Temu Bisnis Patin di Provinsi Jambi, Bengkulu, Lampung, dan Riau

28 Februari 2011 | Ditulis oleh : Freddy Yuswanto
Kegiatan Fasilitasi Temu Bisnis Dalam Rangka Kerjasama antar Produsen Produk Perikanan yang telah dilaksanakan di Provinsi Jambi pada tanggal 6 - 7 Juni 2008, bertempat di Ruang Batanghari Hotel Abadi Grand. Tujuan dari kegiatan ini menjembatani antara pembudidaya patin, supplier dan Unit Pengolah Ikan dalam rangka meningkatkan suplai dan tingkat konsumsi Patin di dalam negeri. Pertemuan ini dihadiri oleh unsur dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi, perbankan, wakil dari beberapa pelaku bisnis dan pembudidaya ikan patin di Provinsi Jambi, serta wakil dari Provinsi Sumetera Selatan, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Hasil kegiatan ini diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Terfasilitasinya Penandatanganan MoU Kerjasama Budidaya, Pasokan dan Pemasaran Ikan Patin antara Unit Pelayanan Pengembangan (UPP) Peikanan, Kabupaten Muaro Jambi, PT. Sumber Laut Utama, Jambi dan PT. Karya Jaya Utama, Jakarta.
  • Kebijakan Gubernur Provinsi Jambi melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi dengan menempatkan ikan patin sebagai salah satu komoditas unggulan selain karet, hal ini tercetus setelah Gubernur melakukan kunjungan ke Vietnam. Selama melakukan kunjungan ke Vietnam, Gubernur melihat potensi produksi ikan patin Vietnam yang saat ini mencapai 300-500 ton per hari, sedangkan produksi ikan patin di Provinsi Jambi hanya 5-10 ton per hari. Untuk mengimbangi hal tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi telah mengembangkan ikan patin hibrid atau yang disebut Ikan Patin Jambi. Ikan patin hibrid ini telah dibudidayakan di keramba jaring apung yang saat ini telah mencapai 5000 unit yang dibiayai dari APBD dan swadaya masyarakat. Sedangkan produksi ikan Patin Siam khususnya untuk kolam saat ini telah mencapai 4200 unit yang telah dikembangkan di Kabupaten Tangkit, Sungai Duren, Pudak dan Muara Pucuoan sejak tahun 2002. Untuk tahun 2008 Provinsi Jambi telah mengembangkan ikan patin di beberapa kabupaten seperti Tanjung Jabung Barat, Bungok, Kebo, Merangin dan Dungok, dan diharapkan pada tahun 2009 semua kabupaten mengembangkan budidaya patin. Untuk mendukung pengembangan ikan patin di Provinsi Jambi, Departemen Kelautan dan Perikanan melalui Ditjen Perikanan Budidaya  memberikan bantuan berupa 4 eksafator kepada Pemda Provinsi Jambi. Hasil yang telah terwujud dari bantuan ini adalah pemakaian 1 eksafator di Kabupaten Tangkit yang mendorong peningkatan jumlah pembudidaya patin yang telah mencapai 2000 kolam, Pudak mencapai 2000 kolam lebih sedangkan Tanjung Jabung Timur dalam taraf pengembangan budidaya ikan patin dan lele dengan menggunakan saluran irigasi.
  • Selain mengupayakan pasar ekspor juga perlu mengupayakan pasar lokal, karena saat ini ikan patin khususnya patin jambal lebih banyak diminati konsumen pasar lokal. Provinsi Jambi saat ini berupaya mengkampanyekan makan ikan patin melalui gemarikan dan diversifikasi produk ikan patin.
  • Pada kegiatan Fasilitasi Temu Bisnis dalam rangka Kerjasama Pemasaran Antar pelaku usaha perikanan disampaikan materi tentang aspek budidaya, pemasaran dan analisa usaha budidaya ikan patin oleh para pelaku usaha dan pembudidaya, sebagai berikut :
1. Haji Midan (Pembudidaya ikan Patin dari Kalimantan Selatan) :
Potensi budidaya ikan patin dari 11 kabupaten yang paling menonjol adalah kabupaten banjar. Hal ini menonjol dikarenakan adanya irigasi panjangnya 29 km dari PLTU Riam Kanan, yang volumenya mencapai per detik 11 kubik/ detik. Sejak tahun 1995 sepanjang irigasi riam kanan banyak dibudidayakan ikan patin dengan produksi mencapai 7000 ton per tahun. Produksi kolam milik H. Midan pada tahun 2007 mencapai 700 ton per tahun dengan biaya produksi Rp. 6000/kg ikan. Saat ini haji midan memproduksi pakan mencapai 6 ton per hari. Berikut analisa biaya produksi dengan pakan buatan sendiri diperoleh bahwa harga pakan buatan 3.225 /kg ikan diperoleh FCR 2,2 sedangkan diperhitungkan biaya pakan/kg ikan mencapai Rp. 7.095. Komposisi pakan buatan hasil riset Haji Midan sebagai berikut : ikan kering 30 %, dedak 45 %, bungkil sawit 15 %, tapioka + premix 10 % ikan kering yang digunakan ikan kering dari ikan air tawar.
