Siaran Pers

INDOAQUA-FITA 2012: PACU PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA UNTUK KETAHANAN PANGAN
11/06/2012 - Kategori : Siaran Pers

Siaran Pers
No. B.76/PDSI/HM.310/VI/2012
 
INDOAQUA-FITA 2012: PACU PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA UNTUK KETAHANAN PANGAN
 
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkomitmen penuh untuk meningkatkan produksi dan produktivitas perikanan budidaya yang berdaya saing, berkeadilan, berkelanjutan diiringi produk yang memenuhi standar mutu  pangan (food safety). Komitmen ini terlihat dengan menempatkan komoditas udang, rumput laut, bandeng dan patin sebagai komoditas utama mendukung industrialisasi perikanan. Selain itu, KKP juga menerapkan sertifikasi perbenihan dan pembudidayaan guna menghasilkan produk yang menganut jaminan mutu. Kemudian, mempercepat pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana budidaya serta mengembangkan kerjasama dan kemitraan dengan perbankan maupun lembaga pembiayaan lainnya. Disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C.Sutardjo saat membuka acara Indonesia Aquaculture (INDOAQUA) dan Forum Inovasi Teknologi Aquaculture (FITA) 2011 di hotel Aryaduta, Makassar hari ini (8/6).

Lebih lanjut Sharif menuturkan bahwa untuk meningkatan produksi dan produktivitas perikanan budidaya, strategi yang ditempuh KKP adalah melakukan intensifikasi, ekstensifikasi maupun diversifikasi. Dalam mewujudkan industrialisasi perikanan budidaya, dibutuhkannya kegiatan penelitian, perekayasaan dan pertukaran informasi melalui gelar teknologi. Atas dasar itulah, KKP kembali menggelar INDOAQUA-FITA 2012  yang berlangsung tanggal 8 hingga 11 Mei 2012 di Makassar.

Dalam perhelatan tahunan ini, Menteri Kelautan dan Perikanan juga secara resmi merilis vaksin ikan Aeromonas hydrophyla atau disebut CAPRIVAC AERO-L® dan beberapa varietas unggul perikanan budidaya, seperti ikan nila NIRWANA (Nila Ras Wanayasa) II, ikan nila SRIKANDI, ikan nila Sultana, dan ikan Torsono. Ikan nila NIRWANA II sendiri merupakan hasil pengembangan dari NIRWANA sebelumnya. Kehadiran vaksin ikan Aeromonas hydrophila   menjadi solusi dalam mengatasi kegagalan pembudidaya ikan skala kecil sehingga mampu mengatasi problem penyakit ikan yang selama ini menghantui kegagalan budidaya. Sementara itu, kehadiran varietas unggul perikanan budidaya diyakini dapat memacu produksi perikanan budidaya.   "Sinergitas antara peneliti dan perekayasa dengan  pemerintah, masyarakat pembudidaya dan pelaku usaha dapat menjadi memacu produksi dan produktivitas perikanan budidaya“, sambung Sharif.
 
Perluasan dan intensifikasi budidaya perlu dibarengi keseimbangan antara pembangunan ekonomi, jaminan atas pasokan dan ketahanan pangan, serta lingkungan yang berkelanjutan dan tangguh. "Untuk memacu produktivitas dan keuntungan yang berkeberlanjutan dibutuhkan suatu kebijakan terintegrasi antara kebijakan ekonomi makro, pengembangan infrastruktur, sistem usaha dan investasi, ilmu pengetahuan dan teknologi dan sumberdaya manusia untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan", ujar Sharif.

Industrialisasi perikanan budidaya merupakan sektor yang paling cepat berkembang dibandingkan dengan sektor perikanan tangkap yang laju produktivitasnya dinilai semakin menurun disebabkan oleh kegiatan penangkapan yang dilakukan secara berlebihan  atau over fishing.  Hingga kini, perikanan budidaya memiliki potensi yang sangat besar kendati baru sebagian kecil saja yang dimanfaatkan. Sharif mencontohkan, potensi tambak seluas 2.963.717 ha, namun baru terealisasi 682.858 ha dan itupun sebagian besar menerapkan teknologi tradisional.

