Berita
ANTISIPASI PENGETATAN CHINA, KKP SIAP BANTU SERTIKASI RUMPUT LAUT 30/05/2012 - Kategori : Berita
ANTISIPASI PENGETATAN CHINA, KKP SIAP BANTU SERTIKASI RUMPUT LAUT
KKP News || Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C.Sutardjo menyatakan kesiapannya dalam membantu serta memfasilitasi eksportir untuk mempercepat proses sertifikasi rumput laut guna mengantisipasi diberlakukannya pengetatan izin atas masuknya komoditi rumput laut asal Indonesia ke China.
“Untuk menerapkan sertifikasi rumput laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan berusaha mendorong sinkronisasi produksi dan pengolahan rumput laut ,” kata Sharif saat menemui audiensi peserta Rakernas Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) yang dipimpin oleh Ketua ARLI Safari Azis di kantor KKP, Jakarta, Selasa (29/5).
Langkah yang diambil Pemerintah China ini rencananya akan diberlakukan per 1 Juni mendatang. Pemerintah China berencana akan menerapkan tarif bea masuk rumput laut sebesar 35 persen dan mensyaratkan produk rumput laut asal Indonesia menyertakan Health Sertification (sertifikasi kesehatan). ARLI dapat duduk bersama Komisi Rumput Laut Indonesia dan Tim Industrialisasi Rumput Laut KKP untuk menyusun rencana aksi bersama dari hulu hingga hilir dalam pengembangan industri rumput laut nasional, termasuk menghadapi aturan baru dari China.
Sekedar Informasi, pada 2011 produksi rumput laut secara keseluruhan mencapai 4.305.027 ton. Sebanyak 95.200 ton merupakan produksi rumput laut jenis glacillaria kering mencapai 95.200 ton, utamanya berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan. “Produksi rumput laut tersebut, saat ini sebagian besar masih diekspor dalam bentuk rumput laut kering, dan baru sekitar 20 persennya diolah oleh industri di dalam negeri,” jelas Sharif. Lanjutnya, bila produksi ingin ditingkatkan hingga 800 ribu ton rumput laut kering pada 2014, maka ada 500 ribu ton rumput laut kering yang tidak terserap pasar domestik," tambah Sharif.
Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Subiakto menambahkan, KKP terus berupaya untuk meningkatkan kualitas rumput laut seperti yang dipersyaratkan oleh industri pengolahan seperi gel strength dan kadar air. KKP tetap fokus untuk meningkatkan nilai tambah sehingga berdampak meningkatnya penyerapan pasar dalam negeri. Rencananya, rumput laut akan ditingkatkan dari sisi pengolahan dengan menciptakan berbagai aneka ragam olahan rumput laut sehingga pasar rumput laut dalam negeri menjadi bergairah. “ Untuk itu KKP akan meningkatkan nilai tambah, bukan lagi orientasi raw mateial tapi bahan baku yang telah menjadi semi refine,” jelasnya.
Langkah selanjutnya, KKP akan memperkuat sentra-sentra produksi dengan membuat kebun bibit rumput laut. “Paling tidak seperlima dari luas areal budidaya diperuntukkan kebun bibit, setelah produk mencukupi selanjutnya KKP berencana akan mendirikan pabrik pengolahan yang lokasinya tidak jauh dari areal budidaya rumput laut,” ungkap Slamet.
“Jadi ada perubahan orientasi yang tidak lagi mengekpor bahan baku saja, tahun ini kami sudah menetapkan empat provinsi empat provinsi dan lima kabupaten untuk percontohan budidaya rumput laut ini," sambung Slamet. Keempat provinsi lima kabupaten tersebut adalah Nusa Tenggara Barat di Sumbawa, Sulawesi Selatan di Jeniponto dan Takalar, Sulawesi Tengah di Parigi Moutong dan Sulawesi Utara di Minahasa Utara.
