Siaran Pers
INDONESIA TAK GENTAR GARAP PASAR UNI EROPA 27/04/2012 - Kategori : Siaran Pers
No. B.61/PDSI/HM.310/IV/2012
Siaran Pers
INDONESIA TAK GENTAR GARAP PASAR UNI EROPA
Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C.Sutardjo* menghadiri pembukaan Pameran Frozen Seafood International “European Seafood Exposition” (ESE), Selasa (24/4) di Brussel, Belgia. Event ESE yang diselenggarakan dari tanggal 24 hingga 26 April 2012 ini di ikuti lebih dari 1.600 pelaku usaha yang berasal dari 140 negara. Partisipasi peserta pameran dari Indonesia terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Pameran ini merupakan yang terbesar di dunia sehingga dapat menjadi peluang bagi industri perikanan Indonesia serta demi memperkuat hubungan ekonomi khususnya produk perikanan di Uni Eropa (UE),” kata Sharif.
Dikatakannya, Uni Eropa merupakan salah satu tujuan ekspor komoditas perikanan strategis sehingga perlu menjadi prioritas bagi Indonesia. Keikutsertaan perusahaan Indonesia di pameran ESE sangat berpotensi untuk mengkatrol nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke Uni Eropa. Partisipasi Indonesia pada ESE 2011 telah menghasilkan transaksi sekitar Rp275 miliar, meningkat 205 persen dibandingkan dari tahun 2010 yang mencapai angka Rp89,9 miliar. " Pameran internasional ini merupakan sebuah barometer bagi para produsen untuk mengukur keunggulan-keunggulan produk pesaing sehingga pelaku usaha perikanan dapat memperbaiki dan mengembangkan produk ekspornya," sambung Sharif.
Negara-negara Uni Eropa dikenal memiliki standar mutu ketat terhadap berbagai produk impor maupun ekspor. Untuk produk perikanan dan kelautan diantaranya standar yang diberlakukan adalah kandungan antibiotik, standar hygiene serta kandungan bakteri pathogen. Melalui *Rapid Alert System*(RAS) *for food and feed*, seluruh standar baku tersebut telah ditetapkan secara terbuka dengan penilaian yang obyektif sehingga menuntut setiap pelaku pasar untuk memenuhinya. Namun menurutnya, tetap masih sangat atraktif bagi para pengusaha.
Oleh sebab itu, Indonesia tetap memprioritaskan peningkatan mutu serta keamanan produk dengan mempertimbangkan karakteristik dan potensi pasar serta tantangan, demi memperlancar ekspansi pasar ke UE. Seperti diketahui, seiring berjalannya waktu daya saing produk ekspor Indonesia semakin membaik. Hal itu terlihat dari penurunan kasus penolakan ekspor Indonesia ke UE. selain itu, proses pengolahan produk perikanan asal Indonesia telah memenuhi standar produk sebagaimana yang disyaratkan oleh Uni Eropa.
Berpijak dari hal diatas, sepatutnya Komisi Eropa dapat menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemasok produk perikanan yang reliable dan hambatan ekspor seperti yang tertuang dalam CD 220/2010 (Keputusan Komisi UE) dapat segera dicabut. Perlu diketahui sejak tahun 2010 kasus tersebut menurun dan tidak ada satupun kasus untuk produk perikanan budidaya Indonesia. " Peningkatan kualitas mutu dan nilai tambah produk perikanan melalui kebijakan industrialisasi perikanan akan meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia dalam melakukan penetrasi pasar internasional, khususnya di Uni Eropa," tegas Sharif.