Lanjutnya, potensi budidaya laut seluas 12.545.072 ha, dan baru terealisasi hanya 117.649 ha.  Disamping itu,  KKP telah menetapkan target produksi pada 2014 sebesar 16,89 juta ton untuk perikanan budidaya atau dapat dikatakan naik sebesar 353 persen dari produksi di 2009 yakni sebesar 4,78 Juta Ton. Ia menyadari bahwa, target tersebut terbilang sangat fantastis, namun dengan potensi yang ada,  maka program dan kegiatan yang dilakukan harus nyata (riil) dan langsung menyentuh ke masyarakat pembudidaya. Sharif mengemukakan, cara agar target 353 persen pada 2014 itu melalui pendekatan industrialisasi, dan ia pun optimis target tersebut dapat terealisasi karena produksi perikanan budidaya pada tahun 2011 telah mencapai 6,97 juta ton.

Sebagai langkah nyata, KKP mendorong industrialisasi udang pada tahap awal yang akan difokuskan di Pantai Utara Pulau Jawa. Pada 2012 akan dilakukan rehabilitasi/perbaikan saluran primer, sekunder dan tersier pada kawasan tambak seluas 20 ribu ha di enam kabupaten di Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat. Diantara kawasan tambak tersebut sebagiannya yakni seluas 5 ribu ha diperuntukkan agar dapat menerapkan teknologi semi intensif. Untuk itu akan dilakukan perbaikan kontruksi tambak, seperti kedalaman dan pemasangan plastik mulsa, serta pengembangan kemitraan dengan swasta, terang Sharif.

Sedangkan untuk pengembangan tambak udang di Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Timur sepenuhnya melalui kemitraan pembudidaya dengan pihak swasta. Sementara itu, secara khusus kawasan industrialisasi di Kabupaten Gresik akan dilakukan melalui pola kemitraan pembudidaya dengan swasta sehingga dapat dioperasionalkannya minimal tambak dengan teknologi semi intensif.  “Untuk perbaikan kontruksi dan operasional usaha dapat memanfaatkan pinjaman modal dari perbankan,” jelasnya.

Disamping itu, eksibisi ini juga akan memberikan kesempatan kepada beberapa ahli dan praktisi untuk menyajikan studi kasus dan membicarakan serta mendiskusikan berbagai bidang seperti, pengembangan budidaya teknologi akuakultur, benih dan induk, nutrisi dan pakan ikan, pengolahan produk, biotek dan sosial ekonomi, penyakit dan Lingkungan bahkan sampai kepada kualitas produk, papar Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Subyakto dalam kesempatan yang sama.

Menurut Slamet, INDOAQUA-FITA kali ini akan diikuti oleh lebih dari 500 orang peserta  sehingga kegiatan ini akan menjadi forum penyatuan visi dan persepsi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, pembudidaya ikan dan stakeholder lainnya dalam Industri Perikanan Budidaya. Selain itu, eksebisi ini dapat menjadi forum pertukaran penelitian dan pengembangan, teknologi terapan dan informasi dalam pengembangan perikanan budidaya melalui ekspose maupun evaluasi seluruh aktivitas usaha perikanan budidaya dengan hasil yang telah dicapai dan prospek pengembangan ke depannya, sambung Slamet.
 
