Info Media

Swasembada Garam Rakyat Harus Ditingkatkan
09/07/2013 - Kategori : Info Media

Swasembada Garam Rakyat Harus Ditingkatkan
 
JAKARTA, (PRLM).- Tahun 2012, Indonesia telah mencatat sejarah penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan garam konsumsi. Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat atau lebih dikenal dengan nama PuGaR yang telah diinisiasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2010, telah berhasil memicu tercapainya Swasembada Garam Rakyat.
 
Pelaksana Tugas Kepala Badan Litbang Kelautan dan Perikanan Dr. Achmad Poernomo mengatakan, produksi garam rakyat tahun 2012 tercatat lebih dari 2,1 juta ton. Sementara kebutuhan garam konsumsi pada tahun yang sama diperkirakan 1,5 juta ton. "Ini sebuah prestasi bangsa Indonesia yang perlu dibanggakan dan sudah barang tentu prestasi ini harus tetap dipertahankan atau ditingkatkan," kata Achmad Poernomo dalam siaran pers, di Jakarta, Senin (8/7/2013).
 
Menurut dia, ada sebuah pertanyaan mendasar, bagaimana dapat mempertahankan jumlah produksi garam rakyat ini. Pasalnya, produksi garam sangatlah tergantung pada peran aktif serta minat masyarakat untuk selalu berproduksi garam. "Apabila garam belum dapat menjadi penopang utama kebutuhan ekonominya, bukanlah mustahil mereka meninggalkan berladang garam, beralih ke kegiatan ekonomi yang lebih menjanjikan," katanya.
 
Sementara itu, Kepala Puslitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir Dr. Budi Sulistyo mengatakan, perangkat pemurnian garam sederhana, yang telah dihasilkan Puslitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir – Badan Litbang Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Universitas Hang Tuah Surabaya, telah berhasil mendongkrak nilai tambah garam. Budi mengatakan, alat ini mampu meningkatkan tingkat kemurnian rata-rata kandungan NaCl 88% garam krosok menjadi garam halus dengan kandungan NaCl lebih dari 94%. Alat pemurnian garam telah diterapkan sejak tahun 2009 sebagai Iptek untuk masyarakat atau lebih dikenal sebagai Iptekmas Garam di 18 lokasi kelompok penerima tersebar di Indramayu, Cirebon, Pati, Rembang, Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Pada tahun 2012, paket teknologi telah mengalami penyempurnaan.
 
Paket yang diterapkan tidak hanya proses pemurnian, tetapi juga telah dilengkapi dengan perlatan iodisasi dan pengemasan. Kemampuan produksi rata-rata dapat mencapai 2 ton per hari dan menyerap 3-5 tenaga kerja. Inovasi sederhana dalam pengolahan garam krosok yang disiapkan menjadi garam konsumsi rumah tangga ini telah berhasil memberikan nilai tambah Rp 500,hingga Rp 1.000 per kg. Dikatakan, selain memberikan nilai tambah garam, teknologi pemurnian garam ini telah memberikan peluang kepada petambak garam untuk menjual garam olahan bukan lagi garam krosok. "Peluang ini sudah barang tentu membuka peluang pasar garam yang lebih luas bahkan dapat merambah kepada pasar industri yang menampung produk garam dengan tingkat kemurnian serta kehalusan yang dihasilkan," tuturnya.
 
Seiring berkembangnya usaha garam rakyat yang dipacu melalui PuGaR, Badan Litbang KP bersama mitra kerjanya Universitas Hang Tuah pada 2013 telah menyempurnakan paket teknologi pemurnian garam berupa kapasitas produksi rata-rata 4 ton per hari, penerapan teknologi otomatisasi iodisasi, efisiensi dan higenitas sistem pengemasan, serta optimalisasi pemanfaatan energi limbah.
 
Peluncuran Iptekmas Garam 2013 dilaksanakan di Gedung Ganesha, Universitas Hang Tuah Surabaya oleh Plt. Kepala Badan Litbang KP Dr. Achmad Poernomo bersama Rektor UHT Laksdya Purn. Jurianto, SE, dihadiri oleh para pendamping PuGaR, dinas-dinas KP, penerima paket Iptekmas, industri, pakar, dan praktisi. Achmad Poernomo menekankan, Litbang Garam merupakan salah satu fokus utama Litbang Kelautan dan Perikanan. Iptek yang dihasilkan diharapakan tidak sebatas mengawal swasembada garam, namun jauh lebih diarahkan untuk mendukung kemandirian produksi garam nasional. "Apabila Litbang Garam ditekuni secara serius dan konsisten, Achmad Poernomo menaruh keyakinan tinggi bahwa kemandirian produksi garam nasional bukan lagi sebuah mimpi," katanya.
 
Ditambahkan, litbang diharapkan mengawal peningkatan kualitas garam rakyat dari penerapan teknologi pembuatan garam, pengolahan garam yang dapat menghasilkan garam berkualitas industri, serta teknologi pembuatan produk turunan garam. "Penerapan teknologi-teknologi tersebut pada akhirnya akan memberikan nilai tambah produksi garam yang dapat memberikan dampak positif kepada perekonomian para petambak garam," kata Achmad Poernomo. 
 
 
Sumber: PIKIRAN RAKYAT ONLINE.COM Tanggal 8 Juli 2013 Hal.1


Jajak Pendapat

Menurut Pendapat Anda, apakah dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, seharusnya pembangunan berbasis kemaritiman?