Atas dasar itulah, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali bekerja sama dengan *Centre for the Promotion of Imports from Developing Countries*(CBI) *Ministry of Foreign Affairs, The Royal Netherlands* dalam mengadakan“Pavilion Indonesia Bersama” pada ESE yang berlokasi di Hall 11 dengan total luas stand 190m2. Pavilion ini dimanfaatkan oleh 14 perusahaan diantaranya, PT Rex Canning, Lautan Bahari Sejahtera, Wirontono Baru, Tuna Permata Rezeki, Multi Monodon Indonesia, Artha Mina Tama, Bonecom, Pacific Harvest, Dharma Samudra Fishing Industry. Produk perikanan yang dipamerkan dalam pameran tersebut antara lain, frozen (tuna, udang, marlin, snapper, grouper, mahi-mahi), canned (sardines, tuna, mackerel, crabmeat, shrimps, snails and baby clams), fishmeal, oilfish dan value added products. Ajang ESE merupakan trend setter dunia di dalam perkembangan industri, terkait penanganan dan pengolahan hasil perikanan konsumsi. Keikutsertaan Indonesia dalam ESE saat ini telah dimulai sejak 2004 silam. "Perusahaan perikanan Indonesia yang telah memiliki jaringan pasar di UE dapat memanfaatkan ajang pameran ini sebagai sarana dalam menjaga hubungan dan komunikasi dengan para pembeli,” ujar Sharif usai meresmikan Joint Paviliun Indonesia KKP dengan CBI.
Seperti diketahui, semenjak tahun 2007 kedua negara telah melakukan kerja sama di sektor kelautan dan perikanan melalui *Working Group of Agriculture, Fishery and Forestry (WGAFF)* serta melalui penandatangan kerjasama antara Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan CBI. Adapun kerjasama yang telah terjalin tersebut melingkupi, bidang manajemen pemasaran luar negeri, pelatihan program pemasaran luar negeri, *seafood service center,*dan pengembangan system rantai dingin di pelabuhan perikanan. Tak hanya itu, Indonesia mendapat bantuan sebesar € 20 juta euro untuk pengembangan infrastruktur dan SDM dalam mendukung peningkatan mutu perikanan sehingga dapat meningkatkan ekspor ikan sesuai yang dipersyaratkan Uni Eropa. kerjasama ini jelas sangat menguntungkan Indonesia, lantaran menghasilkan 25 trainer pelaku usaha perikanan dan pegawai pemerintah. Sebanyak 15 perusahaan perikanan telah mengikuti *Export Coaching Programme (ECP)*. Meningkatnya pemahaman pasar dan promosi produk perikanan dilakukan melalui kegiatan *Seafood Service Center (SSC)
Dikatakannya, Uni Eropa merupakan salah satu tujuan ekspor komoditas perikanan strategis sehingga perlu menjadi prioritas bagi Indonesia. Keikutsertaan perusahaan Indonesia di pameran ESE sangat berpotensi untuk mengkatrol nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke Uni Eropa. Partisipasi Indonesia pada ESE 2011 telah menghasilkan transaksi sekitar Rp275 miliar, meningkat 205 persen dibandingkan dari tahun 2010 yang mencapai angka Rp89,9 miliar. " Pameran internasional ini merupakan sebuah barometer bagi para produsen untuk mengukur keunggulan-keunggulan produk pesaing sehingga pelaku usaha perikanan dapat memperbaiki dan mengembangkan produk ekspornya," sambung Sharif.
Negara-negara Uni Eropa dikenal memiliki standar mutu ketat terhadap berbagai produk impor maupun ekspor. Untuk produk perikanan dan kelautan diantaranya standar yang diberlakukan adalah kandungan antibiotik, standar hygiene serta kandungan bakteri pathogen. Melalui *Rapid Alert System*(RAS) *for food and feed*, seluruh standar baku tersebut telah ditetapkan secara terbuka dengan penilaian yang obyektif sehingga menuntut setiap pelaku pasar untuk memenuhinya. Namun menurutnya, tetap masih sangat atraktif bagi para pengusaha.