Jakarta, 8 Juni  2012
Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi

 
Indra Sakti, SE., MM

Narasumber :
  1. Dr. Slamet Subyakto
    Dirjen Perikanan Budidaya (HP.0811353131)
  2. Dr. Rizal Max Rompas
    Kepala Balitbang KP 
  3. Indra Sakti, SE, MM
    Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi (HP.0818159705)
DATA DUKUNG:
  1. Sekilas INDOAQUA-FITA 2012
    Kegiatan Indoaqua-FITA memiliki beberapa tujuan, yaitu: (1) menjadi forum penyatuan visi dan persepsi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, pembudidaya ikan dan stakeholder lainnya dalam Industri Perikanan Budidaya, (2) menjadi forum pertukaran penelitian dan pengembangan, teknologi terapan dan informasi dalam pengembangan perikanan budidaya melalui ekspose dan evaluasi seluruh aktivitas usaha perikanan budidaya dengan hasil yang telah dicapai dan prospek pengembangan ke depan, (3) menjadi ajang promosi berbagai peluang pengembangan usaha perikanan budidaya melalui temu bisnis maupun temu asosiasi.
    Event Indoaqua-FITA 2012 yang berlangsung pada tanggal 8-11 Juni 2012 di Makasar meliputi beberapa kegiatan, yaitu seminar, pameran, temu bisnis dan talk show dapat menyajikan teknologi terkini di bidang perikanan budidaya, dan bidang penelitian dan pengembangan yang dihasilkan oleh berbagai sumber, baik dalam negeri maupun luar negeri, serta menjadi forum komunikasi dan temu bisnis antar stakeholder di bidang perikanan budidaya.
    Kegiatan ini akan diikuti oleh lebih dari 500 orang peserta baik dari kalangan pemerintah, peneliti, perekayasa, perguruan tinggi, mahasiswa, pembudidaya, maupun pelaku bisnis terkait dalam bidang usaha perikanan budidaya.  Sementara kegiatan pameran akan menampilkan sebanyak 100 booth yang terdiri atas 39 booth oleh dinas prov/kabupaten/kota, 30 booth oleh 14 UPT lingkup DJPB, empat booth oleh UPT Badan LITBANG serta 17 booth oleh pihak asosiasi. 
  2. Vaksin Ikan CAPRIVAC AERO-L® Pada tahun 1980-an terjadi wabah penyakit bakterial pada ikan air tawar yang menyerang beberapa jenis ikan (lele, mas, gurame, betutu, dan gabus) dari berbagai ukuran. Wabah tersebut bermula dari daerah Jawa Barat dan akhirnya meluas ke seluruh wilayah Indonesia dengan tingkat kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah pada saat itu. Hasil studi epidemiologi disimpulkan bahwa patogen yang dianggap paling bertanggung jawab atas kasus tersebut adalah bakteri Aeromonas hydrophila. Sejak saat itu, penelitian dan kajian tentang biologi, karakterisasi, serta mekanisme serangan penyakit tersebut dilakukan secara intensif untuk mendapatkan teknologi penanggulangannya yang paling rasional, murah, aman, efisien dan efektif. Hingga pada akhirnya ditemukan vaksin monovalen anti-Aeromonas hydrophila yang mampu bekerja untuk pencegahan infeksi jenis bakteri tersebut.
    Seluruh koleksi isolat bakteri A. hydrophila yang ada di Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BALITKANWAR) yang diperoleh dari beberapa wilayah pengembangan perikanan budidaya air tawar di Indonesia, diseleksi (screening) dan diuji secara laboratoris untuk tujuan pembuatan vaksin. Pengujian dilakukan terhadap seluruh koleksi isolat bakteri yang meliputi aspek: (1). Karakterisasi melalui uji bio-kimia (bio-chemical tests), (2). Patogenisitas terhadap beberapa spesies ikan yang dijadikan model, yaitu ikan mas, lele dan gurame; (3). Potensi imunogenisitas, serta (4). Potensi reaksi silang (cross-reactivity) antara satu isolat terhadap isolat-isolat lainnya.
