buruh pengalengan ikan hidup dari sekedar gaji mingguan yang berada di bawah UMR setempat dan uang lembur yang besarnya maksimal sekitar Rp. 6.000,- per jam.  Mungkin uang lemburnya sama dengan uang lembur PNS tetapi bedanya gaji PNS adalah 4 kalim lipat gaji mereka.   Akan tetapi hal ni berbeda dengan buruh kapal penangkap ikan, dalam satu bulan mereka bisa berpenghasilan sebesar apa yang diterima PNS yang tentu saja tergantung dari hasil tangkapan ikannya karena mereka hidu dalam sistem bagi hasil dengan sang juragan pemilik kapal.

Tak ubahnya seperti dimana ada gula, di situ ada semut, meskipun masih banyak pengangguran, tidak demikian sebenarnya jika dilihat dari lapangan kerja yang ada di sektor kelautan dan perkanan.  Lihat saja contoh pada saat musim ikan, industri penolahan ikan dan pengalengan ikan sampai kebingungan menambah tenaga kerja untuk dapat memproduksi ikan olahan semaksimal mungkin – mumpung lagi murah harga ikannya – sesuai dengan permintaan pasar.  Akhirnya banyak ibu-ibu rumah tanga yang berduyun-duyun ikut bekerja di sektor ini meskipun dengan kemampuan atau skill yang minim atau bahkan tanpa ada keterampilan sama sekali.   Ya sudah, pada akhirnya perusahaan harus melatih mereka paling tidak seminggu untuk dapat menyesuaikan dengan kebutuhan job pekerjaan yang ada.  Inilah yang mengakibatkan terjadinya kesenjangan dalam pengelolaan SDM kelautan dan perikanan yang sering kita temui.

Di sisi lain konsep produksi industri perikanan selalu mengedepankan efisiensi dalam mengelola usaha yang menghasilkan profit optimal.  Mereka berlomba untuk mendirikan industri perikanan selalu berdekatan dengan sumber bahan produksi yaitu ikan itu sendiri.  Akibatnya adalah terjadinya degradasi masalah lingkungan  sehubungan dengan pencemaran hasil industri terutama pengolahan ikan yang mempengaruhi pola hidup masyarakat di sekitanya.   Bagi orang-rang kebanyakan yang tingal di sekitar industri ersebut mungkin tidak menjadi masalah, akan tetapi bagi orang yang datang berkunjung atau sekedar lewat, entu akan menjadi masalah.

Sebut saja salah satu contoh daerah Muncar yang merupakan salah satu lokasi industri perikanan terbesar di Asia Tenggara, dalam radius 5 km sebelum kita memasuki wilayah kota Muncar, bau tak sedap sudah menyergap kita dan bahkan bau tersebut akan menempel terus menerus meskipun kita sudah lewat atau keluar dari Muncar.  Kenyataan ini menimbulkan berbagai prasangka baik positif ataupun negatif.  Sebagian menatakan bahwa jika Muncar bau ikan, dapat dikatakan bahwa roda ekonnomi sedang berjalan lancar sehubungan dengan produktifitas industri yang sedang mendapatkan bahan baku secara melimpah.  Jangan heran dengan dengan hal ini karena di Muncar ada 193 industri pengolahan ikan dan 11 diantaranya adalah pabrik pengalengan ikan.  Ini baru sebatas di kecamatan mncar saja.  Jadi bisa dibayangkan pada saat musim ikan, hiruk pikuk para buruh penangkap kan, pedagang, pengolah ikan dan semua lapisan masyarakat bergairah karena roda ekonomi sedang berjalan lancar,   Hal ini tentu saja akan terbalik kondisinya pada saat tidak musim ikan, hampir semua industri pengolahan ikan tidak dapat berproduksi karena ketidak ketersediaan bahan baku yang menjadi menu utama dalam proses produksi.

Sepertinya sudah saatnya dilakukan penataan kawasan sentra usaha perikanan.  Jangan sampai terjadi lagi jatuhnya perikanan tangkap di Bagansiapi-api yang tak terkelola dengan baik.  Bukan sekedar mumpung belum terlambat tapi lebih karena rasa tanggungjawab untuk mengelola kawasan perikanan secara bijak demi masa depan masyarakat sendiri.  Kita tak perlu memperdebatkan masalah amdal dan berkah buangan limbah industri pengolahan ikan karena bagi masyarakat sekitar, limbah pengoahan ikan merupakan rejeki yang bernilai ekonomis karena masih dapat dimanfaatkan (diambil dan dijual) oleh masyarakat dengan harga yang cukup tinggi.  Meski sebagian orang mempermasalahkan bau, sebagian yan lain justru mendapatkan berkah dengan adanya bau.  Pokok persoalan ini akan terselesaikan dengan bijak apabila semua lapisan masyarakat mendukung kebijakan baru pemerintah yaitu penataan dan pembetukan kawasan Minapolitan.

Beberapa orang pasti akan bertanya atau sekedar pengen tahu apa yang dimaksud dengan minapolitan.  Hal ini tenu saja wajar.  Akan tetapi sebagian mungkin belum-belum sudah menyatakan pesimisme yang berlebihan yang diakibatkan ketidaktahuan mereka terhadap kebijakan ini.  Hal ini akan diperparah apabila ada segelintir orang yang justru bermain dengan program ini karena dianggap sebagai ”proyek” yang berarti di situ ada duit banyak untuk diperebutkan.  Ini sudah biasa, yang penting adalah tujuan program kawasan minapolitan adalah memihak rakyat dan bukan kepentingan pemerintah.  Jika sebagian dari mereka ada yang bermain untuk kepentingan sendiri, masyarakat harus ikut peduli dan bertangungjawab untuk meminimalisir ekses negatif sebagai akibat dari tindakan dan perilaku buruk tersebut.  Kita tak perlu mengambil untung secara pribadi karena justru masyarakat akan banyak mendapatkan keberuntungan dengan adanya program kawasan minapolitan.

