Artikel
GRESIK 08/10/2010 - Kategori : Artikel
GRESIK
Lain bangsa, beda coraknya. Stereotype rasional melekat pada orang kulit putih. Hispanic di Amerika Latin dianggap menyukai entertainment. Jepang dan Korea, dalam berbagai kajian setiap tahun bergantian menduduki peringkat tertinggi insan paling produktif dalam kerja. Warga kulit hitam, senantiasa mendominasi fakultas physical education di Amerika Serikat. China Town senantiasa menjadi bagian yang ramai bisnisnya dalam berbagai kota besar di dunia.
Indonesia yang bhinneka memiliki aneka budaya dan corak suku bangsa yang beraneka ragam. Pelaut dari Bugis, Makasar, perantau kuliner dari Tegal dan Lamongan, pebisnis dari Padang, atau stereotype lain dari Sumatera Utara, Manado, Madura, Betawi, Ambon dan sebagainya.
Di barat laut Surabaya, terletak kota pesisir bernama Gresik. Kondisi sosial dan geologisnya membuat beda dengan masyarakat sekitamya. Berupa wilayah gunung kapur, tentu bukan tanah yang tepat untuk bertani. Maka wilayah gersang tersebut menjadi titik produksi industri Semen Gresik. Gunung batu di bagian belakang kota telah menjadi datar, digempur dan digali untuk bahan semen.
Sekeliling kota kecil itupun bukan lahan yang subur untuk bertanam padi. Maka Gresik dikelilingi oleh tambak bandeng dan garam.
Secara sosiologis, di sini terkenal sebagai tempat bermukim penyebar agama Islam di akhir era Majapahit, yakni Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim. Kota kecil ini berbeda dengan perkotaan sekitarnya dengan adanya populasi keturunan Arab yang lebih menonjol, dibanding keturunan Cina.
Oleh karena kondisi alam yang tidak agraris, ditambah lokasi pesisir yang membuatnya menjadi bandar terpandang di masa lalu, serta komunitas Arab yang dominan, maka Gresik telah menjadi kota industri dan perdagangan yang unik. Industri besar dibentuk oleh Semen Gresik, dan disusul oleh pembangunan pabrik Petro Kimia di akhir tahun 1960-an. Industri kecil penghasil tas, sandal, kopyah, pakaian, makanan kecil dan industri rakyat lainnya, telah membentuk komunitas yang berbeda dengan subkultur masyarakat sekelilingnya. Beda dengan Surabaya, Lamongan, Mojokerto ataupun Tuban.
Berbeda dengan masyarakat agraris yang dalam . pola hidupnya memerlukan kebersamaan. Baik saat musim tanam, maupun saat panen. Masyarakat industri dan pedagang, setiap sen pendapatan, tentu diperoleh dari hitungan dagang yang cermat. Oleh karenanya, serupa dengan masyarakat industri di Barat atau komunitas modern lainnya, kesan individualistis tampak lebih menonjol dibanding masyarakat agraris.
Di wilayah itu, apabila seseorang mengajak teman pergi minum atau makan, ke warung atau restoran, mereka membayar sendiri-sendiri sesuai yang dipesan masing-masing, maka yang demikian digunakan istilah "Gresikan". Kiranya kultur demikian memang hams melekat pada para wirausahawan. Harus waspada terhadap "terlalu sosial"nya kultur agraris yang terlalu boros terhadap urusan kebersamaan. Atau budaya materialistis yang boros terhadap nafsu hedonisme dan konsumerisme.*
*) Sekretaris Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara
Jl. Tawes Dalam No.1 Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Telp. 021 - 7807668, HP : 0816 193 3911 email: soenanhp@yahoo.com
Indonesia yang bhinneka memiliki aneka budaya dan corak suku bangsa yang beraneka ragam. Pelaut dari Bugis, Makasar, perantau kuliner dari Tegal dan Lamongan, pebisnis dari Padang, atau stereotype lain dari Sumatera Utara, Manado, Madura, Betawi, Ambon dan sebagainya.
Di barat laut Surabaya, terletak kota pesisir bernama Gresik. Kondisi sosial dan geologisnya membuat beda dengan masyarakat sekitamya. Berupa wilayah gunung kapur, tentu bukan tanah yang tepat untuk bertani. Maka wilayah gersang tersebut menjadi titik produksi industri Semen Gresik. Gunung batu di bagian belakang kota telah menjadi datar, digempur dan digali untuk bahan semen.
Sekeliling kota kecil itupun bukan lahan yang subur untuk bertanam padi. Maka Gresik dikelilingi oleh tambak bandeng dan garam.
Secara sosiologis, di sini terkenal sebagai tempat bermukim penyebar agama Islam di akhir era Majapahit, yakni Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim. Kota kecil ini berbeda dengan perkotaan sekitarnya dengan adanya populasi keturunan Arab yang lebih menonjol, dibanding keturunan Cina.
Oleh karena kondisi alam yang tidak agraris, ditambah lokasi pesisir yang membuatnya menjadi bandar terpandang di masa lalu, serta komunitas Arab yang dominan, maka Gresik telah menjadi kota industri dan perdagangan yang unik. Industri besar dibentuk oleh Semen Gresik, dan disusul oleh pembangunan pabrik Petro Kimia di akhir tahun 1960-an. Industri kecil penghasil tas, sandal, kopyah, pakaian, makanan kecil dan industri rakyat lainnya, telah membentuk komunitas yang berbeda dengan subkultur masyarakat sekelilingnya. Beda dengan Surabaya, Lamongan, Mojokerto ataupun Tuban.
Berbeda dengan masyarakat agraris yang dalam . pola hidupnya memerlukan kebersamaan. Baik saat musim tanam, maupun saat panen. Masyarakat industri dan pedagang, setiap sen pendapatan, tentu diperoleh dari hitungan dagang yang cermat. Oleh karenanya, serupa dengan masyarakat industri di Barat atau komunitas modern lainnya, kesan individualistis tampak lebih menonjol dibanding masyarakat agraris.
Di wilayah itu, apabila seseorang mengajak teman pergi minum atau makan, ke warung atau restoran, mereka membayar sendiri-sendiri sesuai yang dipesan masing-masing, maka yang demikian digunakan istilah "Gresikan". Kiranya kultur demikian memang hams melekat pada para wirausahawan. Harus waspada terhadap "terlalu sosial"nya kultur agraris yang terlalu boros terhadap urusan kebersamaan. Atau budaya materialistis yang boros terhadap nafsu hedonisme dan konsumerisme.*
*) Sekretaris Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara
Jl. Tawes Dalam No.1 Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Telp. 021 - 7807668, HP : 0816 193 3911 email: soenanhp@yahoo.com