    Dari ke-32 isolat bakteri Aeromonas spp. yang merupakan koleksi Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BALITKANWAR), berdasarkan hasil karakterisasi melalui uji bio-kimia diketahui bahwa isolat AHL0905-2 lebih potensial sebagai kandidat vaksin dan dipilih untuk diteliti lebih lanjut menjadi vaksin. Inilah cikal bakal diciptakannya vaksin Hydrovac yang setelah dikerjasamakan dengan Capri berubah nama menjadi CAPRIVAC AERO-L®.
    Kerjasama alih teknologi yang dilakukan Capri dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan KKP-RI ini juga dimaksudkan untuk menyebarluaskan dan menerapkan hasil penelitian Perikanan Budidaya melalui produk vaksin. Dengan demikian manfaat penelitian vaksin ikan dapat sampai kepada pembudidaya kecil sehingga mampu mengatasi problem penyakit ikan yang selama ini menghantui kegagalan budidaya. PT Caprifarmindo Labs. turut serta membangun perikanan Indonesia dari sisi menjaga kesehatannya. Ikan sehat, produksi perikanan budidaya pun meningkat
    CAPRIVAC AERO-L® merupakan vaksin inaktif yang mengandung strain bakteri Aeromonas hydrohyla AHL0905-2 isolat lokal yang mempunyai kemampuan melindungi ikan terhadap serangan penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS). CAPRIVAC AERO-L®  diformulasi dalam bentuk solution sehingga mudah dalam aplikasi, baik secara injeksi maupun rendam. CAPRIVAC AERO-L® merupakan solusi tepat untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) yang disebabkan oleh infeksi bakteri Aeromonas hydrophila.
  3. Ikan Nila NIRWANA II
    Pada bulan tanggal Nopember tahun 2011 telah dilakukan penilaian terhadap hasil pemuliaan lanjutan yang dirilis dengan nama strain baru yaitu ikan nila NIRWANA (Nila Ras Wanayasa) II. Keunggulan yang dimiliki nila NIRWANA II dari NIRWANA sebelumnya yang telah dirilis tahun 2006, yaitu: (1) lebih cepat tumbuh, (2) memiliki ukuran kepala lebih kecil, (3) survival rate lebih tinggi, (4) memiliki bobot  tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan nila lokal.
    Dengan keunggulan yang dimiliki oleh ikan Nila Nirwana II, Menteri Kelautan dan Perikanan pada tanggal 20 April 2012, menerbitkan Surat Keputusan Nomor  KEP.23/MEN/2012 tentang Pelepasan Ikan Nila Nirwana II. Performa ikan nila NIRWANA II menunjukan  perbaikan yang dinyatakan dengan adanya peningkatan laju pertumbuhan  sebesar 15.08 % dibanding generasi sebelumnya sehingga ikan Nila Nirwana II layak untuk dijadikan induk penjenis. Ditargetkan pada akhir tahun 2012, penyebaran ikan nila NIRWANA II secara bertahap akan menggantikan generasi pendahulunya.
  4. Peluncuran Ikan baru "Torsoro"
    Setelah melakukan penelitian domestikasi selama kurun waktu 4 tahun dan menghasilakn F2, ikan Torsoro dinyatakan lulus oleh team Penilaian dan Pengujian Pelepasan KKP pada tanggal 24 Februari, 2011, dengan pengusulan nama ikan “Torsoro”. Kemudian pada tanggal 29 November 2011, Menteri Kelautan dan Perikanan menerbitkan Surat Keputusan Tentang Pelepasan Ikan Torsoro dengan nomor No. KEP.66/MEN/2011.
    Pengukuhan pelepasan atau rilis kandidat komoditas budidaya tersebut sedianya akan dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan pada acara Forum Inovasi Teknologi Akuakultur dan Indo Aqua pada tanggal 8-11 Juni  2012 di Makasar. Secara simbolis komoditas tersebut akan diserahkan ke Dirjen Budidaya untuk pengembangan lebih lanjut kepada masyarakat.
