Info Media

Ekspor Tuna Terus Meningkat
25/07/2012 - Kategori : Info Media


Ekspor Tuna Terus Meningkat 


JAKARTA (Suara Karya): Realisasi ekspor tuna asal Indonesia pada 2011 sebesar 141.774 ton meningkat dibanding 2010 yang hanya 122.450 ton. Secara umum, ekspor perikanan pada 2012 menunjukkan kecenderungan peningkatan, khususnya ke Jepang dan Amerika Serikat (AS). 
Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, kemarin. Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo melaksanakan acara Safari Ramadhan 1433 Hijriah di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap, Jawa Tengah. 
Menurut Sharif, ekspor tuna Indonesia terus mengalami peningkatan sejak 2009. Jika pada 2009 nilai ekspor tuna adalah sebesar 352 juta dolar AS dan meningkat menjadi 383 juta dolar AS pada 2010, pada 2011 ekspor tuna mencapai 499 juta dolar AS. Di sisi lain, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya memperluas pangsa pasar ekspor untuk dapat menggenjot devisa dari sektor perikanan. 
Ikan tuna merupakan salah satu komoditas perikanan utama Indonesia yang memiliki wilayah laut terluas di ASEAN. Indonesia sendiri diperhitungkan sebagai produsen utama tuna dunia. Berdasarkan data Organisasi Pangan Dunia (FAO), produksi tuna ASEAN di dunia mencapai 26,2 persen atau sebesar 1,7 juta ton. Produksi ikan tuna, cakalang, dan tongkol nasional pada 2011 sebesar 955.520 ton dengan tuna sendiri sebesar 230.580 ton.
Seperti diketahui, dalam kegiatan Safari Ramadan di PPS Cilacap, Sharif berkesempatan memberikan bantuan senilai Rp 3,59 miliar untuk peningkatan produksi dan daya saing produk perikanan. Bantuan berupa lima paket program pengembangan usaha mina pedesaan (PUMP) untuk kegiatan perikanan budi daya senilai Rp 325 juta. Selain itu Solar Packet Dealer Nelayan (SPDN) senilai Rp 703 juta serta sarana dan prasarana pengolahan serta pemasaran hasil perikanan senilai Rp 1,31 miliar.
Bantuan diberikan karena pemerintah menilai potensi perikanan laut di Cilacap tergolong tinggi, seperti produksi ikan tuna, tongkol, tenggiri, dan produki laut lainnya. Apalagi program industrialisasi perikanan tangkap memang berbasis ikan tuna, tongkol, dan cakalang.
Hal senada juga diungkapkan Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) Haryomo. Menurut dia, potensi perikanan laut Cilacap mempunyai nilai ekonomis tinggi dan hasil tangkapan nelayan terus meningkat. Hasil tangkapan nelayan yang dapat mencapai 5 ton ikan tuna per hari. Nelayan juga kian bergairah melaut dengan banyaknya kapal yang bersandar di PPSC yang mencapai 805 unit per hari. 
Sementara untuk menampung ikan nelayan di PPS Cilacap, sudah disiapkan tempat pendinginan (cold storage) dengan kapasitas terpasang 20-30 ton. Volume ekspor ikan melalui PPS Cilacap pada 2011 mencapai 3.376 ton dengan nilai sekitar 19 juta dolar AS. 
Untuk itu, lanjutnya, pemerintah harus terus melengkapi fasilitas di PPS Cilacap. Dengan kenyamanan dan keamanan serta akses pasar maupun berbagai kemudahan lainnya, hasil tangkapan ikan nelayan bisa ditampung dan dikelola secara maksimal. 
"Masalah hanya masih kurangnya pasokan bahan bakar minyak jenis solar. Sebab, kapal yang beroperasi banyak, sehingga butuh BBM banyak pula. Saat ini PPS Cilacap telah memiliki satu unit SPDN berkapasitas 1.200 kiloliter, namun hanya mendapatkan pasokan sebesar 900 kiloliter. Jadi ada kekurangan 300 kiloliter. Bahkan jika sedang musim ikan, maka kebutuhan BBM bisa melonjak hingga 1.800 kiloliter. (Andrian) 


Sumber: Suara Karya, 25 Juli 2012 hal. 6
Jajak Pendapat

Menurut Pendapat Anda, apakah dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, seharusnya pembangunan berbasis kemaritiman?