Apa yang bisa diambil manfaatnya dengan pembentukan kawasan minapolitan? Ya tentu saja jelas, sebagai kawasan usaha perikanan, kawasan minapolitan adalah lingkungan terpadu yang terdiri dari beberapa kegiatan industri perikanan baik skala industri rakyat maupun industri perikanan besar yang meliputi kegiatan perikanan tangkap, perikanan budidaya dan pengolahan hasil perikanan yang tergantung pada potensi sumberdaya alam yang ada di sekitar kawasan tersebut dan sesuai dengan tujuan  penetapan pembentukan kawasan tersebut .  Jadi bisa jadi kawasan tersebut mempunyai ciri khas tertentu misalnya kawasan perikanan tangkap, pasti memerlukan indsutri pengolahan ikan, kawasan perikanan budidaya ikan air tawar, pasti memerlukan ketersediaan air tawar dan pasar ikan hidup dan kawasan minapolitan garam pasti membutuhkan tambak garam, ketersediaan air laut yang kontinnyu dan sistem industri garam terpadu sebagai kawasan yang kompleks.

Sifat dan perilaku masyarakat di sekitar kawasan minapolitan pada akhirnya akan dipengaruhi oleh sebuah lingkungan baru yang lebih tertata, tertib dan  mengedepankan kontinuitas produkstifitas.  Ini ang akan mempengauhi pola hidup masyararakat.   Betapa tidak, mereka akan terbawa dalam pola kegiatan ekonomi yang terus menerus dan berkembangnya sistem ekonomi pasar dengan adanya model perdagangan perikanan yang mempunyai ciri khas adanya sisten rantai dingin pemasaran, tumbuhnya pabrik es untuk mensuplai kegiatan penangkapan dan penanganan hasl perikanan ang akan berakibat multi layer efect atau pengaruh menyeluruh pada lapisan masyarakat di sekitarnya.   Jangan heran jika di sekitar kawasan minapolitan akan banyak berdiri bank, penginapan, restoran dan bentuk-bentuk usaha yang lain.  Semua ini dapat tertata dengan baik apabila kita membangunya secara menyeluruh, terpadu dan terencana.

Pengaruh pengembangan kawasan minapolitan akan terjadi secara simultan, jika dikendalikan dan dikelola secara bijak, perkembangan dunia industri perikanan di wilayah sentra industri perikanan tidak akan menjadi bola liar yang berbahaya bagi kelanjutan usaha perikanan itu sendiri.  Bagi nelayan penangkap ikan akan memudahkan mereka untuk mendapatkan bahan operasional armada penangkapan, ketersediaan bahan alat penangkapan  dan sistem pemasaran yang terbuka karena hidupnya aktifitas pelelangan ikan.  Hal ini akan berpengaruh paa efisiensi dan efektifitas kegiataan usaha penangkapan dan meningkatkan kualitas hasil tangkapan yang pada akhirnya juga mendongkrak harga ikan itu sendiri.  Dengan ketersedianya bahan baku berupa hasil tangkapan ikan, kegiatan industri pengolahan ikan juga akan terus berpoduksi secara kontinuitas dan ketersediaan tenaga kerja yang cukup dengan SDM yang terampil karena dalam kawasan minapolitan juga disiapkan pekerja-pekerja terampil hasil pelatihan, pembinaan dan penyuluhan secara terus menerus demi kelangsungan kualitas produktifitas SDM kelautan dan perikanan.  

Jika kita berpikir ke depan, dalam jangka panjang membangun kawasan minapolitan yang mengedepankan keberlangsungan pemanfaatan suberdaya alam secara bertanggungjawab,  tentu juga tidak akan meninggalkan  aspek ekosistem dalam mendukung kelangsungan hidup yang lebih ramah lingkungan.  Kawasan mnapolitan pun memerlukan zona penyangga untuk menjaga alam sekitar tidak rusak karenanya.  Pada sisi daratan diperlukan zona penyangga keberlangsungan  ekosistem daratan untuk menjamin kebersihan udara, ketersediaan air dan meminimalisir pencemaran lingkungan.  Sedangkan pada kawasan perairan diperlukan zona penyangga alam berupa kawasan konservasi atau perlindungan sebagai lokasi strategis untuk keberlangsungan kehidupan habitat ikan dan menjaga kelestarian perairan demi kehidupan yang lebih panjang.  Semua itu adalah berkah dari minapolitan yang seiring dengan telah lewatnya budaya lebaran di bulan syawal.  Dengan jabatan tangan dan silaturahmi, apa yang menjai program pemerintah semestinya adalah benar-benar untuk kepentingan rakyat, semua harus memandang secara bersih seperti makna iedul fitri yang telah berlalu.


]]>
2010-10-04 12:13:13
Ketahanan Nutrisi http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2894/Ketahanan-Nutrisi/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2894/Ketahanan-Nutrisi/?category_id=30 Ketahanan Nutrisi
Oleh : Soen'an Hadi Poernomo *)

Setelah memperoleh jaminan hidup, manusia mengharapkan mendapatkan jaminan kebahagian. Manusia memang membutuuhkan makanan untuk metabolisme, sehingga memperoleh energi untuk tetap hidup. Namun dalam menjalani kehidupan tentu buth kesehatan fisik maupun non-fisik. Oleh karenanya, di tubuh kita tidak hanya memerlukann karbohidrat, dari padi atau jenis biji-bijian lainnya. Setiap individu tentu memerlukan vitamin dan unsur gizi lainnya.

Atas dasar itulah, maka kiranya memang diperlukan ketahanan pangan, atau Food Security. Oleh karenanya, sekarang pemerintah di dunia sepakat untuk memerangi kelapran, hingga tercapai separuh terselesaikan dalam tahun 2015. Dan lebih dari itu, tentu diperlukan pula ketahanan nutrisi atau Nutrition Security. Dengan demikian maka kebutuhan psikologi dasar yang disampaikan oleh Abraham Maslow dalam tangga Psycological Needs nya, menyebut pangan, dapat diartikan kini kuantitati. Dalam jumlah maupun mutu pangan yang dikonsumsi.