2. Suhaimi (Pembudidaya Ikan Patin dari Riau) :
Jumlah Pembenih ikan patin di Desa Koto Masjid sebanyak 2 unit dengan kapasitas produksi 300.000 s/d 500.000 ekor benih perbulan, dengan harga rata-rata Rp. 160/ekor benih. Usaha Pembenihan ini mempunyai prospek yang cerah sekali, disamping mempunyai pasar yang baik, usaha ini menjanjikan keuntungan yang besar hingga mencapai 127 %. Dengan jumlah kolam pembesaran yang mencapai 732 unit dengan luas  31,6 Ha, Desa Koto Masjid dapat menghasilkan ikan 4,5 ton/hari secara terus menerus.  Budidaya di Desa Koto Masjid ini dilakukan dengan pola intensif yaitu dengan kepadatan tinggi dan suplai makanan yang penuh sesuai dengan kebutuhan ikan tersebut. Saat ini di Desa Koto Masjid terdapat 18 unit usaha pellet ikan.  Kebutuhan Pellet di desa ini mencapai 8 -10 ton perhari. Disamping dipakai sendiri, sebagian pengusaha pellet ikan juga menjual hasil olahannya ke daerah sekitarnya. Kebutuhan yang besar ini disebabkan oleh masyarakat petani melakukan usaha dengan pola intensif, yang mana hampir 100% menggunakan pakan buatan. Usaha pengolahan pellet ini cukup membantu petani, karena petani dapat menekan biaya produksi hingga 50 % bila dibandingkan dengan menggunakan pellet komersial dipasaran.  Disamping itu secara bisnis, usaha ini juga memberikan keuntungan yang besar hingga mencapai 26 %.
3. Sebastian (Pembudidaya Ikan Patin dari Sumatera Selatan) :
Pada tahun 2006 harga ikan patin diantara Rp. 6.700 ? Rp. 10.000 maka keuntungan saat itu cukup baik, dimana peternak mendapatkan keuntungan Rp. 700 s/d Rp. 4.000 per kg untuk satu periode ? 10 Bulan. Berarti pembudidaya ikan patin mendapat keuntungan ? 20% dari harga jual. Dengan keuntungan mencapai ? 20% dari harga jual maka usaha budidaya ikan patin pada tahun 2006 cukup baik hal ini dilihat dengan memperhitungkan bunga bank, gaji pegawai dan nilai susut kolam dan peralatan kerja. Sedangkan pada tahun 2007 kondisinya jauh berbeda dengan tahun 2006, saat itu harga patin berkisar antara Rp. 7.000 ? Rp. 8.000 per kg. Kondisi ini membuat peternak mengalami kesulitan dalam usaha. Keuntungan yang diperoleh hanya Rp. 500 per kg (? 7% dari harga jual) sehingga tidak dapat menutupi bunga bank, gaji pegawai dan biaya lain serta usaha pengembangan lebih lanjut. Pada tahun 2008 harga ikan patin berkisar antara Rp. 8.000 - Rp. 9.000 per kg sedangkan biaya produksi Rp. 8.000/kg. Kondisi ini membuat pembudidaya ikan patin hanya dapat bertahan dan sulit bagi pembudidaya ikan patin untuk mengadakan perluasan dan pengembangan usaha. Saat ini permintaan ikan patin di kota Palembang mencapai 20 s/d 22 ton  per hari. Diperkirakan permintaan ikan patin di kota Palembang dan sekitarnya mencapai 8.000-9.000 ton per tahun. Harga ikan patin dari tahun ke tahun mengalami kenaikan, pada tahun 2008 mencapai Rp. 8.000 - 9000/kg.
4. Karyawan Perangin-angin (Pelaku usaha perwakilan CV. Vedca Fish Farm, Cianjur) :
Vedca Fish Farm adalah supplier fillet ikan patin ke perusahaan pengolahan makanan. Filet ikan patin tersebut diolah menjadi Bakso, Sosis & Nugget ikan. Saat ini permintaan filet ikan patin  sebanyak 10.000 kg/ bulan, atau setara dengan 24.000 kg ikan patin segar dan setiap tahun mengalami peningkatan. Sedangkan fillet ikan patin yang dapat dipenuhi Vedca fish farm sebanyak 4.000 kg/bulan sehingga permintaan filet ikan patin dari beberapa perusahaan retail, hotel, katering  dan restoran tidak dapat dipenuhi. Meningkatnya permintaan filet ikan patin salah satunya disebabkan semakin beragammnya variasi makanan atau masakan dengan bahan baku ikan patin.
