Jurnal Kelautan dan Perikanan

TEKNIK PRODUKSI DAN APLIKASI VAKSIN BAKTERI VIBRIO (BAKTERIN) DALAM PENANGGULANGAN PENYAKIT UDANG
12/03/2012 - Kategori : Jurnal Kelautan dan Perikanan

Pendahuluan:

Vibriosis merupakan penyakit kemerahan pada udang yang terutama disebabkan oleh bakteri Vibrio Harveyi yang menimbvulkan kematian dan kerugian yang cukup besar. Pencegahan dan penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan immunostimulan misalnya vaksin. Syarat dari suatu vaksin atau bakterin harus immunogen, artinya harus dapat merangsang dalam pembentukan antibodi yang bertujuan untuk mendapatkan kekebalan secara aktif. Mengingat udang tidak memiliki sel memori, sehingga antibodi yang bersifat non-spesifik. Oleh karena itu vaksin pada udang lebih dikenal sebagai immunostimulan. Vaksin yang diproduksi oleh Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau adalah Bakterin/Vaksin Vibrio Harveyi yang diproses dengan cara melemahkan bakteri tersebut menggunakan formalin.

TEKNIK PRODUKSI BAKTERIN

Bahan:

Bahan yang digunakan dalam produksi bakterin adalah:

-Triptic Soy Agar (TSA), Triple Citrate Bile Sucrose Agar (TCBSA) dan Nutrient Broth (NB)

-Isolat murni bakteri V.harveyi

-NaCl

-Formalin

-Alkohol

Peralatan:

Peralatan yang digunakan dalam produksi bakterin adalah:

-Cawan petri

-Erlenmeyer

-Jarum Ose

-Sentrifuge

-Inkubator

-Autoklaf

Isolasi dan Identifikasi Bakteri Vibrio

Hemolimp atau hepatopankreas udang yang terserang vibriosis digoreskan pada cawan petri yang berisi media TCBSA dengan menggunakan jarum ose steril. Biakan bakteri diinkubasi pada suhu 2837 °C selama 2448 jam. Setiap koloni bakteri ditransfer ke media TSAmiring untuk pengujian/identifikasi lebih lanjut. Identifikasi secara morfologi/meliputi bentuk koloni, warna, sifat tembus cahaya, bentuk pinggiran dan permukaan koloni. Untuk uji biokimia meliputi swarming, luminiscence, VP test, arginin, gas form, glukosa, growth 40 °C, lisin dekarboksilat, pigmen, amilase, sukrosa, indol, ornithin, putricine, etanol, serin, heptanoate, xantine, aminobutitrate, arabinose, cellubiose, glukonat, ketoglutarate, L-alanin, leusin, dan propionat

Produksi Bakterin

Isolat murni bakteri V.harveyi diremajakan ke dalam media TCBSA menggunakan jarum ose dan diinkubasikan pada suhu 28 °C selama 24 jam. Biakan murni bakteri V.harveyi. (sebanyak 45 ose) dikultur dalam media NB dengan teknik goyangan menggunakan alat Orbital Shaker selama 2448 jam, sampai mencapai kepadatan 10 10 CFU/mL. Biakan bakteri tersebut dilemahkan menggunakan formalin 0,5-1% dan disimpan pada suhu 4 °C selama 24 jam. Bakteri ditanam pada media TCBSA dan diinkubasikan selama 24 jam dalam suhu ruangan dan apabila tidak ada bakteri yang tumbuh, maka bakteri tersebut dianggap aman untuk dibuat vaksin. Selanjutnya bakteri disentrifus pada suhu 4 °C dengan kecepatan ± 3000 rpm selama 15 menit. Selanjutnya (cairan yang ada pada bagian atas) dibuang dan endapan dalam wadah dicuci dengan larutan fisiologis (saline solution) 0,85% sebanyak 3 kali. Endapan yang dihasilkan ditambahkan larutan fisiologis sebanyak volume awal supernatan yang dibuang dan dikocok. Larutan tersebut merupakan bakterin yang siap digunakan. Untuk menjaga keamanan dan kestabilan bakterin disimpan dalam freezer (20 °C).

 Isolat murni bakteri vibrio dalam NB

 ↓

 Digoyang menggunakan orbital shaker (24-48 jam)

  ↓

 Dilemahkan dengan larutan formalin 1%

 ↓

 Inkubasi pada suhu 4 °C selama 24 jam

 ↓

 Tanam pada media TCBSA

 ↓

Tidak tumbuh, sentrifus pada suhu 4 °C (3000 rpm, 15 menit)

 ↓

Supernatan dibuang dan ditambah larutan fisiolagis sebanyak volume supernatan yang dibuang.

 ↓

Sentrifus pada suhu 4 °C (3000 rpm, 15 menit)

 ↓

Supernatan dibuang danditambah larutan fisiologis sebanyak volume supernatan yang dibuang.

 ↓

Sentrifus pada suhu 4 °C (3000 rpm, 15 menit)

 ↓

Supernatan dibuang dan ditambah larutan fisiologis sebanyak volume supernatan yang dibuang.

 ↓

 Diaduk sampai homogen

 ↓

                 Bakterin

Simpan dalam freezer (-20 °C)

 

 Teknik Aplikasi Bakterin:

1. Perekatan bakterin pada pakan.

 Perekatan pada bakterin dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu:

a. Perekatan sebelum pakan jadi pelet.

Sebanyak 1 kg pakan pelet dihancurkan kemudian ditambahkan 2,4 mL bakterin, 5 g perekatan progol dan 0,5 mL vitamin C, diaduk sampai homogen kemudian dicetak kembali dalam bentuk pelet.

b. Perekatan setelah pakan jadi pelet.

Perekatan progol 5 g dicampurkan ke dalam 2,4 mL bakterin, 0,5 mL vitamin C, 250 mL garam fisiologis, dan diaduk sampai homogen, kemudian disemprotkan secara merata pada 1 kg pakan, lalu dikering-anginkan.

2. Perendaman benur dalam bakterin sebelum penebaran.

Sebelum benur ditebar terlebih dahulu direndam dalam wadah berisi larutan bakterin 2,4 mL dan o,5 mL vitamin C per L air media selama 15 menit. Cara lain dapat dilakukan dalam kantong benur selama pengangkutan.

3. Aplikasi bakterin selama pemeliharaan.

Vaksinasi lanjutan berupa pemberian pakan berbakterin mulai dilakukan pada hari ke-12 pemeliharaan selama 3 hari berturut-turut, selanjutnya diulangi dengan interval waktu 12 hari sampai panen.

Jajak Pendapat

Menurut Pendapat Anda, apakah dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, seharusnya pembangunan berbasis kemaritiman?