Pada jaman baheula, masa primitif, manusia hidup memerlukan otot yang kuat, untuk berburu di hutan, mendaki bukit atau mengangkat beban yang berat. Pada masa kini, tentu saja kesehatan dan kekuatan masih juga diperlukan, untuk menjalani kehiupan yang didera kesibukan. Namun lebih dari itu, untuk mampu bersaing dalam hidup, dibutuhkan pula kecerdasan nalar, kreatifitas, olah pikir yang piawai. Memang target hidup ini harus diperoleh dari pendidikan, pelatihan dan pengalaman. Namun lebih dari itu, secara biologis harus didukung pula dengan asupan nutrisi yang sesuai.

Berbicara tentang kecerdasan, umumnya tentu mengaitkannya dengan protein. Zat putih telur ini tentu bisa diperoleh dari nabati, seperti kedelai dan kacang-kacangan. Namun lebih banyak lagi dari hewani, bisa ayam, sapi, kambing atau ikan. Masing-masing tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Telur kaya aneka ragam asam amino, susu memiliki kalsium dan vitamin D. Adapun ikan memang mudah mengalami kemunduran mutu, karena kadar airnya yang tinggi dan struktur dagingnya yang khas. Tapi kelebihannya, ia menyimpan asam lemak Omega-3 yang mencerdaskan, dan melawan kolesterol yang ditakuti oleh penyyuka daging.

Terlepas dari itu semua, karena Tuhan memberikan kelebihan subyektifitas kenikmatan rasa, tentu sangat tergantung pada selera. Karena masa kini menikmati hidangan adalah perpaduan antara pertimbangan rasional, sosial dan budaya. Kecukupan fisik agar kenyang, pertimbangan gizi agar menikmati kebahagian. Maka dua hal patut menjadi pertimbangan bagi yang kekurangan, yakni Food Security dan Nutrition Security.

*)Anggota Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN)
Alamat : Jl. Tawes Dalam No. 1 Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Telp : 021-7807668
HP : 08161933911
e-mail : soenanhp@yahoo. com

]]>
2010-06-17 11:52:46
Makanan Pilihan http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2880/Makanan-Pilihan/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2880/Makanan-Pilihan/?category_id=30 Makanan Pilihan
Oleh : Soen'an Hadi Poernomo *)

 

Makanan pilihan bukan berarti distinguished food, yang bermakna terlalu feodal. Bolehlah diartikan sebagai chosen food. Inipun tentu bertentangan dengan falsafah Jawa "mangan ora mangan asal kumpul", yang berarti makan ataupun tidak, bukan soal, yang penting adalah berkumpul, bersama. Disatu sisi, falsafah ini menunjukkan kemuliaan filsafat Jawa untuk menjunjung tinggi kebersamaan. Akan tetapi, bisa juga membawa sisi buruk eksklusivitas, bila kebersamaan yang dimaksudkan adalah hanya sebatas keluarganya, kelompoknya atau sukunya. Bertentangan dengan semangat Ukhuwah wathoniyah, semangat nasionalisme, kebangsaan, keindonesiaan, pancasila dan sumpah pemuda, serta Ukhuwah basyariyah, semangat kemanusiaan, sebagai we are the world, we are the one who makes a brighter day.

Di samping itu, filsafat "boleh tidak makan asal kumpul", mungkin utopis. Sangat berbeda dengan tangga kebutuhan psikologis Abraham Maslow, yang menempatkan makan sebagai kebutuhan dasar, sedangkan kebersamaan ditempatkan di tangga ketiga setelah kebutuhan keamanan. Dan realita universal, semua sepakat untuk berhadapan memerangi kelaparan, membangun ketahanan pangan (Food Security). Bahkan dengan target sudah bisa mengurangi sedikit separuh untuk tahun 2015. Dalam realita kehidupan keseharian juga ternyata masyarakat memilih tidak berkumpul, asal memperoleh makan. Ada yang terstuktur melalui transmigrasi, banyak yang berubanisasi dan merantau, bahkan ke mancanegara untuk menjadi TKI.

Budaya berubah, tuntutan meningkat, selera menjadi dinamis. Memilih makanan menjadi berdasarkan pertimbangan empat dimensi. Semula hanya faktor kenyang, agar perut terisi. Kini banyak yang juga mempertimbangkan budaya, bisa sekedar meniru kultur bangsa atau suku lain, ada juga yang berbaur dengan gengsi, untuk agar merasa lebih modern atau trendy. Dimensi ketiga, atas dasar selera pribadi, baik tingkat rasa manis, pedas, asin, atau keunikan rasa lainnya. Dan yang keempat adalah pertimbangan rasional, yakni mempertimbangkan nilai gizi.

Untuk yang terakhir ini tentu melintas batas ketahanan pangan. Memang target minimum adalah memerangi kelaparan dengan bahan pangan pokok, agar tidak lapar, dengan padi atau jenis biji-bijian lainnya. Kalori dipenuhi dengan kabohidrat. Perutpun tidak bereaksi lagi, lemaspun hilang, tertutuplah kebutuhan energi.

Tapi kini, tuntutan diripun berubah. Banyak orang merasa kebutuhan belum tercukupi, apabila diukur hanya sekedar kenyang semata. Kesadaran sedah meluas, bahwa protein pun dibutuhkan. Atau lebih dari itu, memerlukan pula mineral atau vitamin. Dengan demikian, tidak hanya Food Security menjadi target, tapi meningkat menjadi Nutrition Security. Tidak melulu beras, namun tentu protein dari nabati atau hewani. Bisa ayam, sapi, ataupun ikan. Bahkan bila ingin kaya asam amino, maka dipilih telur. Merasa perlu kalsium dan vitamin D, dihsap susu segar. Tidak jarang yang memilih Omega-3, untuk kecerdasan dan memerangi hantu kolesterol, disantap ikan laut dari samudra.