    Ikan Torsoro merupakan ikan spesifik lokal bernilai ekonomis tinggi di Kalimantan dan Sumatera. Pada daerah-daerah tertentu yang merupakan daerah asal,  ikan tersebut sudah mengalami kepunahan akibat eksplotasi yang berlebihan dan pengrusakan habitat alamiahnya. Keunggulan yang di miliki oleh Ikan “Torsoro” dibanding dengan ikan air tawar lainnya adalah memiliki cita rasa daging yang tinggi, sehingga harga ikan tersebut sangat mahal bisa mencapai Rp. 1.200.000/kg. Pengembangan jenis ikan ini diharapkan dapat memberikan konstribusi untuk peningkatan kesejahteraan, pendapatan daerah, dan apresiasi budidaya. Pasar internasional antara lain ke Singapura dan Malaysia
  5. Ikan Nila SRIKANDI (salinity resistant improvement from Sukamandi)”.
    Perakitan strain unggul ikan nila yang memiliki karakter tumbuh cepat di perairan payau diperlukan untuk memenuhi kebutuhan benih unggul di masyarakat pembudidaya ikan di kawasan pesisir. Perakitan strain unggul ikan nila yang mampu tumbuh cepat di tambak dilakukan oleh Balai Penelitian Pemuliaan Ikan sejak tahun 2007. Program hibridisasi ikan nila untuk menghasilkan ikan nila yang tumbuh cepat pada salinitas ≤ 30 ppt yang dilakukan oleh Balai Penelitian Pemuliaan Ikan telah menghasilkan ikan nila SUKAMANDI yang tumbuh lebih cepat dibandingkan strain ikan nila unggulan lainnya (BEST, NIRWANA, Red NIFI, nila biru).
    Ikan nila SUKAMANDI yang saat ini diproduksi di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan dan siap diedarkan ke masyarakat berasal dari hasil persilangan antara induk betina ikan nila NIRWANA dengan induk jantan ikan nila biru.
  6. Ikan Nila SULTANA
    Program seleksi famili pada ikan nila telah dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi sejak tahun 2005. Hingga 2010, telah diperoleh ikan nila Generasi V hasil seleksi famili (Sultana).
    Kegiatan seleksi famili yang dilakukan mengacu pada Protokol Pusat Pengembangan Induk Ikan Nila Nasional (PPIINN) no. 02 yang kemudian direvisi menjadi Protokol 1.02, dimana BBPBAT Sukabumi menjadi koordinator PPIINN. Adapun sumber genetik yang digunakan pada seleksi famili ini terdiri dari 10 sumber genetik antara lain : Nila hasil persilangan antara nila Taiwan dan G6; Nila Citralada asal BBPBAT Sukabumi; GIFT G3 asal Cangkringan, Yogyakarta; Nila Putih asal Sleman, Yogyakarta; Nila JICA asal BBAT Jambi; Nila GIFT G6 asal BPBI Wanayasa; Nila GET asal BPBI Wanayasa; Nila GIFT G3 asal BPBI Wanayasa; Nila GIFT G3 keturunan III asal BBPBAT Sukabumi; dan Nila GIFT G3 keturunan II asal BBPBAT Sukabumi.
    Dengan segala keunggulannya, yang antara lain memiliki keunggulan dalam pertumbuhan bobot dan telah dilakukan uji multilokasi dan produksi sampai dengan ukuran konsumsi di berbagai lokasi maka ikan nila hasil seleksi famili Generasi V ini, layak untuk dilepas sebagai varietas unggul ikan nila yang mampu meningkatkan produksi ikan nila secara nasional
  7. Prioritas Industrialisasi Perikanan Budidaya
    1. meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas utama, seperti udang, rumput laut, bandeng dan  patin, baik melalui intensifikasi, ekstensifikasi maupun diversifikasi,
    2. pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana budidaya,
    3. pembangunan dan perlindungan reservat sebagai sumber induk/benih,
    4. restocking di perairan umum,
    5. rehabilitasi kawasan budidaya,
    6. pemuliaan induk ikan/udang melalui ”breeding program”,
    7. sertifikasi perbenihan dan pembudidayaan untuk menghasilkan produk dengan jaminan mutu dan keamanan pangan,
    8. perekayasaan, diseminasi, dan pendampingan teknologi terapan,
    9. pengendalian peredaran dan penggunaan sarana produksi budidaya (pakan, obat-obatan, pestisida, dll), dan (10) pemberdayaan masyarakat pembudidaya ikan.



 
Jajak Pendapat

Menurut Pendapat Anda, apakah dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, seharusnya pembangunan berbasis kemaritiman?