Ketua ARLI Safari Azis mengatakan, kendala yang dihadapi ketika pengetatan itu benar-benar diberlakukan China, maka dikhawatirkan olahan komoditi rumput laut asal Indonesia tidak bisa diekspor, sehingga akan diikuti terjadinya penumpukan di pelabuhan. Ia pun, meminta pihak Kedutaan dan Kementerian Perdagangan untuk mempertanyakan kenapa China mengeluarkan kebijakan yang tidak mau mengimpor barang olahan. “China tidak mau mengimpor olahan, tapi hanya bahan mentah (raw material) itupun harus disertakan HS,” katanya.
Selain itu menurutnya, beberapa kode Sertifikasi Keehatan (Health Sertification) tidak jelas mengatur rumput laut yang mana harus diolah menjadi setengah jadi maupun barang jadi serta yang mana dicampur. “ Untuk itu, kita perlu membuktikan melalui bukti-bukti yang dikumpulkan oleh jalur intelejen bahwa China telah melakukan kegiatan proteksi terhadap komoditi rumput lautnya,” sambungnya.
Dikatakannya, sebanyak 50 persen ekspor rumput laut ditujukan untuk diekspor ke China dimana sebagiannya yakni sebesar 50 ribu ton berjenis Euchema cottonii. Terkait adanya rencana pengetatan peraturan baru yang akan diterapkan China. Ia juga mengungkapkan, selain China ada celah pasar lainnya yang cukup potensial seperti India, Brazil, Amerika dan Eropa.
Disamping itu, Managing Director PT Agarindo Bogatama, Anthonio mengatakan 80 persen produksi rumput laut jenis glacillaria sp diolah di dalam negeri, sedangkan sisanya 20 persennya diekspor. Berbeda dengan jenis cotoni yang sebagian besar diekspor. PT Agarindo Bogatama memiliki kapasitas tepung agar dari rumput laut sebesar 1.700 ton yang membutuhkan pasokan glacillaria sebanyak 170.000 ton dalam bentuk kering setara dengan1,7 juta ton glacillaria basah.
Menurutnya, tepung agar diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa untuk kebutuhan industri makanan. Rumput laut glacillaria, katanya, sebanyak 70 persen dipasok dari Sulawesi, sedangkan sisanya sebesar 30 persen berasal dari Jawa. Saat ini, Agarindo Botama sedang membangun pabrik baru, sehingga kapasitas produksi menjadi 2.500 ton per tahun. Dia menuturkan harga rumput laut bervariasi bergantung pada kualitas. Untuk glacillaria sp kualitas super, katanya, dibeli dengan harga Rp6.500 per kg.
“Untuk menerapkan sertifikasi rumput laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan berusaha mendorong sinkronisasi produksi dan pengolahan rumput laut ,” kata Sharif saat menemui audiensi peserta Rakernas Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) yang dipimpin oleh Ketua ARLI Safari Azis di kantor KKP, Jakarta, Selasa (29/5).
Langkah yang diambil Pemerintah China ini rencananya akan diberlakukan per 1 Juni mendatang. Pemerintah China berencana akan menerapkan tarif bea masuk rumput laut sebesar 35 persen dan mensyaratkan produk rumput laut asal Indonesia menyertakan Health Sertification (sertifikasi kesehatan). ARLI dapat duduk bersama Komisi Rumput Laut Indonesia dan Tim Industrialisasi Rumput Laut KKP untuk menyusun rencana aksi bersama dari hulu hingga hilir dalam pengembangan industri rumput laut nasional, termasuk menghadapi aturan baru dari China.
Sekedar Informasi, pada 2011 produksi rumput laut secara keseluruhan mencapai 4.305.027 ton. Sebanyak 95.200 ton merupakan produksi rumput laut jenis glacillaria kering mencapai 95.200 ton, utamanya berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan. “Produksi rumput laut tersebut, saat ini sebagian besar masih diekspor dalam bentuk rumput laut kering, dan baru sekitar 20 persennya diolah oleh industri di dalam negeri,” jelas Sharif. Lanjutnya, bila produksi ingin ditingkatkan hingga 800 ribu ton rumput laut kering pada 2014, maka ada 500 ribu ton rumput laut kering yang tidak terserap pasar domestik," tambah Sharif.
Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Subiakto menambahkan, KKP terus berupaya untuk meningkatkan kualitas rumput laut seperti yang dipersyaratkan oleh industri pengolahan seperi gel strength dan kadar air. KKP tetap fokus untuk meningkatkan nilai tambah sehingga berdampak meningkatnya penyerapan pasar dalam negeri. Rencananya, rumput laut akan ditingkatkan dari sisi pengolahan dengan menciptakan berbagai aneka ragam olahan rumput laut sehingga pasar rumput laut dalam negeri menjadi bergairah. “ Untuk itu KKP akan meningkatkan nilai tambah, bukan lagi orientasi raw mateial tapi bahan baku yang telah menjadi semi refine,” jelasnya.
Langkah selanjutnya, KKP akan memperkuat sentra-sentra produksi dengan membuat kebun bibit rumput laut. “Paling tidak seperlima dari luas areal budidaya diperuntukkan kebun bibit, setelah produk mencukupi selanjutnya KKP berencana akan mendirikan pabrik pengolahan yang lokasinya tidak jauh dari areal budidaya rumput laut,” ungkap Slamet.
“Jadi ada perubahan orientasi yang tidak lagi mengekpor bahan baku saja, tahun ini kami sudah menetapkan empat provinsi empat provinsi dan lima kabupaten untuk percontohan budidaya rumput laut ini," sambung Slamet. Keempat provinsi lima kabupaten tersebut adalah Nusa Tenggara Barat di Sumbawa, Sulawesi Selatan di Jeniponto dan Takalar, Sulawesi Tengah di Parigi Moutong dan Sulawesi Utara di Minahasa Utara.
Ketua ARLI Safari Azis mengatakan, kendala yang dihadapi ketika pengetatan itu benar-benar diberlakukan China, maka dikhawatirkan olahan komoditi rumput laut asal Indonesia tidak bisa diekspor, sehingga akan diikuti terjadinya penumpukan di pelabuhan. Ia pun, meminta pihak Kedutaan dan Kementerian Perdagangan untuk mempertanyakan kenapa China mengeluarkan kebijakan yang tidak mau mengimpor barang olahan. “China tidak mau mengimpor olahan, tapi hanya bahan mentah (raw material) itupun harus disertakan HS,” katanya.
Selain itu menurutnya, beberapa kode Sertifikasi Keehatan (Health Sertification) tidak jelas mengatur rumput laut yang mana harus diolah menjadi setengah jadi maupun barang jadi serta yang mana dicampur. “ Untuk itu, kita perlu membuktikan melalui bukti-bukti yang dikumpulkan oleh jalur intelejen bahwa China telah melakukan kegiatan proteksi terhadap komoditi rumput lautnya,” sambungnya.
Dikatakannya, sebanyak 50 persen ekspor rumput laut ditujukan untuk diekspor ke China dimana sebagiannya yakni sebesar 50 ribu ton berjenis Euchema cottonii. Terkait adanya rencana pengetatan peraturan baru yang akan diterapkan China. Ia juga mengungkapkan, selain China ada celah pasar lainnya yang cukup potensial seperti India, Brazil, Amerika dan Eropa.
Disamping itu, Managing Director PT Agarindo Bogatama, Anthonio mengatakan 80 persen produksi rumput laut jenis glacillaria sp diolah di dalam negeri, sedangkan sisanya 20 persennya diekspor. Berbeda dengan jenis cotoni yang sebagian besar diekspor. PT Agarindo Bogatama memiliki kapasitas tepung agar dari rumput laut sebesar 1.700 ton yang membutuhkan pasokan glacillaria sebanyak 170.000 ton dalam bentuk kering setara dengan1,7 juta ton glacillaria basah.
Menurutnya, tepung agar diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa untuk kebutuhan industri makanan. Rumput laut glacillaria, katanya, sebanyak 70 persen dipasok dari Sulawesi, sedangkan sisanya sebesar 30 persen berasal dari Jawa. Saat ini, Agarindo Botama sedang membangun pabrik baru, sehingga kapasitas produksi menjadi 2.500 ton per tahun. Dia menuturkan harga rumput laut bervariasi bergantung pada kualitas. Untuk glacillaria sp kualitas super, katanya, dibeli dengan harga Rp6.500 per kg.