Makanan telah menjadi pilihan, namun begitu disadari menjadi kebutuhan, maka menjadilah target kesejahteraan, Food Security sekaligus Nutrition Security, ketahan pangan sekaligus ketahanan gizi.

*)
Sekretaris Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN)
Alamat : Jl. Tawes Dalam No. 1 Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Telp : 021-7807668
HP : 08161933911
e-mail : soenanhp@yahoo. com

 

Sumber : Majalah Demersal Edisi Mei 2010

]]>
2010-06-15 10:35:10
Nelayan http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2807/Nelayan-/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2807/Nelayan-/?category_id=30 Nelayan
 
 
Oh mon ajeling, odikna oreng majengan abental ombak Sopok angin salajengna Reng majeng banyak ongguk babajene obilang alako bende nyabene.
 
Cuplikan lagu "Tonduk Majeng",dari madura yang berarti "Perahu Nelayan", menggambarkan betul berat dan resiko menjadi nelayan. Bukan main beratnya, hidup para nelayan. Berbantal ombak, berselimut angin selamanya. Nelayan sungguh banyak bahayanya, dapat dibilang mereka bermodal nyawa.
 
Masyarakat Jepang pun menilai profesi helayan adalah kikken, kikui, kitanai, yakni keras, penuh resiko dan kotor. Oleh katenanya, kebanyakan para pemuda Jepang memilih kerja , di darat, yang gajinya sudah lumayan. Pekerjaan di laut .diisi oleh pekerja asing, terutama Indonesia. Sekitar 62% ABK kapal, tuna Jepang adalah dari nelayan muda kita.

Di kapal dengan fasilitas seadahya, yang ruangannya banyak tersita oleh palkah tempat penyimpanan ikan, selama di.laut penuh kerja. Menurunkan jaring atau pancing, mengangkat, menangani dan menyimpan ikan. Siang dan malam. Setiba di pelabuhan masih tetap harus membongkar hasil tangkapan dan memuat umpan, es, air, bahan bakar dan logistik lainnya.
 
Di laut menuju. daerah tangkap, atau fishing ground yang belum tentu pasti kordinatnya. Sudah pasti digoyang ombak, yang tidak jarang diterpa badai atau gulungan ombak yang besar dan ganas, disertai hujan dan angin.Hasilnya pun tidak menentu, kadang melimpah, tidak jarang pula tak seekor ikan pun menghampirinya. Walaupun isyarat alam sering membantu. Dikala gelap bulan, hasil tangkapan lumayan banyak. Di terang bulan, saatnya bermain ndang-ndut, karena di laut sepi ikan. Dikala musim barat, ikan di laut Masalembo, dikala angin timur, ikan telah berpindah ke Selat Karimata. Walaupun penelitian yang menduga keberadaan ikan di bawah posisi kapal, fish finder, telah tersedia. Fasilitas satelit juga mendeteksi suhu muka air laut dan keberadaan plankton" bisa sedikit membantu. Namun keakuratan belurn juga dapat memberikan jaminan.

Kondisi yang serba tidak pasti serta resiko yang besar, memerlukan secara mutlak adanya sistem jaminan atau asuransi di kalangan nelayan. Bisa asuransi jiwa, asuransi,kecelakaan, bahkan asuransi untuk menutup kebutuhan ekonomi, saat hari-hari paceklik. Kondisi ini ada yang berlaku umum, di segenap penjuru tanah air, seperti cuaca, gelap dan terang bulan, ataupun ombak yang.mengancam. Namun adapula yang spesifik daerah, seperti jenis ikan, alat tangkap ataupun kelimpahan ikan. Dengan demikian maka hisa diterapkan suatu program nasional, tapi ada pula yang lebih efektif, apabila diterapkan secara lokal, sesuai wilayah masing-masing yang memiliki karakteristik tertentu.
 
Nelayan banyak pula yang secara geografis mengalami nasib kurang beruntung. Bayangkan saja, dengan domisili di pesisir, intrusi air laut pasti terjadi, sehingga,tidak semua budidaya tanaman bisa dimanfaatkan untuk nrenjadi tambahan penghasilan. Sumur yang asin, menyebabkan usaha ekstra untuk memperoleh air minum dan air yang untuk memasak. Apalagi nelayan yang di lokasi terpencil, atau pulau kecil. Transportasi menjadi permasalahan yang tidak kecil. Beium lagi bila ombak besar, menjadi wilayah yang terisolasi, langka beras, minyak goreng, bahan makanan lain, ataupun bahan bakar. Biaya hidup menjadi mahal, sehingga kesejahteraan sulit diraih. Belum lagi kebutuhan sosial, seperti pendidikan dan kesehatan.

Kondisi seperti diatas tentu memerlukan sentuhan serius dari pemerintah dan berbagai pihak. Apalagi, kalau dikonstitusi dijanjikan bahwa fakir rniskin ditanggung oleh negara. Dalam hal ini tepat pula wasiat Sunan Drajat, salah satu Wali Songo, penyebar agama Islam di Lamongan yang menganjurkan:
 
Wenehno teken marang
wong kq.ng"wuto Wenehno pakean marang
wong kang wudo Wenehno payung marang
wong kang kudanan Wenehno pangan marang
wong kang luwe.*
 
*)Soen'an Hadi Poernono 
Anggota Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN).
Alamat    : Jl. Tawes Dalam No.l Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Telp        : 021 - 7807668
HP         : 08161933911
e-mail     : soenanhp@yahoo.com
 
Sumber : Majalah Demersal

]]>
2010-06-02 09:24:58
Tiram mutiara http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2539/Tiram-mutiara-/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2539/Tiram-mutiara-/?category_id=30 Tiram mutiara 
 
 

Budidaya tiram  mutiara selama ini dianggap rumit dengan waktu pemeliharaan yang bisa lebih dari 3 tahun. Tak heran usaha ini lebih banyak dilakukkan oleh pengusaha bermodal besar.
 
