Artikel
Makanan Pilihan 15/06/2010 - Kategori : Artikel
Makanan Pilihan
Oleh : Soen'an Hadi Poernomo *)
Makanan pilihan bukan berarti distinguished food, yang bermakna terlalu feodal. Bolehlah diartikan sebagai chosen food. Inipun tentu bertentangan dengan falsafah Jawa "mangan ora mangan asal kumpul", yang berarti makan ataupun tidak, bukan soal, yang penting adalah berkumpul, bersama. Disatu sisi, falsafah ini menunjukkan kemuliaan filsafat Jawa untuk menjunjung tinggi kebersamaan. Akan tetapi, bisa juga membawa sisi buruk eksklusivitas, bila kebersamaan yang dimaksudkan adalah hanya sebatas keluarganya, kelompoknya atau sukunya. Bertentangan dengan semangat Ukhuwah wathoniyah, semangat nasionalisme, kebangsaan, keindonesiaan, pancasila dan sumpah pemuda, serta Ukhuwah basyariyah, semangat kemanusiaan, sebagai we are the world, we are the one who makes a brighter day.
Di samping itu, filsafat "boleh tidak makan asal kumpul", mungkin utopis. Sangat berbeda dengan tangga kebutuhan psikologis Abraham Maslow, yang menempatkan makan sebagai kebutuhan dasar, sedangkan kebersamaan ditempatkan di tangga ketiga setelah kebutuhan keamanan. Dan realita universal, semua sepakat untuk berhadapan memerangi kelaparan, membangun ketahanan pangan (Food Security). Bahkan dengan target sudah bisa mengurangi sedikit separuh untuk tahun 2015. Dalam realita kehidupan keseharian juga ternyata masyarakat memilih tidak berkumpul, asal memperoleh makan. Ada yang terstuktur melalui transmigrasi, banyak yang berubanisasi dan merantau, bahkan ke mancanegara untuk menjadi TKI.
Budaya berubah, tuntutan meningkat, selera menjadi dinamis. Memilih makanan menjadi berdasarkan pertimbangan empat dimensi. Semula hanya faktor kenyang, agar perut terisi. Kini banyak yang juga mempertimbangkan budaya, bisa sekedar meniru kultur bangsa atau suku lain, ada juga yang berbaur dengan gengsi, untuk agar merasa lebih modern atau trendy. Dimensi ketiga, atas dasar selera pribadi, baik tingkat rasa manis, pedas, asin, atau keunikan rasa lainnya. Dan yang keempat adalah pertimbangan rasional, yakni mempertimbangkan nilai gizi.
Untuk yang terakhir ini tentu melintas batas ketahanan pangan. Memang target minimum adalah memerangi kelaparan dengan bahan pangan pokok, agar tidak lapar, dengan padi atau jenis biji-bijian lainnya. Kalori dipenuhi dengan kabohidrat. Perutpun tidak bereaksi lagi, lemaspun hilang, tertutuplah kebutuhan energi.
Tapi kini, tuntutan diripun berubah. Banyak orang merasa kebutuhan belum tercukupi, apabila diukur hanya sekedar kenyang semata. Kesadaran sedah meluas, bahwa protein pun dibutuhkan. Atau lebih dari itu, memerlukan pula mineral atau vitamin. Dengan demikian, tidak hanya Food Security menjadi target, tapi meningkat menjadi Nutrition Security. Tidak melulu beras, namun tentu protein dari nabati atau hewani. Bisa ayam, sapi, ataupun ikan. Bahkan bila ingin kaya asam amino, maka dipilih telur. Merasa perlu kalsium dan vitamin D, dihsap susu segar. Tidak jarang yang memilih Omega-3, untuk kecerdasan dan memerangi hantu kolesterol, disantap ikan laut dari samudra.
Makanan telah menjadi pilihan, namun begitu disadari menjadi kebutuhan, maka menjadilah target kesejahteraan, Food Security sekaligus Nutrition Security, ketahan pangan sekaligus ketahanan gizi.
*)
Sekretaris Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN)
Alamat : Jl. Tawes Dalam No. 1 Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Telp : 021-7807668
HP : 08161933911
e-mail : soenanhp@yahoo. com
Sumber : Majalah Demersal Edisi Mei 2010