Oleh sebab itu, Indonesia tetap memprioritaskan peningkatan mutu serta keamanan produk dengan mempertimbangkan karakteristik dan potensi pasar serta tantangan, demi memperlancar ekspansi pasar ke UE. Seperti diketahui, seiring berjalannya waktu daya saing produk ekspor Indonesia semakin membaik. Hal itu terlihat dari penurunan kasus penolakan ekspor Indonesia ke UE. selain itu, proses pengolahan produk perikanan asal Indonesia telah memenuhi standar produk sebagaimana yang disyaratkan oleh Uni Eropa.
Berpijak dari hal diatas, sepatutnya Komisi Eropa dapat menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemasok produk perikanan yang reliable dan hambatan ekspor seperti yang tertuang dalam CD 220/2010 (Keputusan Komisi UE) dapat segera dicabut. Perlu diketahui sejak tahun 2010 kasus tersebut menurun dan tidak ada satupun kasus untuk produk perikanan budidaya Indonesia. " Peningkatan kualitas mutu dan nilai tambah produk perikanan melalui kebijakan industrialisasi perikanan akan meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia dalam melakukan penetrasi pasar internasional, khususnya di Uni Eropa," tegas Sharif.
Atas dasar itulah, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali bekerja sama dengan *Centre for the Promotion of Imports from Developing Countries*(CBI) *Ministry of Foreign Affairs, The Royal Netherlands* dalam mengadakan“Pavilion Indonesia Bersama” pada ESE yang berlokasi di Hall 11 dengan total luas stand 190m2. Pavilion ini dimanfaatkan oleh 14 perusahaan diantaranya, PT Rex Canning, Lautan Bahari Sejahtera, Wirontono Baru, Tuna Permata Rezeki, Multi Monodon Indonesia, Artha Mina Tama, Bonecom, Pacific Harvest, Dharma Samudra Fishing Industry. Produk perikanan yang dipamerkan dalam pameran tersebut antara lain, frozen (tuna, udang, marlin, snapper, grouper, mahi-mahi), canned (sardines, tuna, mackerel, crabmeat, shrimps, snails and baby clams), fishmeal, oilfish dan value added products. Ajang ESE merupakan trend setter dunia di dalam perkembangan industri, terkait penanganan dan pengolahan hasil perikanan konsumsi. Keikutsertaan Indonesia dalam ESE saat ini telah dimulai sejak 2004 silam. "Perusahaan perikanan Indonesia yang telah memiliki jaringan pasar di UE dapat memanfaatkan ajang pameran ini sebagai sarana dalam menjaga hubungan dan komunikasi dengan para pembeli,” ujar Sharif usai meresmikan Joint Paviliun Indonesia KKP dengan CBI.
Seperti diketahui, semenjak tahun 2007 kedua negara telah melakukan kerja sama di sektor kelautan dan perikanan melalui *Working Group of Agriculture, Fishery and Forestry (WGAFF)* serta melalui penandatangan kerjasama antara Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan CBI. Adapun kerjasama yang telah terjalin tersebut melingkupi, bidang manajemen pemasaran luar negeri, pelatihan program pemasaran luar negeri, *seafood service center,*dan pengembangan system rantai dingin di pelabuhan perikanan. Tak hanya itu, Indonesia mendapat bantuan sebesar € 20 juta euro untuk pengembangan infrastruktur dan SDM dalam mendukung peningkatan mutu perikanan sehingga dapat meningkatkan ekspor ikan sesuai yang dipersyaratkan Uni Eropa. kerjasama ini jelas sangat menguntungkan Indonesia, lantaran menghasilkan 25 trainer pelaku usaha perikanan dan pegawai pemerintah. Sebanyak 15 perusahaan perikanan telah mengikuti *Export Coaching Programme (ECP)*. Meningkatnya pemahaman pasar dan promosi produk perikanan dilakukan melalui kegiatan *Seafood Service Center (SSC)
Jakarta,26 April 2012
Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi
Indra Sakti, SE, MM
Narasumber
- Saut P. Hutagalung, MSc Dirjen P2HP *(HP.0811840360)*
- Indra Sakti, SE, MM Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi *(HP.0818159705)*