 Tetapi anggaapan tersebut kini berhasil dipatahkan oleh badan riset perikanan budidaya (brkp). Pusat riset perikanan budidaya (prpb)-bagian dari brkp- meluncurkan program ilmu pengetahuan dan teknologi untuk masyarakat (iptekmas) untuk pendederan tiram mutiara bagi  nelayan tradisional. Program ini dilaksanakan oleh balai besar riset perikanan budidaya laut (bbrpbL)gondol,bali. Dimulai dari riset pembenihan dan dilanjutkan pendederan dilaut. 
 
Dengan iptekmas, nelayan bisa melakukan pendederan tiram dari ukuran spat 4-5’mm hingga ukuran 1cm atau ukuran 5-6 cm tergantung permintaan pasar. Untuk mencapai ukuran 1cm  butuh waktu 1bulan dan 7-8 bulan untuk mencapai 5-6cm. Sementara untuk pembesaran hingga mencapai ukuran siap produksi mutiara yang memerlukan waktu sekitar 3tahun dilakukan oleh pengusaha bermodal besar. 
 
Persiapan budidaya 
 
Lokasi untuk budidaya pendederan tiram mutiara antara lain perairan yang subur (kaya plankton), jauh dari jangkauan air tawar berlebih karena spat dan benih rentan terhadap salinitas rendah, terhindar dari banjir dan erosi, arus tidak terlalu kuat agar KJA tidak hanyut, kedalaman ideal maksimum 30 m, substrat dasar pasir atau pecahan karang. 
      
Selain itu hindari kondisi iklim buruk. Bila kondisi sangat rawan, sebaiknya tidak melakukan kegiatan pendederan. KJA bisa diamankan kedarat dan waktu yang ada dimanfaatkan untuk persiapkan. Unit rakit atau KJA sebaiknya tidak terlalu besar supaya mudah dipindahkan. 
 
Wadah budidayanya, KJA terbuat dari bambu dan pelampung drum foam. Untuk budidaya ikan degan unit terkecil 8 m x 8 m terdiri atas 4 lubang ukuran 3 m x 3 m dan jalan setapak untuk kerja lengkap dengan tali jangkar, tali pengikat, dan pemberat 60 kg terbuat dari cor beton.
 
Penebaran spat 
 
Telur yang menetas dihatchery (tempat pembenihan ) dipelihara selama 45 hari, sehingga diperoleh spat dengan ukuran 4-5 mm. Spat menempel pada lembar kolektor yang berupa paranet (waring) ukuran 30 cm x 30cm. Jumlah yang menempel bervariasi, sekitar 100-200 perlembar kolektor. Kolektor dengan spat ukuran 4-5mm bisa ditebar kelaut,dimasukan kedalam frame kubus ukuran 35 cm x 50 cm x 70 cm (terbuat dari 2 kubus yang disusun bertingkat). Penebaran biasanya dua kubus memuat 10 lembar kolektor dan kemudian dimasukan ke dalam kantor waring dengan ukuran mata halus, untuk menghindari predator atau pemangsa dan gangguan hewan air dari luar. Tugas nelayan,membersihkan / mencuci kantong waring itu setiap 1-2 minggu agar aliran air yang membawa makanan untuk spat dan benih berjalan dengan baik. Jika ada spat jatuh karena penempelan kurang kuat atau pengaruh arus dll, maka masih bisa diselamatkan. Pada saat pencucian, benih yang rontok bisa dipindahkan kewaring yang baru dan selama masih hidup benih ini akan segera mencari tempat untuk menempel kembali.setelah umur 1bulan dilakukan grading atau seleksi ukuran sekaligus menghitung jumlah benih ukuran 1cm yang dihasilkan dari total tebar spat. Benih ukuran 1 cm kemudian dipindahkan dari lembar kolektor (dengan cara memotong bisusnya) kedalam waring bendera. Tiap lembar waring  bendera bisa berisi 100 benih siap jual. Jika untuk dibesarkan kembali menjadi ukuran 5-6 cm hanya di isi 50 benih. Untuk pemeliharaan selanjutnya hingga ukuran 3 cm masih perlu diamankan dari gangguan predator. Setelah ukuran 3-4 cm baru kemudian dimasukan kedalam waring anakan dan bisa dipelihara tanpa kubus hingga mencapai ukuran 5-7 cm yang banyak diminati pembeli.
 
Panen,transportasi dan pemasaran  
 
Panen dimulai dengan melakukan grading ukuran karena harga berbeda setiap cm. Untuk transportasi kering, dilakukan dengan styrofoam ukuran 35 x 70 cm, dasar styrofoam diisi dengan spons yang dibasahi dengan air laut, handuk atau sejenisnya.
 