5. Abdul Gani (Kepala UPP Perikanan Air Tawar Kawasan Tangkit Baru Muaro Jambi ) :
Kabupaten Muaro Jambi telah terbentuk satu wadah pembudidaya ikan yang disebut Unit Pelayanan Pengembangan (UPP) khusus perikanan dengan nama UPP Sailum Selimba. Sentra produksi ikan patin Kab Muaro Jambi terdapat dibeberapa kawasan seperti, Kawasan Pematang Jering, Mendalo Laut serta Sekeman, sedangkan kawasan Pudak dan kawasan Tangkit Baru Kabupaten Tangkit Baru memiliki lahan potensial untuk perikanan dengan sistem perkolaman dengan luas mencapai 180 Ha. Diperkirakan di lahan ini dapat dibuat 3.700 unit kolam dengan kebutuhan bibit pertahun 16.280.000 ekor serta kebutuhan pakan 16.724.000 Kg dengan tingkat produksi sekitar 34.365 KgIhari (untuk satu unit kolam membutuhkan lahan 460 - 500 M2). Kolam yang dimiliki sekarang ini sebanyak 2.200 unit dengan kapasitas tebar rata-rata 2.200 -3.000 ekor per unit atau baru sekitar 110 Ha atau 60 % dari Iahan tersedia. Dari 2.200 unit kolam ini berdiri 21 unit Pokdakan dengan jumlah anggotanya 583 orang, dengan tingkat Potensi produksi 10.433 Kg/permalam. Kebutuhan bibit selama satu tahun mencapai 9.680.000 ekor ukuran 3,5 - 4 inci, atau setiap hari 26.520 ekor sedangkan kebutuhan pakan setahun mencapai 27.244 kgIhari. Kebutuhan yang diuraikan diatas adalah sesuai pengalaman, apa bila bibit unggul ukuran 3,5 - 4 inci maka dapat dipanen 2 kali setahun. Produksi dari 2.200 Unit kolam baru dicapai 5 s/d 7 ton setiap kolam atau baru 30 % dari potensi 20.433 Kg/Hari. Hal ini terjadi karena disesuaikan kebutuhan pasar dan kekurangan modal kerja bagi pembudidaya ikan itu sendiri.
6. PHRI Jambi :
Ikan patin merupakan salah satu jenis hidangan unggulan di unit usaha hotel dan restauran yang dijual untuk tamu. Salah satu keunggulan ikan patin diantaranya harga dapat bersaing, kualitas bahan terjaga karena pusat pemasok lokal terjangkau dan kontinyuitas bahan baku dapat terjaga. Sedangkan kelemahan ikan patin tekstur daging lembut sehingga tidak semua hidangan dapat mengunakannya. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kartika Catering dan DAS Catering bahwa pelaku bisnis catering telah memasukan hidangan dari ikan patin sebagai bahan pembuatan main course dari menu paket yang mereka tawarkan.  Permintaan   ikan patin saat  ini   dari  hotel   dan  restoran  mengalami   peningkatan   hal  tersebut    dapat   dilihat  dari   kebutuhan   hotel   rata-rata    80    Kg/bulan  dengan keanggotaan Hotel yang terdata sebanyak 7 hotel berbintang yang mencapai 560 kg/bln. Sedangkan kebutuhan restaurant rata-rata perhari 3,5 kg dengan asumsi restaurant dengan hidangan patin sebanyak 10 restauran diperkirakan mencapai 35 kg/hari.
7. PT. Karya Jaya Utama :
Untuk memenuhi kebutuhan ikan patin atau Dory Fish?s pasar dalam negeri, PT. Karya Jaya Utama mengimport ikan patin dari Vietnam. Produk fillet ikan patin dari vietnam memiliki banyak keunggulan dibandingkan produk filet patin dalam negeri baik segi kualitas, keseragaman ukuran dan dilengkapi dengan health certificate. Saat ini segmen pasat produk ikan patin PT. Karya Jaya UTama lebih difokuskan ke konsumen menengah ke atas. PT. Karya Jaya Utama membuka peluang masuknya filet ikan lokal setelah ditandatangani MoU Kerjasama Budidaya, Pasokan dan Pemasaran Ikan Patin antara Unit Pelayanan Pengembangan (UPP) Peikanan, Kabupaten Muaro Jambi, PT. Sumber Laut Utama, Jambi dan PT. Karya Jaya Utama, Jakarta.

8. PT. Sumber Laut Utama :

Sebagai tindak lanjut MoU Kerjasama Budidaya, Pasokan dan Pemasaran Ikan Patin antara Unit Pelayanan Pengembangan (UPP) Perikanan, Kabupaten Muaro Jambi, PT. Sumber Laut Utama, Jambi dan PT. Karya Jaya Utama, Jakarta. Rencananya ke depan menampung produksi ikan patin dari pembudidaya tambak dan keramba jaring apung di bawah dalam kondisi hidup. Nantinya ikan patin dibuat sesuai dengan permintaan PT. karya jaya utama baik berupa fillet ikan maupun ikan beku.