Benih ukuran 1 cm dalam waring bendera atau anakan ukuran 5 cm dimasukan dan disusun hingga styrofoam hampir penuh. Lakukan secara hati-hati jangan di tekan. Kemudian dibagian paling atas dan samping ditaruh es batu air laut yang dibuat dalam botol plastik dan dibungkus koran kepadatan styrofoam ukuran 35 x 70 cm bisa mencapai 6000 ekor benih ukuran 1 cm atau 500 hingga 1000 ekor benih ukuran 5 cm. Styrofoam ini mampu diangkut selama 12 jam untuk benih ukuran 1 cm dan 15 jam untuk benih yang berukuran lebih besar yaitu 5 cm tanpa terjadi kematian berarti program iptekmas ini juga menjalin kerja sama dengan pengusaha sebagai pembeli produk atau benih yang akan dihasilkan dari program tersebut. Ada dua ukuran yang diminta yaitu ukuran 1 cm atau umur 1 bulan dengan harga Rp 300-Rp 500 per ekor benih. Sedangkan ukuran besar 5- 7 cm atau umur 7-8 bulan dibeli dengan harga Rp 1000-Rp 2000 per cm dan semakin besar semakin mahal. Untuk tahap awal nelayan cenderung menjual ukuran kecil karena lebih cepat mendapatkan uang. Pemeliharaan untuk ukuran besar (>3cm) lebih mudah karena cangkangnya sudah kuat, adaptasi lingkungan sudah baik, tdak rawan terhadap predator. Tapi untuk ukuran 2-4 cm dinilai paling kerisis terhadap kematian karena berbagai penyebab seperti predator, lingkungan dll. Dan biasanya kematian tinggi pada umur tersebut. Karena itu pasar yang sekarang diminati adalah ukuran 1 cm atau ukuran lebih besar dari 5 cm. Sementara itu untuk menambah keuntungan, beberapa petani memadukan pendederan tiram mutiara(produksi benih ukuran besar 5-6 cm) dengan memanfaatkan bagian tepi kja ikan untuk menggantungkan waring anakan. 1 kja mampu memelihara 15000 benih yang hanya dikerjakan oleh satu orang dengan 8 hari kerja per bulan untuk membersihkan waringnya. Peluang lainnya, petani bisa memanfaatkan lubang kja bagian dalam untuk memelihara lobster. Baby lobster ukuran campuran dibeli dari nelayan dengan harga Rp120.000 per kg. Kemudian dipelihara selama 3 bulan dan dipanen dengan harga Rp270.000 perkg, dengan ukuran sekitar 10 ekor per kg. 
 
 
sumber: majalah trobos edisi april 2010 hal 84-85 
]]>
2010-04-12 15:20:58
Ketekunan Seorang Ade di Kolam Lele http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2538/Ketekunan-Seorang-Ade-di-Kolam-Lele/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2538/Ketekunan-Seorang-Ade-di-Kolam-Lele/?category_id=30 Ketekunan Seorang Ade di Kolam Lele
 
 
 
Memasuki Kampung Cibeureum RT 08 RW 08, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, terlihat berjajar sekitar 100 kolam terpal warna oranye tempat pembenihan ikan lele sangkuriang. Kampung yang dikenal sebagai sentra perajin sandal ini, kini menjadi sentra usaha pembenihan ikan lele sangkuriang. Ini berkat ketekunan Ade Mulyadi (32), anak kedua dari enam bersaudara pasangan Muchtar (59) dan Rohani (56), sejak dua tahun yang lalu.

Oleh FX PUNIMAN

Keberhasilan Ade mengembangkan usahanya seperti saat ini tentu tak lepas dari mental bajanya yang pantang menyerah. Meskipun kaki kanannya cacat karena polio sejak usia 3 tahun, dia berhasil mengembangkan usaha pembenihan ikan lele sangkuriang, lele butkan baru yang kini semakin populer, terutama di Bogor.

Pengembangan usaha baru, yakni pembenihan ikan lele oleh pemuda itu, boleh disebut sebagai pelopor usaha pembenihan ikan di sentra perajin sandal Cibeureum. Usahanya bukan main-main. Ade bersama 4 pekerjanya tiap hari mengawasi, merawat sekitar 100 kolam pembenihan, dan menabur pakan untuk benih ikan secara tepat waktu dan tepat takaran-nya. Kolam ikan itu tampak unik karena dibuat khusus dengan menggunakan terpal warna oranye yang biasa digunakan untuk tenda.

Menurut Ade, usaha pembenihan ikan lele sangkuriang ini diawali dengan kegagalan dalam mengembangkan usaha pembenihan ikan lele dumbo yang dimodali ayahnya. Saat itu, lebih dari Rp 75 juta uang yang dikeluarkan ayahnya untuk modal usaha pembenihan ikan lele dumbo amblas.

Tak pernah dijual, benih ikan itu mati diduga terserang penyakit," kata Muchtar, ayah Ade. Sebelum bergabung dengan anaknya mengusahakan pembenihan lele sangkuriang, Muchtar adalah pedagang di pasar dan perajin sandal.
Belajar

Suatu hari, Muchtar yahg beralih profesi menjadi pembenih ikan lele ini memperoleh keterangan tentang "pendekar lele sangkuriang" Nasrudin, di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Maka, dia pun mendatangi Nasrudin untuk mencari tahu atau "berguru" ilmu perlelean.

Namun, Muchtar tidak lantas berguru secara langsung. Setelah pertemuan dengan Nasrudin dan mendapat gambaran mengenai usaha itu, Muchtar kemudian mengutus Ade untuk mengikuti pelatihan kepada Nasrudin. Setelah itu, Muchtar menyusul bersama dua anaknya yang lain, Wawan dan Trimulyana, untuk menimba ilmu mengenai pembenihan lele.

Ternyata, untuk menimba ilmu tentang lele tidak perlu waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, apalagi bertahun-tahun. Ade mengikuti pelatihan hanya selama 3 hari di pusat pelatihan lele Nasrudin di Kampung Sukabirus. Dia sudah

memperoleh "jurus-jurus" jitu cara memelihara, memberikan pakan, dan mengatasi penyakit ikan secara tepat

Tanpa menunggu waktu lagi, bekal pengetahuan itu langsung diterapkan di lapangan. Ko-lam-kolam pun dibuat tidak dengan menggali tanah, sebagaimana layaknya kolam ikan yang kita kenal selama ini Mereka menggunakan terpal untuk membuat "kolam-kolam" itu, dan kemudian diisi benih ikan lele sangkuriang. Rupanya tanda-tanda keberhasilan usaha lele itu mulai tampak.

"Berangsur-angsur usaha kami itu, berhasil," kata Ade, akhir Maret lalu. Kematian benih lele seperti yang terjadi saat mengembangkan lele dumbo bisa mereka atasi Perlakuan khusus bisa menekan angka kematian benih. Saat ini, usaha mereka sudah jauh berkembang. Siang itu, misalnya, Ade baru saja melayani pembeli benih lele sangkuriang ukuran 4-6 cm sebanyak 4.000 ekor.

Kewalahan

Diawali dari 10 kolam terpal ukuran 2x4 meter untuk pembenihan, kini Ade yang mengembangkan usaha bersama ayah dan adiknya memiliki sekitar 100 kolam pembenihan ikan lele sangkuriang. Muchtar sendiri juga memiliki sekitar 10 kolam pembesaran ukuran 10 x 10 meter.

Satu paket induk lele sangkuriang terdiri dari 10 betina dan 5 jantan. Ade membeli induk lele pada Nasrudin seharga Rp 800.000 per paket Sejak menetas sampai dipanen, usia benih ikan lele sangkuriang ukuran 4-6 cm butuh waktu sekitar 50 hari. Setiap ekor induk lele sangkuriang bisa menghasilkan 70.000-100.000 ekor benih.

"Saat ini, setiap bulan kami baru bisa menjual 300.000 benih dengan harga Rp 150 per ekor," kata Ade. Pesanan benih lele memang terus mengalir.

Namun, tidak semua pesanan itu mampu dipenuhi Ade mencontohkan, adanya permintaan benih sebanyak 1 juta ekor setiap bulan dari pembeli warga Tangerang, Banten, tetapi permintaan itu tidak sanggup mereka penuhi

"Untuk melayani peternak ikan lele sangkuriang di daerah Kabupaten/Kota Bogor dan sekitarnya saja, kami masih kewalahan," kata Ade. Melihat kondisi seperti itu. Ade mencari jalan keluar dengan menyiapkan 10 orang binaan sebagai pembenih ikan lele sangkuriang.

Sementara Muchtar yang memiliki 10 kolam pembesaran mengisi kolamnya dengan 10.000 ekor benih ukur 4-6 cm. Dari 10.000 benih ini, setelah 45 hari dapat dipanen 1 ton ikan lele ukuran 6-7 ekor per kg. Harga jualnya saat ini Rp 10.500 per kg. "Dari panen 1 ton ikan itu, dipotong pakan dan biaya pemeliharaan, masih ada keuntungan sekitar Rp 3 juta," kata Muchtar.

Ade dan ayahnya, sebagai keluarga pelopor usaha pembenihan ikan lele di sentra Perajin Sandal Cibeureum ini, sekarang sering menerima kunjungan tamu yang ingin belajar budidaya ikan lele sangkuriang, baik untuk pembenihan maupun pembesaran. "Kami dengan senang hati menjelaskan bagaimana caranya menjadi pembudidaya ikan lele sangkuriang," kata Ade.

Dia mengatakan, pihaknya memang berkonsentrasi di bidang pembenihan untuk memasok mereka yang berusaha di bidang pembesaran lele sangkuriang. "Lebih menguntungkan jadi pembenih daripada pembesar ikan," kata Ade, seraya menambahkan bahwa kerugian puluhan juta rupiah yang dideritanya dua tahun yang lalu berangsur-angsur dapat ditutupi dari keuntungan penjualan benih ikan.

(FX PUNIMAN, Wartawan Tinggal di Bogor)
 
 
Sumber : Kompas, 12 April 2010.Hal.16 ]]>
2010-04-12 09:20:34
Lezatnya Bisnis Salai Ikan Lele http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2478/Lezatnya-Bisnis-Salai-Ikan-Lele-/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2478/Lezatnya-Bisnis-Salai-Ikan-Lele-/?category_id=30 Lezatnya Bisnis Salai Ikan Lele

 

Salai lele buat sebagian masyarakat Indonesia mungkin masih merupakan makanan yang asing. Ketika menyebut santapan dari ikan berkumis tersebut yang terbayang biasanya pecel lele, mangut lele, ataupun gulai lele karena jenis makanan ini memang bisa dibilang sudah merakyat dan warung ataupun rumah makan yang menyediakan juga sudah menyebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Ya, salai ikan lele, mungkin lebih banyak dikenal di Sumatera Barat atau beberapa wilayah di Sumatera, karena jenis makanan yang berupa ikan lele di keringkan lewat proswes pengasapan ini memang asli dari Sumatera Barat.

Ikan salai cukup diminati, selain bergizi, rasanya juga lebih gurih dibanding ikan- ikan biasanya. Hampir semua jenis ikan dapat dibuat salai, tetapi yang paling di sukai dalah salai ikan lele.

Tak hanya lezat dan bergizi ternyata salai ikan lele memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi untuk dijadikan sebuah usaha sehingga layak jika peluang ini dikembangkan oleh masyarakat.

Salah satu pelaku usaha yang menekuni bisnis salai ikan lele diwilayah Sumatera Barat yakni Desfialti, yang sejak 1989 menggeluti usaha salai ikan dengan modal awal Rp 200.000, untuk membeli pelet (makanan ikan) 50 kg dan bibit ikan lele 1.500 ekor.

Soal harga jual ada dua macam, sali lele mentah ( packing) seberat 300 gram dengan harga Rp 30.000, dan salai siap saji (packing) seberat 200 gram harga Rp 300.000.

Dari perhitungan usaha dapat diketahui untuk 3 kg ikan basah dihasilkan 1 kg lele asap. Jika ikan lele segar 3 kg sekitar Rp 36.000 kemudian garam Rp 3.000 dan kayu bakar Rp 10.000, upah tenaga kerja Rp 10.000 serta harga jual ikan lele asap Rp 70.000 maka keuntungannya yang didapat sekitar Rp 11.000/ kg lele asap. Sebuah keuntungan yang cukup menggiurkan.

Sementara itu Zarpendi yang menekuni usaha salai lele di Pasaman Barat sejak 2005 mengungkapkan walaupun proses pengelolahannya masih secara tradisionil dan sederhana, tetapi UKM Family mampu menghasilkan sekitar 500 kg per minggunya, yang dijual Rp 75.000 /kilogram ke seluruh Sumatera Barat.

Masih Tradisional

Selama ini pembuatan salai lele masih memakai alat tradisional, hanya proses pengasapan memakai oven. Pertama- tama ikan lele disortir, kemudian dibelah sehingga berbentuk melebar, dibuang insang dan isi perutnya, lantas dicuci dan ditiriskan, diberi bumbu dan didiamkan selama 15 menit agar bumbu meresap.

Ikan lele diletakkan secara teratur di atas alat terai yang terdapat didalam oven pengasap, dilanjutkan ke proses  pengasapan selama lebih kurang dua hari jam kerja dengan api kecil sampai lele kering dengan merata.

Setelah itu lele dikeluarkan dari oven dan dianginkan pada suhu kamar, setelah salai lele dingin lalu dikemas dengan menggunakan kantong plastik polythylene dan karton dupleks yang sudah dipriting.

Proses pembuatan salai lele siap saji, dan salai lele mentah sama. Bedanya untuk salai siap saji dilanjutkan ke proses penggorengan dan pemberian bumbu. Sementara untuk limbah lele yang berupa insang dan isi perut dimanfaatkan sebagai makanan ikan dengan nilai jual Rp 1.500 per kg.

Salai lele kini pasarnya tidak hanya di wilayah Sumbar saja, tetapi sudah merambah ke Pekan Baru, Jambi, Batam, Tanjung Pinang, Jakarta dan bahkan ekspor ke Malaysia dan sudah berjalan selama tiga tahun. 

Meskipun peluangnya cukup prospektif namun demikian bukan berarti usaha salali ikan lele ini tidak ada kendala. Sejumlah hambatan yang sering di hadapi para pelaku usaha ini seperti keterbatasan peralatan yang tersedia (masih manual) sehingga mutu produk yang di hasilkan kurang baik terutama saat memproduksi dalam jumlah besar.

Kesulitan untuk menembus pasar Swalayan karena pembayaran secara konsinyasi bahkan walaupun produk sudah laku terjual tetapi pembayaran terlambat.

Pemasran di wilayah Padang terbatas hanya di titipkan pada toko - toko ternama Penjual makanan khas Sumatera Barat.

Keterbatasan modal untuk pengembangan produk maupun investasi, sangat sulit untuk mendapatkan kredit dengan bunga lunak dan penyiapan agunan. 

Namun demikian dengan melihat potensi ikan lele yang cukup melimpah di hampir seluruh wilayah Indonesia, nampaknya usaha pengolahan ikan seperti salai ini cukup prospektif, tak hanya dikembangkan di Sumatera Barat namun juga di tanah air.

 

Sumber : Majalah Demersal

 

]]>
2010-03-30 10:55:30
Sidat Jadi Primadona http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2471/Sidat-Jadi-Primadona/?category_id=30 http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2471/Sidat-Jadi-Primadona/?category_id=30 Sidat Jadi Primadona

 

Ikan sidat (Anguilla sp) mungkin tidak di kenal banyak orang di sini. Tapi, dia berbagai negara ikan sidat njadi makanan primadona yang harganya sangat mahal. Sidat adalah sejenis belut, namun bentuknya lebih panjang dan besar. Ada yang mencapai 50 cm. Memang tidak enak dilihat. Tapi siapa sangka, konsumen asing aggap cita rasa ikan sidat enak dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kalau di restoran Jepang, ikan ini sebutannya Unagi, dengan harga sangat mahal. Dan sidat inilah menjadi salah satu primadona yang terus dikembangkan dan diteliti di BLUPPB Karawang.

Guna melihat secara langsung komoditi ini, belum lama ini Pusat Data Statistik, dan Informasi (Pusdatin) menyelenggarakan Kunjungan Pers Komuditas Wartawan Kelautan dan Perikanan (Komunikan) ke balai ini. Dihadapan 30 wartawan ibukota, IMade Suitha, Kepala BLUPPB Karawang menjelaskan budidaya ikan sidat di Indonesia baru dimulai sekitar tahun 2007 oleh Satuan Kerja Tambak Pandu Karawang.

"Melihat permintaan pasar dunia yang sangat besar mendorong kami untuk melakukan penelitian budi daya ikan sidat diBLUPPB Karawang,"jelasnya.

Sekarang, pengenbangan budidaya ikan sidat di Pandu Karawang sangat berhasil. Kendati Jepang dan Thailand cukuip lama membudidayakan, kedua negara menggunakan benih dari Indonesia.

BLUPPB Karawang, menurutnya, siap memberikan batuan dalam bentuk teknologi budidaya bagi masyarakat yang ingin berwirausaha. Saat ini, beberapa kelompok masyarakat dan perorangan telah melakukan pembudidayaan ikan sidat di tambak Pandu Karawang,

"Kami menyediakan lahan yang bisa disewa maksimal dua tahun. Setelah itu mereka harus mandiri, untuk memberi kesempatan pada masyarakat lain yang ingin belajar budi daya ikan sidat," jelasnya.

Sidat kini menjadi salah satu peluang bisnis yang sangat besar. Ekspor ikan sidat teutama ke Mancau, Taiwan, Jepang, China dan Hongkong, Potensi pasar negara lain yang belum digarap antara lain Singapura, Jerman, Italia, Belanda dan Amerika Serikat.

Harga ikan sidat memang sangat menggiurkan, di tingkat petani ikan sidat utuk elver dijual mencapai Rp 250 ribu per kg. Untuk ukuran 10-20 gram berkisar antara Rp. 20 ribu sampai Rp. 40 ribu per kg,sedangkan ukuran konsumsi lebih dari 500 gram untuk jenid Anguilla bicolor pada pasar lokal rata-rata Rp. 75.000/kg, jenis Anguilla marmorata Rp. 125 ribu Rp. 175 ribu per kg.

Sidat juga banyak keunggulan, diantaranya terdapat kandungan vitamin A, kandungan EPA rata-rata lebih tinggi DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atautenggiri 748 mg/100 gram.

 

Sumber : Majalah Damersal Maret 2010 

]]>
2010-03-29 12:30:13